Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

KENAPA BIMÅ TERPILIH UNTUK BERTEMU DÉWÅRUCI?

 

 

K

ATA “YANG TERPILIH” (Inggris: the chosen one, Kawi: wara), baik dalam dunia gnostik (mistik) Barat maupun Timur, mengandung pengertian “pasti” atau bahkan “mutlak” akan terjadi. Halangan dan rintangan apa pun menghadang, manusia yang dituju itu akan tetap terpilih, seakan-akan merupakan lanjutan dari kekuatan absolut kun fayakun (jadi, maka jadilah) bahwa takdir mau tak mau harus tersurat.

Dalam sejarah kebudayaan Jåwå, Bimå tak hanya muncul sebagai tokoh dalam karya sastra, melainkan juga dalam bentuk arca, relief, “boneka”[1] wayang, dan gambar wayang.[2] Ada pula prasasti yang menyebutkan namanya. Bahkan, ada galaksi yang dinamai Bimå Sakti. Ia dikenal dalam kurun waktu yang cukup panjang, sejak abad ke-10 melalui Prasasti Wukajana 908 M, yang dibuat atas perintah Dyah Balitung (k. 899-911 M), raja Mataram Hindu,[3] hingga sekarang.

Para ahli juga menjadikan Bimå pokok bahasan, mulai dari H. Kern dan W.H. Rassers[4], W.F. Stutterheim[5], Prijohoetomo[6], R.M.Ng. Poerbåtjaråkå[7], Heidi Hinzler, Hariani Santiko[8], dan Woro Aryandini Sumaryoto, yang dari disertasinya tulisan ini dikembangkan.[9] Bimå itu salah satu tokoh kreasi seni yang sejak dimunculkan dalam alam budaya orang Jåwå punya daya bertahan sepanjang pergantian zaman selama sepuluh abad. Citranya dibentuk oleh penggambaran mengenai watak dan tabiat, peran, serta ciri fisiknya.[10]

Bimå merupakan simbol kepahlawanan, kejantanan, pencarian hakikat hidup, dan kesuburan. Ini diungkapkan dalam bentuk badan, bagian tubuh yang khas, phallus, tindakan, cara berbicara dan bahasa, senjata, serta kain polèng yang dipakainya. Kain ini pun simbol nafsu, konsep sedulur, kesatuan manusia dan Tuhan, dan tingkatan tahapan tarekat Islam.[11]

“Pemindahan” konsep tentang Bimå dari alam India ke Tanah Jåwå mungkin dimulai sejak awal masuknya orang Tanah Hindustan ke Negeri Jawawut, entah itu Sang Hyang Jagatnåtå yang mendirikan Medhang Kamulan, ataukah Ajiçåkå yang justru mengalahkan raja raksasa Déwåtåcengkar menjelang tahun 1 Çaka atau 78 Masehi.[12]

Yang pasti, di India, Bimå merupakan salah satu tokoh dalam epos Måhåbharåtå atau Astå Dåså Parwå yang konon ditulis oleh Resi Wiyåså yang lahir sebagai putra Begawan Påråsårå[13] dan Dèwi Satyåwati atau Sayojånågandhi pada kira-kira 3.000 SM. Khusus mengenai percakapan Sri Kresnå-Arjunå dalam perang Bharåtåyudå, ia menulis Bhagawad Gitå, yang disarikan oleh muridnya, Begawan Wararuci, menjadi kitab Sarasamuscaya.[14]

Dari 18 parwå dalam Måhåbharåtå[15], Bimå paling tidak disorot dalam empat parwå: Wiråtåparwå[16], Adiparwå[17], Udyogåparwå[18], dan Prasthånikåparwå[19]. Kisah Bimå membekuk Patih Kicåkå yang merupakan bagian dari Wiråtåparwå ini, yang saat itu telah menjadi lakon wayang Bhimmaya Kumara[20], tercatat dalam Prasasti Wukajana yang berangka tahun 908 M dalam kalimat “… si galigi mawayang buat hyang macarita bimma ya kumara,” [21] yang berarti “Si Galigi mempergelarkan wayang buat Hyang dengan cerita Bhimmaya Kumara.”[22]

Atas perintah Raja Darmåwångså (k. 991–1016 M), keempat parwå itu disadur. Dalam Wiråtåparwå, Adiparwå, dan Udyogåparwå, Bimå digambarkan sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyat, sedangkan dalam Prasthånikåparwå, ia dilukiskan sebagai tokoh yang mencari tahu soal kematian. Masih dari zaman itu, di pemandian Jålåtundå, ada relief Bimå sedang berperang dalam episode Swayamvara Draupadi dari Adiparwå.[23]

Sebelumnya, pada tahun 854 Çaka (932 M), Mpu Widhåyåkå[24] dari Mamenang menulis kitab Déwåruci[25] yang berisi kisah Haryå Werkudårå –nama Bimå dalam pewayangan Jåwå– berguru kepada Dang Hyang Durnå.[26]

Seraya menyamakan Mpu Sindok atau Maharaja Isyanawikrama dengan Prabu Jåyåbåyå, tokoh Kejawèn Drs. Warsito S. menulis bahwa di dalam Serat Déwåruci dari zaman Mamenang ini, “dikisahkan Bimå (Sénå), setelah melampaui empat taraf samadhi, manunggal dengan Déwåruci di alam Trilokå (Jånålokå, Gurulokå, dan Indrålokå).”[27]

Pada tahun 1157 M, dibuat Kakawin Bharåtåyuddhå[28], yang di antaranya memuji Raja Jåyåbåyå (k. 1135–1157 M) dari Mamenang, Ked(h)iri. Di dalamnya, citra Bimå tetap menonjol sebagai pahlawan perang. Ini didukung relief pada candi Jago yang dibuat pada abad ke-13[29] dan diambil dari Parthayajna[30]. Bimå dan keempat saudaranya digambarkan memuja Bhairåwå[31]. Pupuh XXIII.7.8. Kakawin Bharåtåyuddhå menyebutkan, “ndah akom rikang rudhira dhira ri turuna bhatara Bherawa. paritushta budhinira Pandhutanaya sahajan pangastawa…”[32] {Mereka itu (Pandhåwå) berjongkok dalam darah untuk menunggu turunnya Déwå Bhairåwå dengan hati yang teguh. Sangat puas hatinya, karena orang Pandhåwå, anak Pandhu, dengan sengaja mengadakan pemujaan kepadanya.}[33]

Pada zaman Singåsari, pemujaan ini digambarkan dalam tiga relief, sedangkan pada zaman Måjåpahit, dibuktikan dengan tiga prasasti: Bendosari, Sekar, dan Sukamrta, yang menyebutkan beberapa pejabat mengikuti aliran ini.[34] Pada abad ke-20, ada lakon wayang Bimå Biråwå.

Pada abad ke-15, kisah Déwåruci ditulis dalam bentuk tembang gedhé dengan menggunakan bahasa Jåwå tengahan.[35] Isinya tidak terlalu panjang, diawali dengan kepergian Bimå ke laut dan diakhiri dengan wejangan Déwåruci tentang usaha mencapai kesempurnaan hidup.

 

 

(1)       Mengejawantah pada Era Peralihan

 

P

ADA ZAMAN Måjåpahit akhir, Mpu Çiwåmurti –yang meski menyebut diri “empu dusun”, sebenarnya berasal dari lingkungan keraton Måjåpahit dan hidup pada awal  abad ke-16 M[36]– membuat Nåwåruci, yang disebut juga Sang Hyang Tattwåjnånå, yang dapat diartikan sebagai kitab tentang hakikat hidup[37], dengan bahasa Jåwå tengahan. Bimå digambarkan sebagai peruwat yang mencari air yang menyucikan. Ramuan di dalamnya berasal dari Adiparwå (pencarian amertå, ruwat), Wånåparwå (pengalaman Markandéyå dalam perut Wiçnu), Prasthånikåparwå, Arjunåwiwåhå[38] (bidadari penggoda), Upanisad (pertemuan manusia dengan jiwa individu), serta cerita Gilgamesh semacam Baron Sakender (tentang pencarian air yang menyucikan).[39]

Berikut ini kisah Markandéyå dalam Måhåbharåtå: Ia mengarungi samudra, menemukan pohon bercabang rindang. Di situ, ada anak kecil. Untuk melihat isi alam semesta, anak itu menyuruh Markandéyå masuk tubuhnya. Anak itu tidak lain dari Nåråyånå, penjelmaan Déwå Wiçnu.[40]

Beredarnya Nåwåruci di Jåwå bersamaan dengan masa awal perkembangan Islam, saat mistik Islam mulai dikenal masyarakat dan memengaruhi lakon wayang yang sangat digemari orang Jåwå.[41] Nåwåruci terdiri atas lima episode:

 

  • Bimå itu murid pendeta Durnå yang minta Bimå mencarikannya air hidup. Menurut gurunya, air itu ada di Sendhang (Telaga) Dorånggå. Ternyata, di situ ada dua naga raksasa. Bertempur sengit, Bimå menang. Naga itu bentuk hukuman dari bidadari Suråsembådå dan Harsånadi.
  • Menurut dua bidadari tersebut, air itu ada di wilayah Andådåwå. Bimå bertemu raksasa Indråbahu. Keduanya berkelahi. Indråbahu kalah, kembali menjadi Déwå Indrå, yang menyatakan air itu ada di Lawånå Udadhi, yang secara harfiah bermakna “laut asin”.
  • Bimå minta izin dulu kepada ibu, kakak, dan ketiga adiknya. Saat menyelam, Bimå bertemu Nåwåruci, yang membawanya ke pulau dan memberinya wejangan berbagai ilmu. Bimå berganti nama menjadi Begawan Awiråtå.
  • Dilindungi Nåwåruci dan dikawal naga Råjå Panullah, Bimå mengambil air hidup di Çiwå Murti. Air hidup pun dipersembahkan kepada Durnå, yang malahan menganggapnya palsu. Nåwåruci marah dan menceburkan Durnå ke samudra.
  • Dengan berganti nama menjadi Angkusprånå, Bimå bertapa dan lulus dari segala godaan Bathårå Guru. Setelah itu, Bimå menjadi lebih perkasa dan berwibawa sejati.[42]

 

Pada abad ke-13 hingga ke-16 (Måjåpahit akhir), ada banyak arca dan relief Bimå bercawat motif polèng[43]. Dari 22 arca berangka tahun, 12 di antaranya Bimå dengan phallus terbuka, sedangkan yang tak berangka tahun 19 arca. Dari abad ke-10 hingga ke-16, ada 10 relief Bimå, enam di antaranya dengan phallus terbuka. Ini berarti pemujaan lingga. Ini diperkuat oleh Prasasti Nglawang pada arca Bimå yang mengandung kata lingga serta Prasasti Samirono dan Palemaran yang bergambar lingga, yang berkaitan dengan kultus kesuburan.[44]

Di candi Tégåwangi[45], yang dibuat pada abad ke-14, ada relief Bimå dijemput untuk melawan raksasa Kålåntåkå dan Kålånjåyå, yang diruwatnya dan kembali menjadi bidadara. Cerita ini ada pada kitab ruwat Sudåmålå.[46]

Di candi Sukuh, yang dibuat pada tahun 1445 M, terdapat relief Bimå berdialog dengan Bathårå Guru, yang diduga merupakan episode Bimåståwå atau Bimåswargå, saat Bimå menuntut agar Pandhu dinaikkan ke surga setelah meruwatnya dengan memasukkannya ke dalam neraka. Juga ada Bimå meruwat raksasa Kålåntåkå.[47]

Bimå bercawat polèng juga ada dalam cerita Bimå Bungkus, sehingga lakon ini diperkirakan sezaman dengan relief candi Sukuh, karena ikut tergambar di sana.[48] Pada tahun 1936, Tjan Tju An di Suråkartå menggubahnya menjadi Serat Bimå Bungkus.[49]

Pada zaman Demak, Sunan Kalijågå menciptakan dua adikarya ruhaniyah, Serat Déwåruci dan Suluk Linglung. Isinya tak jauh berbeda. Yang pertama ditulis dalam usia muda, yang kedua dalam usia lanjut. Tidak mustahil Radèn Mas Sahid menulis Serat Déwåruci setelah membaca Déwåruci karya Mpu Widhåyåkå, Manthiq Ath-Thair (percakapan burung) karya penyair sufi Farid al-Din ‘Aththår[50] (w. 1229), serta menerima pengaruh Syamsi Tabriz[51] (h. 1147–1247) dan muridnya, Jalal al-Din Rumi[52] (h. 1207–1273).[53]

Menurut Serat Déwåruci Sunan Kalijågå, Bimå mencari air suci perwitå sari kayugung susuhing angin (kayu besar sarang nafsu) yang harus dipersembahkan kepada Durnå alih-alih dari wejangan ngèlmu jatining jejering Pangéran (ilmu sejati tentang dzat Tuhan). Bimå digambarkan sebagai salik, ahli suluk atau tarekat, yang sedang dalam perjalanan mencapai makrifat, yang menghadapi godaan batin yang berasal dari dalam diri sendiri.[54] Kisah versi ini menarik, khususnya wejangan Sang Hyang Wenang kepada Haryå Werkudårå.[55]

Pada zaman Suråkartå awal, pujangga keraton Yåsådipurå I menyadur Kakawin Bharåtåyuddhå menjadi Serat Bråtåjudå[56]. Karena latar belakang masyarakat Jåwå yang sudah Islam, ia menghilangkan pemujaan Bhairåwå, tetapi tidak tentang tawur (qurban, persembahan) dan tumbal. Ia juga menggubah Serat Déwårutji Djarwå Sekar Måtjåpat[57] yang berinduk pada Serat Déwåruci.[58]

Bila dalam Nåwåruci, para dewa menyembah Bimå yang di atasnya ada Sang Hyang Acintyå[59], dalam Serat Déwåruci, dikatakan panenggak Pandhåwå itu memakai cawat polèng, yang masing-masing warnanya melambangkan nafsu manusia dan pengendaliannya merupakan usaha menuju pamoring kawulå-Gusti (persatuan manusia dengan Tuhannya), istilah yang sering digunakan dalam suluk, karya sastra Islam Kejawèn.[60]

Perkembangan ini terjadi, karena masuknya Islam yang sufistik ke Indonesia, penerapan budaya pesisir oleh keraton Mataram, dan kemiripan tradisi mistik Hindu-Buddha dengan sufi, sehingga mempermudah kalangan istana yang sudah menganut Islam untuk menyerap dan mengolahnya.[61] Yang unik, meski lakon wayang yang berkaitan dengan Bimå berkembang pesat pada masa Suråkartå awal, Suråkartå, dan Yogyåkartå pasca-Giyanti, tidak ada yang menciptakan boneka Bimå dalam bentuk pendeta.[62]

Serat Déwåruci digemari masyarakat, sehingga disadur menjadi beragam karya sastra: Bimå Suci dan Bagawan Sénårodrå, bahkan menjadi ilham: Gunåcårå Agåmå atau Gunådåyå Agåmå, Bimå Pakså, Serat Bimå Bungkus, wejangan Sèh Magribi kepada Sèh Malåyå dalam Babad Tanah Jawi, wejangan Nabi Kilir kepada Sèh Malåyå dalam Walisånå dan Suluk Sèh Malåyå, wejangan Sang Siput kepada Sang Kancil dalam Kancil Amongpråjå dan Kancil Kridhåmartånå, wejangan Resi Wiyåså kepada anak lumpuh Ilyå dalam Puståkåråjå Måhåpåtrå dan kitab Ciptågugah, serta pembicaraan antara burung puyuh, perkutut, dan pelatuk bawang sebagai episode dalam Serat Déwåruci yang dibuat pada tahun 1827 Jåwå (1897 M).[63]

Malahan, pembajakan naskah rupanya sudah sejak dahulu, dilakukan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, di antaranya Ngabèhi Kråmåpawirå menerbitkan Déwåruci dalam tembang måcåpat pada tahun 1870, 1873, dan 1880, serta Mas Ngabèhi Mangunwijåyå menerbitkannya tanpa mencantumkan nama pengarangnya pada tahun 1922.[64]

 

 

(2)       Dari Warna ke Beragam Konsep

 

P

ENERJEMAHAN WARNA yang mula-mula dilihat Bimå dalam perut Nåwåruci, menurut Dr. Woro Aryandini Sumaryoto, berkembang menjadi berbagai macam konsep:

 

1. Konsep sedulur:

a. Sedulur Papat: Waktu akan keluar dari bungkus dalam Serat Bimå Bungkus, Bimå diberi teman oleh Dèwi Umå berupa empat warna yang dilihat dalam Nåwåruci yang dalam bentuk benda merupakan empat benda yang ikut keluar saat bayi dilahirkan: kakang kawah (air ketuban), adhi ari-ari (plasenta), darah, dan tali pusar.[65]

b. Sedulur Tunggal Bayu: Sesuai dengan warna yang dilihatnya dalam perut Nåwåruci, Bimå yang bewarna hitam juga punya empat saudara sesama anak Déwå Bayu: putih Kapi Anoman, merah Wil Gajahwrekå, hijau gajah Lakubåndå, dan kuning Gunung Maénåkå.[66]

2. Konsep hubungan manusia dengan Tuhan: Menurut Serat Déwåruci dan Bimå Suci, hitam, merah, serta kuning itu penghalang dan hanya putihlah yang dapat mencapai pamoring kawulå-Gusti.[67]

3. Konsep tentang nafsu manusia: Menurut Serat Déwåruci, hitam melambangkan kemarahan, merah itu angkara murka, kuning itu penghalang, dan putih itu keberanian. Menurut Bimå Suci Wirid[68], hitam menyimbolkan perlawanan, merah itu kemarahan, kuning itu kenikmatan, dan putih itu keutamaan. Menurut Serat Hidayat[69], hitam menandakan nafsu lauwamah seperti nafsu hewani, merah itu nafsu amarah seperti sifat raksasa, kuning itu nafsu sufiyah seperti sifat burung, dan putih melambangkan nafsu muthmainah seperti sifat air.

4. Konsep tentang tingkat tarekat Islam: Kitab Bagawan Sénårodrå menghubungkan empat warna itu dengan saréngat, tarékat, hakékat, dan makrifat.[70]

 

Bandingkan dengan versi Serat Dewåruci Sunan Kalijågåberikut: [71]

 1. nafsu lawwamah ditokohkan menjadi Begawan Maénåkå yang melambangkan Bayu Langgeng berwatak hitam, warna empedu yang dianggap sebagai simbol menggelapkan batin dan pikir,

2. nafsu sufiyah dipersonkan menjadi Gajah Satubåndå atau Bayu Kanitrå berwatak kuning sebagai lambang tendensi salik (ahli tarekat) menjadi lemah dan mudah lupa,

3. nafsu amarah dimaujudkan dalam raksasa Jåyåwrekså atau Bayu Anras berwatak merah, tanda kecenderungan merusak, membakar hati dan pikir,

4. nafsu muthmainnah diwujudkan sebagai Resi Hanoman atau Bayu Kinårå berwatak putih, bersifat membimbing, menyucikan, dan menuntun,

5. nafsu mulhimah ialah Bimå sendiri yang disebut Bayu Mangkurat, jagat kecil yang berisi empat unsur nafsu.

Empat sifat pertama juga digambarkan dalam empat kuda yang menarik kereta perang Arjunå dalam Bharåtåyudå yang disaisi oleh Kresnå, padahal menurut Bhagawad Gitå versi asli, kuda itu hanya tiga yang melambangkan sifat: sattwa (kebaikan), rajas (gerak atau nafsu), dan tamas (kegelapan).[72] Keempat kuda merupakan penggambaran watak manusia:

  •  lauwamah terjadi dari anasir tanah yang bertempat di daging manusia, berwatak malas, tamak, jahat, tetapi bila ditundukkan, menjadi dasar kekuatan,
  • sufiyah dari air yang me-wadag (fisik) di sumsum tulang, berwatak berupa keinginan, hasrat, asmara, dan keasyikan,
  • amarah dari api dan berada dalam darah, berwatak keras hati, kasar, pemarah, mata gelap, bila dapat dikuasai, merupakan daya dorong untuk mencapai tujuan,
  • muthmainnah dari suasana yang bertempat di pernafasan, berwatak tenang, suci, bakti, belas kasih, dan kasih sayang.

Sifat lauwamah dan amarah sama dengan tamas, sufiah itu rajas, sedangkan muthmainah itu sattwa. Keempat sifat itu saling berkaitan, sokong-menyokong, bila terkuasai, akan mengarahkan ke keberhasilan dalam mengarungi kehidupan. Lauwamah itu nafsu angkara murka, amarah itu nafsu lekas marah, sufiah itu nafsu birahi, muthmainah itu kemurnian atau kejujuran, sedangkan mulhimah merupakan pusat yang memberikan arah.[73]

Wow, lihatlah betapa sinkretik sifat ngèlmu yang satu ini. Dan bila sudah digabungkan dengan sifat tanah, air, api, dan udara, itu berarti mistikisme atau filsafat Cinå juga sudah masuk ke dalamnya. {Tentang ini, insya-Ållåh, saya akan membahasnya tersendiri dalam rangkaian tulisan tentang Pat-kwa atau Pakua Cinå (The Chinese Pakua)}.

Padahal, kalau kita merunut sejarah perjalanan filsafat atau tasawuf serta tarekat Islam, kita akan mendapati bahwa kelima nafsu itu merupakan bagian dari apa yang disebut ajaran tentang Martabat Tujuh. Dalam tarekat Khalwatiyah, misalnya, Syaikh ‘Abd al-Samad al-Palimbani (1112–…. H/1700–1824 M) telah diajar oleh gurunya, Syaikh Muhammad al-Saman, tujuh macam dzikir untuk masing-masing tingkatan nafsu:

 

  1. Al-Nafs al-Ammaråh: la ilaha illål-Låh.
  2. Al-Nafs al-Lawwamah: Ållåh, Ållåh.
  3. Al-Nafs al-Mulhamah: Hu, Hu.
  4. Al-Nafs al-Muthma’innah: Haqq, Haqq.
  5. Al-Nafs al-Radliyah: Hay, Hay.
  6. Al-Nafs al-Mardliyyah: Qayyum, Qayyum.
  7. Al-Nafs al-Kamilah: Qåhhar, Qåhhar.[74]

 

Dari mana asal-usul Martabat Tujuh ini juga memerlukan penelitian dan penjejakan yang panjang untuk mengetahuinya. Dr. Abdul Hadi W.M., misalnya, membantah bahwa Martabat Tujuh dianjurkan baik oleh Syèkh Hamzah Fansuri maupun oleh wali Tanah Jåwå seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijågå.[75]

Saat menyatakan ajaran Martabat Tujuh baru berkembang pada awal abad ke-17, Abdul Hadi menyebut murid Fansuri, Syèkh Syams al-Din Pasai, sebagai penganjurnya yang pertama. Namun, ia menulis pula, “Memang ajaran Martabat Tujuh termasuk ajaran Wujudiyah, namun telah menempuh perkembangan agak lain dan ke dalamnya telah masuk pengaruh India, seperti praktik yoga (tepatnya yoga pranayama atau pengaturan nafas) di dalam amalan dzikirnya, … hal yang dikritik oleh Syèkh Hamzah Fansuri,” tulisnya pula.[76]

“Maklum, pengasas pertama ajaran Martabat Tujuh ialah Muhammad Fadlullåh al-Burhanpuri (wafat 1620), yang berasal dari India dan ketika ajaran ini diasaskan, berbagai gerakan sinkretis keagamaan dan mistik telah berkembang di India, khususnya pada zaman Sultan Akbar dan Dara Sukoh,” demikian Abdul Hadi.

Ketika membicarakan pandangan Zoroaster tentang jiwa yang sangat sederhana, filsuf modern Dr. Sir. Muhammad Iqbal menulis, dalam kancah perjuangan di bumi melawan kejahatan, jiwa dianugerahi oleh ruh Terang lima fakultas:

 

  1. Kesadaran.[77]
  2. Tenaga Vital.
  3. Jiwa –Rasa Hati.
  4. Ruh –Akal Sehat.
  5. Farawasyi –ruh pelindung yang menjaga manusia dalam perjalanannya menuju Tuhan.[78]

 

Iqbal menambahkan, sesudah mati, fakultas 3, 4, dan 5 bergabung dan membentuk satu keseluruhan yang tak dapat dipecah-pecah. Jiwa yang saleh, yang meninggalkan rumahnya, yaitu daging, dinaikkan ke wilayah yang lebih tinggi dan harus melewati bidang eksistensi:

 

  1. Tempat pikiran yang baik,
  2. Tempat perkataan yang baik,
  3. Tempat pekerjaan yang baik, dan
  4. Tempat Mulia Abadi, yang di dalamnya jiwa individu bersatu dengan prinsip Terang tanpa kehilangan personalitasnya.[79]

 

Menurut Iqbal, kosmologi Sufi punya doktrin yang serupa mengenai berbagai tahap eksistensi yang harus dilalui jiwa dalam perjalanannya menuju langit. Mereka menyebutnya Lima Padang Perjalanan; tetapi definisinya tentang watak masing-masing padang sedikit berbeda:

 

  1. Dunia Jasmani (Nasut),
  2. Dunia Intelijensi Murni (Malakut),
  3. Dunia Kekuatan (Jabarut),
  4. Dunia Negasi (Lahut), dan
  5. Dunia Ketenangan Absolut (Hahut).[80]

 

“Barang kali kaum Sufi meminjam ide ini dari kaum Yogi India yang mengenal tujuh padang berikut ini,” tulis Dr. Sir Muhammad Iqbal pula:

 

  1. Padang Tubuh Fisik,
  2. Padang Eter Ganda,
  3. Padang Vitalitas,
  4. Padang Alam Emosional,
  5. Padang Pikiran,
  6. Padang Jiwa Ruh, yaitu Akal Pikiran, dan
  7. Padang Ruh Sejati.[81]

 

Sampai di sini, saya kian memahami teori “karwåpeté-lesmbådhongé” yang diajarkan ayah saya, Sutjiptå Masjhoedi Mangoenhadikoesoemå (h. 1921–1993). Dua kata yang merupakan akronim dari cikar dåwå tipeté (harfiah: jejak pedati itu panjang) dan tales åmbå godhongé (harfiah: daun talas itu lebar) ini bermakna bahwa ajaran yang diturunkan secara berantai dari negeri yang satu ke negeri yang lain oleh pengajar yang satu ke pelajar yang kemudian menjadi pengajar yang lain, selain berefek domino, pasti akan tertambahi muatan lokal dan pendapat pribadi.

Dengan kata lain, Anda bisa bayangkan apa yang terjadi pada ajaran Islam, yang untuk sampai ke Tanah Jåwå harus melalui Persia, Rum-Asia atau Turki, India, Cempå –yang nota béné bekas jajahan Cinå, lalu masuk Pasai atau Sambas, dan barulah sampai ke Demak, Pajang atawa Suråkartå, lalu Mataram alias Yogyåkartå melalui Gresik, Tuban, atau Rembang. Bandingkan dengan ajaran Hindu yang langsung dibawa sendiri oleh orang Pallawa, Ajiçåkå, ke Tanah Jåwå, atau Buddha yang dibawa langsung ke Çriwijaya alias Palembang.

Yang pasti, Bimå begitu populer sepanjang zaman, sehingga begitu banyak pemikir menggunakannya sebagai wahana (wadhah) untuk mengemukakan gagasannya (isi), terutama yang berkaitan dengan tema pencarian jati diri… sebagai bekal pulang ke haribaan Tuhannya, yang dalam ngèlmu Kejawèn lebih akrab dengan istilah sangkan-paraning dumadi.

Sanggar Jangka Langit, Bekasi Jaya, Sabtu 8 Januari 2005.10.15 WIB.

 

(Ki Slamet No One)


[1]       Istilah “boneka” wayang (Inggris: puppet) tak hanya menunjuk pada wayang golèk, melainkan juga wayang kulit, dan wayang krucil yang terbuat dari kayu pipih –Ki SNO.

[2]       Woro Aryandini (W.A.) Sumaryoto, Citra Bimå dalam Karya Sastrå Jåwå: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, ringkasan disertasi, Program PascaSarjana Universitas Indonesia, Depok, Jåwå Barat, Sabtu 28 Maret 1998, halaman 1. Dia menggunakan, dari 577 sumber data tertulis yang ada, satu prasasti dan 21 cerita/lakon wayang, serta 41 arca, 10 relief, empat boneka wayang, dan tiga gambar wayang sebagai sumber data visual. Sandaran yang digunakannya ialah teori tentang simbol, baik sebagai gejala, perwujudan eksternal konsep yang adalah perekaman pengalaman menjadi pengetahuan, maupun sebagai persetujuan bersama. Dalam hal ini, dia mengutip:

  • L.A. White, The Symbol: The Origin and Basis of Human Behavior, 1969, dalam Paul Bohannan dan Mark Glazer (ed.), High Points in Anthropology, Alfred A Knopf, 1973, halaman 334–337,
  • E.K.M. Masinambow, Semiotik sebagai Pemahaman Kebudayaan, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1990, halaman 1–2, dan
  • V. Turner, The Forest of Symbols, Cornell Paperbacks, Cornell University Press, Ithaca dan London, 1982, halaman 19.

[3]       W.A. Sumaryoto, Citra Bimå dalam Karya Sastrå Jåwå: Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan, press release, Program PascaSarjana Universitas Indonesia, Depok, Jåwå Barat, Sabtu 28 Maret 1998, halaman 2.

[4]       Johan Hendrik Caspar (J.H.C.) Kern dan W.H. Rassers, Çiwå dan Buddhå: Dua karangan tentang Çiwaisme dan Buddhisme di Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1982, yang merupakan paduan dari karya J.H.C. Kern (h. 6 April 1833–4 Juli 1917), Over de vermenging van Çivaisme en Buddhisme op Java, naar aanleiding van het Oudjavaansch gedicht Sutasoma (Tentang Percampuran Çivaisme dan Buddhisme di Jåwå sehubungan dengan Syair Jåwå kunå Sutåsomå) dan W.H. Rassers, Siwa en Boeddha in den Indischen Archipel. Lihat Sujamto, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, Semarang, cetakan ketiga, 1997, halaman 14–15.

[5]       Di antara karyanya Cultuurgeschiedenis van Indonesie II, Het Hinduisme in de Archipel, 3e, druk, J.B. Walters, Jakarta, Groningen, 1952.

[6]       M. Prijohoetomo, Javaansch Leesboek Vier Verhalen Uit de Oudere Javaansche Letterkunde, Amsterdam, 1937. Mungkin lebih tepat Prijohoetomo, Nåwåruci, disertasi, Groningen, 1934.

[7]       R.M.Ng. Poerbåtjaråkå dan Tardjan Hadidjåjå, Kepustakaan Djåwå, Djambatan, Djakarta, 1952 (tepatnya: 1957). Yang tahun 1952 itu Kapustakan Djawi: Dipun-terangaken Dening Pro. Dr. R.M.Ng. Poerbåtjaråkå, Dhambatan Djakarta, cetakan pertama. Cetakan keduanya 1953, ketiganya 1957, dan keempatnya 1964.

[8]       Disertasinya, Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi, dipertahankan di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, pada hari Sabtu 7 Februari 1987.

[9]       Prof. Dr. Edi Sedyawati Hadimulyå dalam pidato singkat sebagai promotor Woro. Lihat catatan kaki 1.

[10]     Ibid.

[11]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 2.

[12]     Prof. Dr. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cetakan pertama, September 2004, halaman 12–20.

[13]     Begawan Pålåsårå, Serat Jitapsårå, nukilan dari Puståkå Daryå. Lihat Otto Sukatno Cr. (penerjemah), Paramayoga Ronggowarsito: Mitos Asal-Usul Manusia Jawa, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, cetakan pertama, Oktober 2001, halaman 1.

[14]     Ida Padanda Made Kamenuh, Kerangka Agama Hindu, Parisada Hindu Dharma Pusat, Singaraja, 17 Juli 1964, halaman 9–10.

[15]     Kitab karya Wiyåså Kresnådipåyånå ini diterjemahkan ke bahasa Kawi pada masa pemerintahan Dharmåwångså Teguh (k. 991–1016 M). Ada pendapat kitab yang terdiri atas 100.000 seloka ini merupakan kumpulan cerita kehidupan sejak zaman Brahmånå dari 400 SM hingga 400 M. S. Haryanto, Pratiwimbå Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1988, halaman 230, dengan mengutip Drs. R. Sukmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1973.

[16]     Bagian keempat Måhåbharåtå ini digubah menjadi prosa bahasa Jåwå kuno pada tahun 996 M pada masa Dharmåwångså Teguh. Kitab ini dilatinkan oleh Dr. Juynboll dan disertai keterangan dalam bahasa Belanda oleh Dr. A.A. Fokker. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 194 dan 232, dengan mengutip Prof. Dr. R.M.Ng Purbåtjaråkå, Kapustakan Jawi, Djambatan, Jakarta, 1952.

[17]     Bagian pertama Måhåbharåtå ini digubah menjadi prosa bahasa Jåwå kuno pada masa Dharmåwångså Teguh (k. 991–1016 M). Kitab ini dilatinkan oleh Prof. Dr. Hazeu serta dikupas oleh Prof. Dr. H. Kern dan khusus cerita Garudå (Burung Dewata) diterjemahkan Dr. Juynboll. Dalam pedalangan Jåwå, dari parwå ini, dibuat lakon Dèwi Lårå Amis, Balé Si Gålå-Gålå, Matinya Arimbå, dan Burung Dewata. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 194 dan 231.

[18]     Dalam pedalangan Jåwå, kisah ini dijuduli Kresnå Dutå dan Kresnå Gugah. Banyak kata rusak dalam naskah prosa Kawinya, sehingga hanya sebagian yang dilatinkan oleh Dr. Juynboll. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 232.

[19]     Prosa Kawi bagian ke-17 Måhåbharåtå ini juga banyak rusak. Hanya sedikit yang dilatinkan dan diterjemahkan Dr. Juynboll ke bahasa Belanda. Kisahnya penobatan Parikesit menjadi raja Astinå dan perginya Pandhåwå untuk bertapa di Himalaya hingga moksa. Bethårå Indrå mempersilakan Yudhistirå masuk surga, tapi ia minta anjingnya ikut. Anjing ini berubah menjadi Bethårå Dharmå. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 192.

[20]     Dalam pedalangan Jåwå, lakon ini dijuduli Jagal Abilåwå, nama Bimå yang menyamar sebagai juru masak dan tukang jagal dalam pembuangan 12 tahun Pandhåwå setelah Yudhistirå, kakak sulungnya, kalah saat berjudi dengan Kuråwå. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 194.

[21]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 10, dengan mengutip F.H. van Naerssen, Twee Koperen oorkonden van Balitung in het Koloniaal Instituut te Amsterdam, dalam BKI, vol. 95, 1937, halaman 445–446.

[22]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 10, dengan mengutip Holt, 1967, halaman 282.

[23]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 4.

[24]     Mungkin yang dimaksud Sang Widyatmåkå, yang tentangnya ahli sejarah Jåwå berselisih pendapat. Poerbåtjaråkå berpendapat itu hanya kata-kata biasa, bukan nama orang.

[25]     Kisah ini digubah menjadi Dèwåruci Kakawin dalam tembang bahasa Jåwå tengahan pada tahun 1450. Kisahnya: Bimå terjun ke laut, berperang melawan naga Nabunåwå, bertemu Déwåruci, berbantah, dan masuk ke dalam tubuhnya. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 200–201.

[26]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 338, dengan mengutip R.Ng. Rånggåwarsitå, Serat Puståkåråjå Purwå, Jilid 2, Yayasan Mangadeg-Yayasan Centhini, Surakarta-Yogyakarta, 1993, halaman 16.

[27]     Drs. Warsito S., Perbedaan Pandangan antara Kebatinan dan Islam, dalam Drs. Warsito S., Prof. Dr. H. M. Rasjidi, dan Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H., Di Sekitar Kebatinan, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1973, halaman 124, dengan mengutip Drs. Warsito S., Kepribadian Ksatria Sang Bhima, dalam Majalah Mawas Diri, edisi Mei dan Juli 1972.

[28]     Kisah ini ditulis sebagai sindiran atas perang saudara Ked(h)iri (Panjalu) mengalahkan Jenggålå (Dåhå), S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 197, dengan mengutip R.M. Sayid, Ringkasan Sejarah Wayang, Pradnya Paramita, Jakarta, 1981. Oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, naskah ini ditulis pada sångå kudå cuddhå çandråmå atau tahun 1079 Çåkå (1157 M). Pada tahun 1903, kitab ini diterbitkan dalam huruf Jåwå oleh Dr. Gunning, sedangkan terjemahannya dalam bahasa Belanda diterbitkan pada tahun 1934 dalam majalah Jåwå No. 1 Tahun ke-XIV.

[29]     Sebagai persemayaman untuk Raja Wisnuwardhånå yang meninggal di Mandårågiri pada tahun 1268. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 198.

[30]     Parthåyadnyå Kakawin ditulis pada kira-kira 1350–1389. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 200.

[31]     Bhairåwå itu salah satu bentuk Çiwå Måhådéwå, dewa tertinggi dalam agama Hindhu. Di India, aliran ini dikenal sebagai Kapalika atau Bheravapaksa. H. Santiko, op.cit., 1987, halaman 6.

[32]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 10, dengan mengutip Wirjosuparto, Kakawin Bharåtåyuddhå, Bhratara, Jakarta, 1968, halaman 121–122.

[33]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 10, dengan mengutip Wirjosuparto, op.cit., 1968, halaman 271–272.

[34]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 4.

[35]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 338–339, dengan mengutip Purwadi, Penghayatan Keagamaan Orang Jawa, Media Presindo, Yogyakarta, 2002, halaman 15.

[36]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 339.

[37]     Ibid.

[38]     Arjunå Wiwåhå atau Serat Mintårågå ditulis oleh Mpu Kanwå pada tahun 854 Çåkå (932 M) atas perintah Prabu Jåyåbåyå yang naik naik takhta pada tahun arum gandaning brahmånå atau 839 Çåkå (917 M). Raja itu sendiri telah menulis Puståkå Råjå Purwå, yang termasuk Serat Måhådarmå, riwayat hidupnya pada tahun 701-800 Ç (719–878 M). Pada bagian kesembilan, dinyatakan bahwa pada tahun 853 Ç (931 M), ia minta Mpu Kanwå menulis kisah perkawinan Arjunå dan Sumbådrå, kitab yang juga dinamai Serat Sapanti atau Serat Partå Kråmå. Hal ini tidak cocok dengan sejarah, Mpu Kanwå hidup pada zaman Airlånggå (k. 941–964 Ç/1019–1042 M). S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 188.

[39]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 4.

[40]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 340, dengan mengutip Purwadi, op.cit., 2002, halaman 16–18.

[41]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 339. Mungkin ada naskah Nåwåruci yang ditulis pada tahun 1613, yang barang kali ditulis dalam bahasa Sanskerta atau bahasa Jåwå tengahan. Lihat Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI Sampai XIX, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, cetakan pertama, November 1985, halaman 43, dengan mengutip J. Gonda, Sanskrit in Indonesia, Nagpur, 1952, halaman 203, 318. Buku Soemarsaid ini diterjemahkan dari judul asli State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century, tesis, Cornell Modern Indonesian Project, 1968/1981.

[42]     Episode ini dikutip dari S. Haryanto, Bayang-bayang Adhiluhung: Filsafat, Simbolis, dan Mistik dalam Wayang, Dahara Prize, Semarang, cetakan pertama, 1992, halaman 128-129, dengan mengutip ceramah berjudul Tokoh Bimå dalam Masyarakat dan Budaya Jåwå oleh Dra. Sumarti Suprayitno, dosen Fakultas Sastra (FS) Universitas Gajah Mada (UGM), di Lembaga Javanologi, Yayasan Panunggalan, Yogyakarta, awal Agustus 1986. Episode sebelumnya sama.

[43]     Dalam seni rupa wayang kulit, polèng lebih tepat untuk motif kampuh atau jarik (kain panjang), yang dalam kasus Bimå dililitkan sebagai penutup aurat, jadi terkesan seperti cawat. Untuk mudahnya, motif polèng itu seperti papan catur dengan deretan warna sama secara diagonal, yang lengkap terdiri atas urutan hitam, kuning, merah, dan putih, sedangkan garis batasnya emas (prådå). Sagio dan Ir. Samsugi, Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta: Morfologi Tatahan, Sunggingan, dan Teknik Pembuatannya, CV Haji Masagung, Jakarta, cetakan pertama, 1991.

[44]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 5.

[45]     Candi ini terletak di Kedhiri, Jåwå Timur, dan dibuat kira-kira tahun 1371 pada masa Hayamwuruk (k. 1350-1389). Reliefnya mengisahkan Sudåmålå atau Såhådéwå meruwat Bethari Durgå. Menurut kisah ini, di atas Bethårå Guru, ada Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wiséså, dan Sang Hyang Asih-prånå (pemberi hidup). Kitab ini diterbitkan dalam huruf Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Dr. P. van Stein Callenfels pada tahun 1925. S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 200 dan 243.

[46]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 5.

[47]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 4-5.

[48]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 5.

[49]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 7.

[50]     Farid al-Din ‘Aththår itu sufi dari Nayshabur, Persia, penulis Manthiq Al-Thair (Bahasa Burung), istilah Al-Qurän yang menggambarkan kemahiran Nabi Sulaiman a.s. berkomunikasi melalui kalimat spiritual dan lambang pujian Nabi Daud a.s. kepada Tuhan. Ini merupakan istilah kiasan tentang jalan spiritual yang dilewati burung Hudhud untuk bertemu majikannya. Titik pusat kiasan tersebut terdapat dalam Al-Qurän (38: 19) “dan Kami tundukkan burung yang sedang berkumpul, masing-masing sangat taat kepada Ållåh.” ‘Aththår juga menulis Tazkiråt al Awliya’ (Mengenang Para Wali), karya biografi dan anekdot sufi besar. Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Desember 1996, yang diterjemahan oleh Ghufron A. Mas’adi dari judul asli The Concise Encyclopaedia of Islam, halaman 42.

[51]     Syams al-Din al-Thåbrizi (h. 1147–1247) pribadi misterius yang sangat berpengaruh dalam bidang syair. Ia pujangga yang jenius. Ia dipandang sebagai salah satu kutub zamannya. Ia telah mendorong perkembangan spiritual Jalal al-Din al-Rumi, yang memujinya, “Mentari dari Thåbriz… adalah cahaya yang mutlak… Ia adalah matahari dan kumpulan cahaya kebenaran Tuhan.” Ia membawa Rumi menuju kenikmatan pengetahuan Tuhan secara langsung. Ia mengajak Rumi masuk kehidupan darwisy. Saat ia menghilang dari Konya, Rumi mengirimkan orang untuk mencarinya. Dua tahun kemudian, ia muncul, tinggal di rumah Rumi dan dibunuh orang yang cemburu karena ia begitu mengasihi Rumi. Glasse, op.cit., Desember 1996, halaman 188–189.

[52]     Jalal al-Din al-Rumi (h. 1207–1273), sufi Islam terbesar ini telah mempertunjukkan unsur heterodoks yang menonjol dalam ajarannya. Ia memercayai metempsikosis, keyakinan bahwa ajaran ortodoks harus disingkirkan atau direduksi secara metaforis dan universalisme yang diajarkannya dapat dipertahankan. Ia keturunan Persia dari Balkh, namun sejak kecil ikut ayahnya, Baha’ al-Din Walad, ulama yang menentang pemerintah, pindah. Selama lama mengembara, Sultan Saljuk di Rum (Bizantium) minta keluarga itu tinggal di Iconium, yang kini Konya, bagian wilayah Turki.

        Sewaktu di Damaskus pada tahun 1221 M, Jalal suka jalan-jalan di samping ayahnya bersama Ibnu ‘Aråbi, tokoh besar sufi yang mengajarkan doktrin kesufian, yang saat itu mengeluarkan pujian, “Segala puji bagi Ållåh, betapa samudera sedang mengikuti danau.” Di Konya, Rumi menjadi guru agama dan menjadi sufi pada usia 39 tahun. Ia berkawan dan menjadi murid Syams al-Din al-Thåbrizi, hingga ia bisa menulis Al-Mathnawi, enam jilid besar ajaran spiritual sufi, kisah kesufian, dan juga syair bermutu tinggi, yang merupakan kekayaan sastra Persia.

        Rumi mendirikan tarekat Al-Mawlawi yang berpusat di Konya. Tarekat ini dikenal sebagai Lingkaran Darwisy lantaran ia menggunakan tarian dan musik sebagai pendukung metode spiritualnya. Pengaruhnya tak hanya di negeri berbahasa Persia, termasuk Afghanistan dan Asia Tengah, melainkan juga di Turki dan India. Glasse, op.cit., Desember 1996, halaman 188–189.

[53]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 338, dengan mengutip Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo, Penerbit Mizan, Bandung, 1995, halaman 147–148.

[54]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 338.

[55]     Ibid.

[56]     Yåsådipurå I, Serat Bråtåjudå, dilatinkan dan diteliti oleh Drs. Daru Supraptå, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Almanak Dèwi Sri, Yogyåkartå, 1971–1981.

[57]     Yåsådipurå I, Serat Déwårutji Djarwå Sekar Måtjåpat, Kulåwargå Bråtåkesåwå, Yogyåkartå, 1959.

[58]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 6, dengan menambahkan komentar: “oleh siapa dan kapan serat ini disadur dari Nåwåruci tidak diketahui.”

[59]     Hyang Acintyå itu Sang Maha Gaib atau Sang Hyang Tunggal atau Sang Pencipta Dunia. Menyatunya Hyang Acintyå ke dalam Bimå, yang lalu menjadi pendeta di Argåkelåså dalam cerita Bimå Suci disebut kalenggahan atau hulul, kondisi yang dalam kebatinan Jåwå disebut curigå manjing wrångkå. Sebaliknya, masuknya Bimå ke dalam Déwåruci disebut manunggal atau ittihad atau wrångkå manjing curigå. Ir. Sri Mulyono, Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang: Sebuah Tinjauan Filosofis, CV Haji Masagung, Jakarta, cetakan ketiga, 1989, halaman  94.

[60]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 6, dengan mengutip Simuh, Mistik Islam Kejawèn Radèn Ngabèhi Rånggåwarsitå: Suatu Studi terhadap Wirid Hidayat Jati, Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta, cetakan pertama, 1988, halaman 8.

[61]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 6.

[62]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 7.

[63]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 6.

[64]     S. Haryanto, op.cit., 1988, halaman 243.

[65]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 7, dengan mengutip Tjan Tju An, Serat Bimå Bungkus, Suråkartå, 1936, halaman 44.

[66]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 7-8, dengan mengutip Siswåharsåyå, Serat Gunåcårå Agåmå, Yogyåkartå, 1936, halaman 84–85, 1951, halaman 18, serta K.G.P.A.A. Mangkunagårå VII, Serat Padhalangan Ringgit Purwå, Jilid IX, Balé Puståkå, Betawi Sèntrum, 1931, halaman 14.

[67]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 8, dengan mengutip Yåsådipurå, Serat Déwårutji Djarwå Sekar Måtjåpat, 1959, halaman 6, 10–12, dan Prijohoetomo, Nåwåruci, disertasi, J.B. Walters Uitgevers-Maatschappij, Groningen, 1934, halaman 170–172.

[68]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 8, dengan mengutip R. Tanåyå, Bimåsuci, P.N. Balai Pustaka, Jakarta, 1979, halaman 90.

[69]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 8, dengan mengutip R. Tanåyå, op.cit., 1979, halaman 91–92.

[70]     W.A. Sumaryoto, op.cit., 1998 (r.d.), halaman 8, dengan mengutip Wreksådiningrat, Bagawan Senårodrå, Toko Buku Tan Koen Swie, Kedhiri, 1923, halaman 35.

[71]     Hasanu Simon, op.cit., September 2004, halaman 338.

[72]     S. Haryanto, op.cit., 1992, halaman 138. Arti ketiga kata diambil dari Dr. Sir Muhammad Iqbal, Metafisika Persia: Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat Islam, Penerbit Mizan, Bandung, cetakan kedua, Rabi’ al-Awwal 1413/September 1992, halaman 44, yang bersumberkan hipotesis kosmologi pemikir besar Hindhu kuno Kapila tentang pembuatan jagat raya dari percampuran ketiga gunå itu.

[73]     S. Haryanto, op.cit., 1992, halaman 159, dengan mengutip ceramah Dr. A. Seno Sastroamijoyo pada Saraséhan Ringgit Purwå di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, 1968.

[74]     Dr. M. Chatib Quzwain, Mengenal Ållåh: -Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh ‘Abdus-Samad Al-Palimbani Ulama Palembang Abad Ke-18 Masehi, PT Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1985, halaman 121, dengan mengutip Syaikh ‘Abdus-Samad al-Falimbani, Sairus-Salikin Ila ‘Ibadati Rabil-’Alamin, Makkah-Thaif, 1780–1788, yang mengutip Syaikh Muhammad As-Saman, An-Nafahatul-Ilahiyyah, yang naskahnya tersimpan di Perpustakaan Nasional No. DCLII.

[75]     Abdul Hadi W.M., Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Penerbit Mizan, Bandung, cetakan pertama, Juli 1995, halaman 20.

[76]     Abdul Hadi W.M., op.cit., 1995, halaman 20, dengan mengutip Haryati Subadio (pengalih aksara dan penerjemah), Jnånåsiddhantå, Penerbit Jambatan, Jakarta, 1983, halaman 97.

[77]     M. Iqbal, op.cit., September 1992, halaman 41, dengan mengutip Geiger, Civilization of Eastern Iranians in Ancient Times, Jilid I, halaman 124.

[78]     M. Iqbal, op.cit., September 1992, halaman 41, yang mengutip Dr. Haug, Esai, halaman 205, memperbandingkan ruh pelindung ini dengan ide Plato. Namun, mereka tidak dipahami sebagai model yang sesuai dengan model itu benda terbentuk. Lagi pula, ide Plato itu abadi, tanpa ruang dan tanpa waktu. Doktrin  bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh ruh Cahaya dilindungi oleh ruh bawahan punya kemiripan lahiriah saja dengan pandangan bahwa setiap ruh dibentuk menurut suatu model sempurna yang sangat peka.

[79]     M. Iqbal, op.cit., September 1992, halaman 41, dengan catatan: konsepsi Sufi tentang jiwa juga bersifat tripatite (tiga bagian). Menurut kaum Sufi, jiwa adalah kombinasi pikiran (nafs), hati (qålb), dan ruh. Hati, bagi mereka, material dan nonmaterial sekaligus, atau lebih tepatnya: berdiri di antara ruh dan pikiran serta berfungsi sebagai organ “pengetahuan yang lebih tinggi”. Dr. Schenkel memakai kata conscience untuk hati. Ini tampaknya mendekati ide Sufi tentang hati.

[80]     M. Iqbal, op.cit., September 1992, halaman 41–42 catatan kaki 15, dengan mengutip Geiger, op.cit., Jilid I, halaman 104.

[81]     M. Iqbal, op.cit., September 1992, halaman 42 catatan kaki 15, dengan mengutip Annie Besant, Reincarnation, halaman 30.

Read Full Post »

Novelet Martin Moentadhim S.M.:

“Tatkala Pokok Tumbang”

1. DARA ANEH

“Ishtar itu benar-benar aneh.”
“Emangnya kenapa? Kayak kau baru kenal aja?”
“Kakeknya kaya raya, konglomerat kononnya, bapaknya pengusaha yang terbilang berhasil, ibunya… amboi mak cantiknya, tetapi si Ish kita itu ke mana-mana naik bus!”
“Itu namanya kemandirian, Par!”
“Kemandirian? Kalau aku sih enak naik BMW yang baru keluar dari pabrik itu, yang dibiarkan nongkrong di depan rumahnya, kipas-kipas…”
“Itu sih namanya malas.”
“Jadi, yang kau maksudkan itu si Ish sedang bertapa, agar sekaya kakeknya?”
“Bertapa?”
“Kan seminggu yang lalu kau bilang, orang kaya pada masa mudanya harus bersakit-sakit dulu, baru bersenang-senang kemudian?”
“Omong-omong, Par, aku sesungguhnya juga tidak begitu paham sifat, sikap, dan tingkah laku Ishtar itu. Kayaknya kau benar, Ishtar itu aneh…”
“St, orangnya lewat.”
Dara yang mereka perbincangkan melintas. Dia tampaknya biasa-biasa saja. Pinggangnya ramping. Jins belel membungkus kakinya yang lebih panjang ketimbang umumnya gadis Jawa.
Parulian Siregar dan Asep Fathurrahman yang membicarakannya memandang tak berkedip.
“He, apa yang kalian pandangi?” tanya William Jofri yang baru turun dari bus kota yang juga ditumpangi si dara Ishtar.
“Si Ish,” sahut Parulian Siregar.
“Aku punya cerita menarik tentang dia,” kata si William.
Kedua teman sekolahnya memandangnya penuh tanda tanya.
“Tak seperti biasanya, sepanjang perjalanan dia diam saja. Aku jadi sungkan mengajaknya bicara. Entah berapa puluh kali dia menghela nafas. Ada nada sedih dalam tarikan nafas itu…”
“Si Ish kita sedang berduka?” tanya Parulian Siregar dengan alis berkerut. “Aku pikir cucu orang kaya tidak kenal sedih.”
Kedua temannya tak berkomentar. Ketiganya lantas diam, memandangi Ishtar yang kemudian menghilang ke dalam kelas. Setiba mereka di bangku masing-masing, mereka lihat Ishtar menelungkupkan wajahnya. Ketiga pemuda yang tadi membicarakannya saling pandang.
“Parah?” tanya Parulian Siregar tanpa suara.
“Mungkin,” sahut Asep Fathurrahman juga hanya dengan gerakan bibir.
Kelas kemudian senyap ketika guru matematika yang masih perjaka tetapi ditakuti itu masuk dengan membawa setumpuk buku. Para murid bergegas mengeluarkan bukunya masing-masing.
“Ishtar, kamu sudah mengerjakan pekerjaan rumahmu?” tanya guru muda itu tiba-tiba.
“Belum, Pak, maaf…”
“Kalau begitu, kamu maju ke depan, kerjakan di papan tulis.”
Tanpa banyak bicara, dara itu mengerjakan apa yang diminta gurunya. Semua teman sekelasnya memandangnya tak berkedip. Dengan tenang Ishtar mengerjakan pekerjaan rumah matematika itu satu per satu. Guru muda yang masih perjaka itu mengitari kelas.
“Kalian koreksi pekerjaan kalian masing-masing. Apa yang dikerjakan Ishtar di papan sudah benar,” katanya.
Saat Ishtar selesai mengerjakan kesepuluh soal matematika yang diberikan gurunya sehari sebelumnya, dia tidak lantas duduk, melainkan tetap berdiri di depan kelas dengan sikap sempurna. Itulah hukuman yang sering diberikan oleh guru muda itu bila muridnya bandel, misalnya tidak mengerjakan PR seperti Ishtar.
“Kali ini kamu boleh duduk, Ishtar.”
Ishtar dan seisi kelas yang lain memandangi guru muda itu dengan mata penuh tanda tanya.
“Sudahlah, duduklah…”
Dan hari itu, guru muda tersebut mengajar dengan banyak bercerita, terutama pengalamannya sewaktu ia masih kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Kejuruan Ilmu Pendidikan (FMIPA-IKIP).
“Tiga tahun sudah Bapak mengajar kalian dengan gaya Bapak yang keras dan membuat kalian menjuluki Bapak ‘si killer’. Hari ini, sesuai dengan kurikulum, tak ada lagi yang harus Bapak ajarkan kepada kalian. Bapak hanya dapat berharap, kalian dapat menyelesaikan ujian dengan nilai yang tidak memalukan,” kata guru muda itu, yang kemudian mengakhiri pelajaran hari itu.
“Ishtar, kamu ikut Bapak ke Ruang Guru,” katanya seraya keluar dari kelas. Ishtar mengikutinya dengan patuh. Seisi kelas ribut, memperbincangkan kenapa guru matematika mengajak si Ish ke Ruang Guru. Hari itu hari bebas berpakaian, tak mungkin Ishtar akan kena tegur karena dia memakai jins belel. Lantas, kenapa? Pertanyaan itu tetap menggantung ketika jam istirahat tiba. Kali ini, Ishtar bahkan masuk ke ruang kerja Kepala Sekolah.
“Apa gerangan yang sedang menimpa si Ish?” tanya Parulian Siregar seraya mengunyah bakso dengan lahap. Hari itu William Jofri yang asal Merauke, Irian Jaya, men-‘traktir’-nya.
“Mana aku tahu?” sahut si William.
“Aku juga sama tidak tahunya dengan kalian,” sahut Asep Fathurrahman yang nimbrung di meja mereka dengan membawa semangkok bakso yang dibelinya sendiri. William tidak men-‘traktir’-nya. Anak Kepala Suku itu tetap mematuhi ucapannya sendiri bahwa ia hanya boleh men-‘traktir‘ satu orang saja dalam satu hari.
“Ishtar memang aneh dan penuh dengan kejutan,” kata Parulian kemudian, “Kalian masih ingat tiga tahun lalu, saat dia mendaftar sendirian ke sekolah ini naik bajaj? Bajunya kumal, rambutnya pendek, sepatunya sudah robek sedikit, tetapi ternyata kemudian SPP-nya paling tinggi di antara kita…”
“Aku juga masih ingat saat kita bertiga bertaruh bahwa dia gampang didekati. Tetapi, ternyata kau dibantingnya KO di lapangan belakang sekolah ketika kau berusaha mencium pipinya yang halus itu,” sahut Asep.
“Memang itu pernah terjadi? Kulihat kalian akrab-akrab saja selama ini, seolah-olah tidak pernah terjadi huru-hara,” sahut William yang baru pindah ke sekolah itu dari Irian Jaya pada awal tahun ajaran sekarang ini.
“Sungguh aku sangat malu saat itu, Willem. Tubuhnya ceking, tetapi bantingannya, aduh mak, minta ampun, tiga hari pinggangku serasa patah dibuatnya.”
William mendengarkan cerita itu dengan takjub. Ia bersyukur bahwasanya selama ini ia senantiasa bisa mengekang keinginannya untuk menggoda Ishtar. Kalau tidak, wow, bisa-bisa Ishtar telah membantingnya remuk.
“Aku tidak menduga, di balik sikapnya yang halus, tersimpan ilmu bela diri yang tangguh, padahal kau kan jagoan karate…”
“Di atas langit masih ada langit, begitu yang dibisikkan Ishtar ketika menolongku bangkit saat itu. Orang tak boleh sombong meski telah menguasai ilmu bela diri, katanya pula. Dia kemudian menyebutkan nama pelatih dan perguruanku. Aku jadi lebih malu lagi dibuatnya. Mukaku memerah… Kau tahu apa yang kemudian diperbuatnya?”
William hanya kuasa memandangi Parulian.
“Di-‘traktir’-nya aku makan bakso seperti yang kau lakukan sekarang.”
“Sebagai permintaan maaf?”
“Bukan, sebagai pernyataan gembira setelah aku dengan tulus minta maaf atas kekurangajaranku. Sejak itu, kami, terutama para murid pria, akrab-akrab ngeri dengannya…”
Selagi mereka asyik bercerita seraya mengunyah bakso, teman sekelas mereka yang cewek, Menik Andarwati, tergopoh-gopoh masuk kelas. “Ishtar dijemput pamannya yang paling kecil dengan jip,” katanya dengan nafas masih tersengal-sengal.
“Oh ya???”
“Tetapi, hingga kini masih tetap tanda tanya besar tentang apa yang terjadi padanya!”
-.o0o.-

2. UNDUR DIRI

Menik Andarwati memotong-motong baksonya sebelum mulai memakannya. Titik-titik cuka bertebaran di permukaan kuahnya. Dengan sangat nikmat, dikunyahnya potongan baksonya yang pertama. Siswa yang masih remaja seperti Menik memang dapat dikatakan tidak terpisahkan lagi dari ngrumpi dan ngebakso.
“Wajah Ishtar begitu sedih, lain dari biasanya,” katanya. Suaranya datar, tanpa ekspresi.
“Kau menyatakan itu hanya sekadar cerita atau bersimpati kepada si Ish kita itu?” tanya Parulian Siregar.
“Tentu saja aku simpati. Dia kan Ketua Kelas kita. Dia juga yang berhasil membawa pulang tiga trofi dari Porseni (Pekan Olah Raga dan Kesenian) Pelajar se-Indonesia,” sahut Menik sengit. Garpunya diacung-acungkan, seolah-olah dia ingin merajang anak Batak itu menjadi tujuh.
“Kalau begitu kau perlu berlatih teater,” jawab Parulian.
“Berlatih teater?” tanya Menik bingung.
“Iyya, supaya kau bisa mengutarakan perasaanmu lewat suara dengan benar, tidak seperti tadi, datar-datar saja…”
“Ukh, maumu!”
“Lho, sebagai Ketua Bidang Kesenian di OSIS (Organisasi Siswa Intra-Sekolah), aku kan harus mengampanyekan program bidang yang menjadi tanggung jawabku.”
“Baik, Pak Ketua!” kata Menik dengan memonyongkan bibirnya.
Teman-temannya tertawa terbahak.
Bel tanda mata pelajaran berikutnya berbunyi. Mereka bergegas menghabiskan baksonya masing-masing.
“Lho, kenapa tergesa, kan mata pelajaran berikutnya kosong?” kata William Jofri.
“Ntar kalau Kepala Sekolah menggantikan, baru tahu rasa kau,” sahut Parulian.
William menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka kemudian beramai-ramai meninggalkan kantin. Apa yang diperingatkan Parulian benar belaka. Kepala Sekolah yang hingga kini belum juga menikah itu sudah menunggu mereka di kelas.
“Anak-anak,” katanya setelah seisi kelas kumpul, “kalian terpaksa memilih ketua kelas baru, karena mulai saat ini Ishtar akan sibuk dan boleh jadi akan jarang masuk sekolah.”
Parulian mengangkat tangan, “Boleh saya bicara, Pak?”
“Boleh.”
“Walaupun mungkin tidak sependapat dengan pernyataan Bapak tadi?” katanya agak ragu.
“Boleh. Di sekolah ini, juga ada demokrasi,” kata Kepala Sekolah yang sangat akrab dengan para muridnya itu setengah bergurau. Seisi kelas riuh bersuit-suit mendengarnya.
Parulian maju ke depan kelas. “Teman-teman,” katanya dengan gaya orator, “saya pikir, kita tidak perlu memilih ketua kelas baru. Ini mengingat sisa waktu kita di sekolah ini tinggal sedikit…”
“Ikh, kau sok yakin pasti lulus,” tukas Sofi Marfuk.
“Memalukan dong jauh-jauh merantau dari Tanah Batak tidak lulus sekolah. Haram bagi Parulian Siregar tidak lulus. Jelek-jelek begini, aku belum pernah tinggal kelas, kawan!”
Lagi-lagi koor “huu” terdengar riuh. Kepala Sekolah tersenyum-senyum melihat keceriaan para muridnya. Meski demikian, dengan isyarat tangan di bibir, ia mengingatkan para muridnya agar tidak gaduh.
“Parulian, teruskan pidatomu,” katanya kemudian.
“Jadi, sebaiknya tugas Ketua Kelas secara otomatis beralih ke Wakil Ketua Kelas. Setuju?”
Suara di kelas itu terpecah antara setuju, tidak setuju, dan abstain. Wakil Ketua Kelas, Argha Dian Angkasa, tergolong yang tidak angkat suara.
“Kau sanggup melaksanakan tugas itu, Argha? Ataukah aku sebagai pengurus OSIS harus turun tangan?” tanya Parulian. “Mestinya kau harus malu kepada Ishtar, hampir setahun dia memimpin kita dengan prestasi kelas yang tidak memalukan. Masa tinggal melanjutkan beberapa bulan saja tidak sanggup…”
“Terserah teman-teman sajalah,” kata Argha kemudian.
Tetapi, lagi-lagi suara di kelas itu terpecah. Argha memang tidak begitu disukai karena tidak terlalu tegas dalam mengambil keputusan.
“Bapak mengizinkan kepada kami untuk melakukan voting?” tanya Parulian kepada Kepala Sekolah.
Orang tua itu hanya mempersilakan. Ia senang, sedikit-banyak telah mengajari muridnya bagaimana cara melaksanakan kehidupan ber-demokrasi.
Lima belas menit kemudian pemungutan suara itu, yang dilaksanakan dengan bebas dan rahasia, selesai. Argha harus menjalani tugas sebagai Penjabat Ketua Kelas.
“Atas nama teman-teman, boleh saja mengajukan pertanyaan kepada Bapak tentang Ishtar, kenapa dia tidak lagi dapat menjalani tugasnya sebagai Ketua Kelas?” kata Argha ketika diminta maju ke depan kelas setelah terpilih.
Kali ini seisi kelas hening, menunggu jawaban Kepala Sekolah, yang tampaknya susah sekali memberikan penjelasan.
“Ishtar ada urusan keluarga yang akan menyita waktunya. Bapak tidak dapat menjelaskan macam apa urusan keluarga tersebut. Pada waktunya nanti, kalian akan mengerti sendiri.”
-.o0o.-

3. BERITA SORE

Kepala Sekolah keluar dari kelas. Parulian Siregar dan Sofi Marfuk menguntitnya. Ketika sadar ada yang mengikutinya, orang tua yang sudah berjanggut putih tetapi rambutnya masih hitam itu berpaling.
“Ada apa, Parulian?” tanyanya dengan alis berkerut.
“Sebagai salah satu ketua dan bendahara OSIS, boleh kami berdua tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ishtar, Pak?” sahut remaja Batak itu setengah ngeri. Sofi membantu membujuk guru kepalanya itu dengan sinar matanya.
Orang tua itu akhirnya hanya geleng-geleng kepala. “Kalian gigih. Tetapi, Bapak tetap minta kalian bersabar. Waktu yang akan memberikan jawaban untuk kalian,” katanya dan tanpa berpaling-paling lagi, ia melanjutkan langkah ke kantornya.
“Jalan buntu, Sof.”
Berbalik kembali ke kelasnya, kedua remaja itu berpikir keras. Tetapi, sampai tiba kembali di kelas, mereka tetap tidak mendapatkan jalan keluar. Apalagi, guru mata pelajaran berikutnya mencecar mereka dengan pertanyaan sebagai persiapan bagi mereka untuk mengikuti ujian.
Dasar murid bandel, yang tak kurang akal, Sofi –yang merasa mendapatkan terobosan ketika ingat bahwa Yanti sering membawa telefon genggam ke sekolah– mencoba menyuratinya dengan potongan kertas yang dilipat kecil.
“Yanti, kamu bawa telefon genggam?” tanya Sofi kepada anak orang kaya nomor dua di kotanya setelah kakek Ishtar itu melalui potongan kertasnya yang pertama.
“Buat apa?” balas Yanti.
“Goblok, lu! Cari kabar tentang Ishtar, Friend!”
“Mau tanya siapa?”
“Mamanya ‘ngkali.”
“Sok tahu, lu! Itu namanya nanyain tembok! Lu belon kenal nyaknya Ishtar! Lu nggak bakalan dapat jawaban, Sof!!”
“Gua kenal dekat sama cowok yang menjadi tetangga sebelahnya. Siapa tahu ia bisa jawab teka-teki ini.”
“Kayaknya gagasan lu boleh juga. Tetapi…”
“Emangnya lu kagak bawa itu telefon elite?”
“Tunggu tanggal mainnya!”
“Sialan, lu!!!!”
Dan kali ini keduanya benar-benar sial. Begitu asyiknya surat-suratan begitu, keduanya sampai tidak sadar bahwasanya gurunya sudah menghentikan cecaran pertanyaan dan membawa seisi kelas memperhatikan kedua murid bandel itu.
“Sofi, Yanti, maju ke depan, bawa semua kertas yang kalian buat itu,” bentak Sang Guru.
Dengan potongan-potongan kertas itu di genggamannya masing-masing, keduanya maju ke depan kelas.
“Baca keras-keras sesuai dengan urutannya sewaktu kalian mengirim tadi!”
Dengan suara agak gemetar karena takut dan malu, kedua remaja itu melaksanakan apa yang diperintahkan sang guru. Seisi kelas diam membisu mendengarkan percakapan unik itu.
Mereka sama sekali tidak menduga bahwa pada akhirnya Sang Guru –yang rupanya tidak diberi tahu oleh Kepala Sekolah– bahkan meminta Sofi mencoba melaksanakan niatnya itu dengan telefon genggam Yanti.
Guru yang satu itu –seperti kebanyakan guru lain– juga sangat memperhatikan Ishtar, murid yang orang tuanya merupakan penyumbang dana terbesar bagi sekolah itu.
Usaha pertama mereka gagal. Tidak ada orang yang mengangkat telefon di rumah Ishtar. Usaha kedua juga mengalami jalan buntu. Tetangga Ishtar itu tidak tahu perkembangan yang terjadi perihal dara aneh itu dan keluarganya. Demikian juga Pak RT, Pak RW, dan bahkan beberapa keluarga dekatnya yang dapat dihubungi.
Hingga jam pelajaran itu usai, jawaban masih belum didapat.
Sang Guru menjanjikan jawaban ketika keluar dari kelas. Tetapi, saat ia mendapatkan jawaban dari Kepala Sekolah, ia bahkan bergegas pulang tanpa ingat memberi tahu Parulian Siregar dan teman-teman sekelasnya.
Pada waktu pulang sekolah, tidak seperti biasanya, mereka tidak segera bubar.
“Hei, Zaglul, kamu punya ide?” tanya Sofi kepada tetangga dekat Ishtar yang menjadi teman sekelas mereka.
“Beli saja koran sore. Kakek Ishtar kan orang terkenal. Berita tentang keluarganya, khususnya gosip, pasti tidak dilewatkan oleh wartawan!” jawab anak yang merangkap bekerja sebagai tukang koran dan tukang parkir itu kalem.
“Ide lu boleh juga, Lul!” sahut Sofi seraya berlari keluar mendahului teman-temannya.
Dan gagasan tukang koran itu memang cemerlang dan bertuah. Kabar yang mereka tunggu-tunggu menghiasi halaman muka dua koran sore yang terbit di kota itu, dengan judul yang dicetak besar-besar, “Pembayaran kredit YP, menantu orang kaya HAGS, macet: Manipulasi atau Mismanajemen?”
Beritanya sendiri tidak sampai seperdelapan halaman.
“YP, pengusaha yang selama ini dipandang sukses mengelola usaha agrobisnis, diperiksa oleh pejabat Kejaksaan Agung pagi tadi berkenaan dengan macetnya pembayaran kredit Rp1,3 triliun dari Bank Pembangunan Pedesaan.”
“Kredit itu digunakan oleh YP, menantu orang kaya HAGS dari jaringan konglomerasi HAGS Group, untuk mengelola 13 perusahaan yang tujuh di antaranya hingga kini sedang dalam tahap persiapan dan dua yang lain –dua-duanya perusahaan kontraktor– dalam setengah tahun terakhir ini banyak mengerjakan proyek ambisius yang banyak menimbulkan kontroversi.”
“YP, yang untuk sementara dikenai pelarangan ke luar negeri, tidak bersedia memberikan keterangan ketika ditemui wartawan seusai pemeriksaan oleh Jaksa Agung Muda Bidang…”
Koran itu pun segera berpindah-pindah tangan. Para siswa itu lagi-lagi terpecah menjadi tiga bagian: simpati, meledak kebenciannya, atau acuh tak acuh.
“Tahu rasa kau sekarang, Ishtar,” kata Sofi Marfuk lirih, tetapi cukup keras di telinga Parulian Siregar.
“Hei, Sof, apa kau bilang?” tegur remaja Batak itu. “Rupanya kau selama ini memendam kedengkian sama si Ish kita itu. Ketahuan kau sekarang.”
“Habis…” jawab Sofi dengan muka merah padam.
“Habis kenapa?”
“Selama ini dia begitu dipuja-puja, tak hanya oleh kalian yang cowok, tetapi juga guru, dan bahkan juga sesama cewek.”
“Lantas? Kau iri, begitu?”
Sofi tertunduk malu. Dalam hatinya dia menyimpan satu cerita tersendiri. Untung, Parulian yang segera terlibat pembicaraan lain tidak mencecarnya.
“Zaglul, aku yakin kau tahu lebih banyak dari yang diberitakan koran,” kata Parulian yang beralih mendekati si tukang koran.
“Itu masalah keluarga orang, aku tidak berhak ikut bicara.”
“Percuma saja kau menginterogasi Zaglul, Parulian,” tukas Otang. “Bisa-bisa nanti kalian malah adu tinju.”
Zaglul sendiri dengan santai berjalan ke tempat pemberhentian bus. Argha tanpa banyak bicara menyusulnya. Keduanya duduk berdampingan di bus kota.
“Kamu tahu nasib apa yang pada akhirnya menimpa Ishtar?” tanya Argha setelah beberapa saat mereka berdiam-diam.
“Tetap tegak menghadapi badai!” jawab Zaglul mantap.
“Begitu?”
“Kalau tidak begitu, bukan Ishtar namanya!”
“Kau yakin?”
“Amat sangat!”
Argha menghela nafas.
“Meski kau selama ini lebih sering bepergian bersamanya, ternyata kau hanya mengenal bagian luarnya saja, Sobat!”
Argha lagi-lagi hanya dapat mendesah. Kali ini wajahnya memerah malu. Ia selama ini mengejar-ngejar Ishtar dan tampaknya tidak bertepuk sebelah tangan.
“Sekaranglah saatnya untuk menanyai kesungguhan hatimu, Argha Dian Angkasa!” kata Zaglul seraya bangkit dan lalu berteriak kepada supir agar menepikan kendaraannya.
Argha terhenyak. Zaglul boleh dikata telah menebak tepat apa yang sedang dipikirkannya.
-.o0o.-

4. ANEH TAPI MANIS

Bus kota yang ditumpanginya makin melaju, Argha Dian Angkasa kian terhenyak dalam perenungannya akan Ishtar, dara manis cucu orang kaya yang bisa menerima dirinya apa adanya. Kalau bisa disebut berpacaran, mereka telah menyatu hati sejak mendaftar di sekolah swasta favorit itu tiga tahun lalu.
Dara manis itu turun dari bajaj dengan sikap yang cuek. Penampilannya sebenarnya tidaklah separah yang digambarkan Parulian Siregar dalam percakapannya dengan Asep Fathurrahman. Sepatunya sudah robek dan bajunya kumal, itu memang benar. Tetapi, merek kedua barang itu jelas dari kelas bergengsi meski dibeli di pasar ular sekalipun.
“Cuek amat dia,” kata Argha saat itu kepada Parulian dan Asep. Mereka bertiga, bersama Sofi dan Yanti serta banyak temannya yang lain, berasal dari SMP yang sama.
“Nggak cantik sih, tapi manis,” sahut Parulian.
“Emangnya gula?” sambung Asep bergurau.
“Tak hanya gula, tapi madu,” kata Argha.
“Kesengsem nih yee…” ledek Asep.
Argha hanya dapat bermerah muka. Matanya tak berkedip memandang Ishtar yang berjalan memasuki ke ruang pendaftaran.
“Kalian bicarakan siapa? Cewek, ya?” tanya Yanti yang baru saja turun dari mobil babenya dan langsung bergabung dengan mereka. Dia belum mendaftar. Map STTB SMP dan persyaratan lain masih dipegangnya.
“Itu tuh, Argha kesengsem sama dara cuek yang baru saja masuk ruang pendaftaran,” jawab Asep.
“Siapa dia?” tanya Yanti yang tak sempat melihat Ishtar.
Ketiga cowok itu cuma angkat bahu.
“Okey-lah, coba kulihat siapa dia, siapa tahu aku kenal,” kata Yanti seraya melangkah menuju ruang pendaftaran. Tak lama kemudian dia menongolkan wajahnya di pintu ruang pendaftaran. “Argha, kau bagai pungguk merindukan bulan,” katanya dengan gerakan bibir tanpa suara.
“Apa yang dia katakan?” tanya Argha yang tidak bisa membaca gerakan bibir kecuali namanya sendiri.
“Dia bilang, kau bagai pungguk merindukan bulan,” ulang Asep.
“Memangnya kenapa?” tanya Argha pada Yanti di kejauhan.
“Dia itu Ishtar, cucu orang kaya Hannuman Abdul Ghani Sentanagupita dari HAGS Group,” jawab Yanti yang segera menghilang kembali ke dalam ruang pendaftaran.
“Kali ini aku salah tebak,” kata Parulian yang bisa membaca bibir Yanti.
“Memangnya kenapa?” tanya Argha.
“Dia itu Isthar, cucu pemilik HAGS Group, Hannuman Abdul Ghani Sentanagupita yang terkenal itu,” jawab Parulian.
Argha tampak kaget bagai disengat lebah.
“Selamat layu sebelum berkembang, Kawan!” kata Parulian yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
Argha benar-benar tampak lemas tak berdaya. Rupanya ia tadi benar-benar –pinjam istilah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie, kongsi dagang India Timur), usaha dagang Belanda yang akhirnya menjajah Indonesia ratusan tahun– “liefde op het eerste gezicht” alias “djatoeh tjinta pada temoe moeka pertama”.
“Jangan putus asa, Argha,” hibur Asep, “bahkan semisal dia sudah punya pacar pun, sepanjang janur belum melengkung di rumahnya, kau masih berhak memikatnya.”
“Begitu?” tanya Argha, masih juga lemas.
“Mengapa tidak? Marilah sekarang kita bicarakan sisi cerah dari soal yang sekarang kau hadapi,” sahut Parulian meminjam istilah dalam bahasa Inggris “bright side” dan menggantinya dengan bahasa Indonesia “sisi cerah”.
“Sisi cerah?” tanya Argha lagi. Dahinya berkerut, sampai ia tampak mendadak tua.
“Penampilannya itu membuktikan bahwa dia bukanlah dara yang materialistis,” kata Parulian sok pintar.
“Tetapi biasanya orang tuanya tidak demikian,” sahut Argha.
“Akh, kau ini memang pesimistis. Mestinya kau melihat bahwa yang berpacaran itu kau dan dia, bukannya kau dengan orang tuanya!” bentak Parulian.
Asep hanya tersenyum-senyum saja melihat kedua karibnya itu.
“Tetapi bila orang tuanya tidak merestui, itu berarti aku harus berupaya keras membahagiakannya,” kata Argha.
“Aduh, kau ini lelaki macam apa, rupanya di benakmu ada pula keinginan untuk menikmati warisan harta mertua. Memalukan itu, Kawan! Lelaki zaman pascamodernism sekarang ini harus mandiri!”
Asep tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua sohib-nya itu demikian serius membicarakan dara cuek tersebut, sampai-sampai menyinggung soal harta warisan segala.
Mereka serentak menghentikan percakapan itu, ketika Yanti mendatangi mereka bersama dara yang mereka bicarakan itu. “Ishtar, perkenalkan para sohib-ku sejak SMP. Yang Batak ini Parulian Siregar, dia bukan Batak tembak langsung, ayahnya pegawai Departemen Dalam Negeri yang sering pindah-pindah tugas. Yang Sunda ini masih keturunan ningrat, namanya Asep Fathurrahman. Dan yang sama-sama Jawa dengan kita ini adalah Argha Dian Angkasa, bapaknya pilot pesawat tempur yang pernah tugas di Vietnam. Tetapi, lain dari bapaknya yang pemberani, ia rada-rada pengecut, sampai-sampai tak berani memandangmu, padahal ia jatuh cinta kepadamu,” kata Yanti panjang lebar mengiklankan ketiga temannya.
Diperkenalkan begitu, Argha lagi-lagi hanya bisa menjabat tangan Ishtar dengan muka merah padam. Lidahnya kelu, padahal ia ingin memuji kemanisan dara manis itu untuk memberikan kesan pertama yang baik.
Tetapi hari itu tidak sepenuhnya hari “musibah” buat Argha. Ia beruntung karena ia satu-satunya dari ketiga perjaka itu yang pulang searah dengan Ishtar, sedangkan Yanti tetap bermanja-manja naik mobil babenya.
“Kamu turun di mana, Argha,” tanya si dara tatkala mereka berdampingan di bus kota.
“Jalan Melati.”
“Sebelah mana rumah mode Sri Kencana?”
“Ya tepat di situ!”
“Jadi, kamu anak Bu Sri Kencana?” tanya Ishtar antusias.
“Iyya, tepatnya anak tunggalnya. Memangnya kenapa?”
“Sudah lama aku ingin belajar menggunting dan menjahit pakaian. Adi busana buatan Bu Sri sangat terkenal…”
Dalam hati, Argha membatin, “Seterkenal-terkenalnya mamaku, masih lebih terkenal kakekmu, yang jauh lebih kaya dari keluargaku secara menyeluruh.”
Tetapi, yang diucapkannya hanyalah pertanyaan, “Kamu sudah kenal Mama?”
“Pernah lihat dari jauh di peragaan busana, tetapi belum sempat kenal.”
“Kapan-kapan kau bisa berkenalan dengan Mama.”
Ishtar melihat arlojinya. “Bagaimana kalau sekarang kita mampir ke rumahmu? Mamamu di rumah, kan?”
Pucuk dicita ulam tiba, Argha pun menjawab riang, “Boleh!”
Sejak itu, hubungan antara mereka berjalan lancar, meski keduanya tak pernah membicarakan “cinta”. Hampir setiap bulan mereka bergantian menjemput untuk nonton bioskop atau melihat pertunjukan musik.
Lubang yang cukup besar di jalan membuat Argha tersadar dari lamunannya. Masih banyak kenangan manis bersama Ishtar selain pertemuan pertama mereka yang boleh dikata “agak konyol” bagi Argha itu.
Tetapi, kini dara itu ditimpa musibah dan tidak mustahil ayahnya akan dijatuhi hukuman penjara yang lama. Apa yang dikatakan Zaglul tadi serasa mengiang kembali di telinganya. Tukang koran itu benar.
“Sekaranglah saatnya untuk menanyai kesungguhan hatimu, Argha Dian Angkasa,” bisik hati kecilnya, menirukan kalimat Zaglul.
-.o0o.-

5. MANEKIN TERSENYUM

Sore itu, sehabis menjajakan koran, Zaglul mampir ke rumah Ishtar. Ia ingin membuktikan ucapannya sendiri bahwa sekalipun ditimpa musibah, Ishtar tetap tegak menghadapi badai.
Rumah Ishtar itu mungil. Inilah keanehan lain dari keluarga Ishtar. Meski tergolong pengusaha sukses, jauh sebelum menghadapi tuduhan kredit macet Rp1,3 triliun, mereka hidup sederhana dengan tinggal di rumah yang tidak banyak memiliki perabotan mahal itu.
“Harta itu hanya titipan, Lul,” kata Ishtar suatu kali, “Kata Bapak, orang itu harus hidup sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Jadi, kalau titipan itu diambil kembali oleh yang memberikan rejeki, kita tidak kaget.” Rumah itu sunyi. Zaglul mencoba memencet bel. Tak lama kemudian pintu dibuka. Ishtar muncul dengan wajah yang kusut. Dalam batin Zaglul, muncul pertanyaan: apakah Ishtar telah tumbang?
“Masuk, Lul. Tumben, ada apa?” tanya dara itu.
“Kamu benar-benar mau mundur dari jabatan Ketua Kelas?”
“Tampaknya aku bakalan sibuk mengikuti perkara Bapak. Kamu tahu, dalam situasi seperti sekarang ini, Bapak sendirian. Semua keluarga cuci tangan. Katanya masalah yang dihadapi Bapak itu tergolong subversi, apalagi kini zamannya pengentasan kaum duafa dari kemiskinan.”
“Ibumu mana?” tanya Zaglul mencoba mengalihkan perhatian.
“Masuk rumah sakit, syok!” jawab Ishtar tanpa emosi.
Zaglul memandangnya tak berkedip. “Jadi, kamu di rumah ini sendirian?” tanyanya.
“Seperti yang kamu lihat!”
Zaglul ingin bertanya apakah dara itu berani tinggal sendirian. Tetapi pertanyaan itu ditelannya kembali, bertanya begitu berarti ia tidak kenal Ishtar. Padahal, ia tadi siang merasa yakin lebih mengenal Ishtar ketimbang Argha yang boleh dibilang pacarnya.
Melihat sikap Ishtar itu, kini Zaglul yakin bahwa dara itu seperti yang dikatakannya pada Argha di bus kota tadi siang, “tetap tegak menghadapi badai”.
“Kemungkinannya separah apa?”
“Kemungkinan apa?”
“Perkara yang dihadapi bapakmu?”
“Seperti tadi aku bilang, subversi!”
“Jadi?”
“Bapak pasti masuk penjara. Itulah sebabnya aku tadi siang minta tolong Om Ghani agar memberikan penjelasan kepada Kepala Sekolah.”
Mendadak Zaglul menerawang. Hatinya merinding membayangkan nasib Ishtar. Ia ingat nasibnya sendiri. Bapaknya mati bunuh diri dengan menggantung diri. Kini, ia tinggal bersama ibu dan dua adiknya. Itulah sebabnya ia menjadi tukang parkir dan penjual koran serta majalah.
Berpikir sampai ke situ, Zaglul jadi tidak berani membicarakan soal Argha dengan gadis yang sedang dirundung malang tersebut.
“Lul, kamu mau membantuku?” tanya gadis itu.
“So pasti.”
“Mungkin aku akan sering tidak masuk sekolah…”
“Kan mata pelajaran sudah rampung diberikan?” tukas Zaglul.
“Benar. Tapi, kebanyakan guru kan berjanji akan memberikan soal untuk berlatih menghadapi ujian?”
“Akh, itu gampang!”
“Jangan bilang gampang. Ntar Bapak divonis hukuman penjara, kamu tidak berani lagi ke sini…”
“Emangnya aku manusia macam begitu?”
“Enggak sih.”
Telefon di rumah mungil itu berbunyi. Ishtar bergegas mengangkatnya. Zaglul menunggu dengan sabar. Ishtar menjawab telefon itu dengan mengiyyakan atau menolak.
“Dari Eyang, berusaha membujukku agar mau tinggal bersamanya di rumah besar,” kata Ishtar setelah pembicaraan itu rampung.
Zaglul tidak berani bertanya apa-apa. Ia hanya memandangi dara manis itu, yang masih tetap memakai jins belel yang tadi pagi dipakainya ke sekolah.
“Sudah makan, Lul? Aku sejak tadi siang belum makan. Temani aku makan, ya?” tanya gadis itu seraya menyeretnya ke meja makan di bagian dapur rumah mungil tersebut.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Itu bukan kali pertama Zaglul makan di rumah tersebut. Ishtar sangat jarang berbicara bila sedang makan. “Makan itu, kata Bapak, harus dinikmati. Tidak setiap orang bisa mendapatkan rejeki sebanyak dan selancar yang kita alami,” kata Ishtar suatu kali.
Saat mencuci piring, Ishtar minta tolong lagi kepada Zaglul.
“Kamu masih ada kerjaan enggak, Lul?”
“Enggak, emangnya kenapa?”
“Kita belajar bersama.”
“Boleh.”
Itu juga bukan kali pertama Zaglul belajar bersama Ishtar. Hanya saja, kali ini mereka belajar tanpa gairah. Walau bagaimanapun, musibah yang menimpa ayah Ishtar tetap mempengaruhi penampilan dara itu, yang biasanya menganggap hidup sebagai angin lalu.
Ishtar lebih sering memaksakan diri bergurau. Kalau tidak begitu, dia termangu-mangu.
“Kamu tahu apa yang sebenarnya lebih memberati pikiranku, Lul?” tanya gadis itu setelah dia tidak berhasil memaksa diri untuk tetap belajar.
“Ibu?”
“Benar!”
“Syok-nya parah?”
“Mungkin terpaksa dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Aku sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter Mintaraga. Kamu masih ingat dokter Aga, kan?”
Zaglul hanya bisa mengangguk dan kemudian menghela nafas. Itu memang pukulan lebih mengena. Ibu terpukul dan kehilangan keseimbangan jiwa. Itu berarti Ishtar mengalami dua kehilangan sekaligus, plus setumpuk persoalan dan tantangan yang harus ditaklukkannya.
Tetapi, Ishtar –begitu dia lebih suka dipanggil {karena dua alasan: selain karena arti kata “ishtar” (dewi kecantikan), dia suka Dustin Hofman}– tetap cuai (baca: cuek!). Dia menerima semua kenyataan itu dengan tersenyum bagaikan manekin di butik dekat perempatan selatan rumahnya.
“Lul, kamu tahu,” kata gadis itu lagi, “aku sangat berterima kasih kepada Bapak yang telah mempersiapkanku dengan cermat untuk menghadapi masa pahit ini dengan penuh ketabahan. Tetapi, melihat nasib Ibu, rasanya aku jadi linglung juga…”
Memang, dalam lubuk hatinya, Ishtar menangis pilu melihat Ibu dapat dipastikan akan masuk Rumah Sakit Jiwa. Hati siapa tak remuk mendapati ibu kandung tak tahan amuk?
“Ibu, Bapak, dan aku adalah produk zaman dan keadaan yang berbeda. Ibu anak orang kaya, berdarah bangsawan, dan tak pernah hidup susah. Ibu bagaikan produk surga, yang tak pernah tahu arti kata neraka sebelum vonis hidup jatuh untuk kekalahan Bapak.”
Mendengar itu, Zaglul hanya bisa memandangi Ishtar.
“Itulah sebabnya Ibu terpukul! Aku paham, sangat paham, patung pualam hijau macam Ibu memang kelihatannya kuat tetapi mudah pecah. Eyang Kakung dan Eyang Putri tak pernah mempersiapkan Ibu untuk menghadapi masa badai.”
Dengan sabar, Zaglul mendengarkan ungkapan hati Ishtar. Dalam hati ia berkata, mestinya Argha yang sekarang menjadi pendengar yang baik.
“Meski demikian, tak terpikirkan seujung kuku pun olehku untuk menyalahkan kedua eyangku itu,” kata gadis itu, yang kemudian menghentikan ungkapan perasaannya.
Hannuman Abdul Ghani Sentanagupita memang telah berhasil mempersiapkan hidupnya dengan rekor kesuksesan yang luar biasa dipandang dari sudut ekonomi. Pokoknya, hasil kekayaan yang dapat ditumpuknya tak habis dimakan anak-cucunya tujuh turunan, sekalipun keturunannya itu hanya “ongkang-ongkang kaki gegares harta warisan”, kata orang Betawi.
Itulah sebabnya Sang Hannuman tak pernah memikirkan jalan mundur. Kata “mundur” seakan tak pernah ada dalam kamus benaknya. Ia selalu maju bagaikan waktu. Ia telah mempersiapkan diri dengan cermat –tanah luas di seantero Nusantara dan beberapa bagian dunia, saham menumpuk, asuransi multinasional, dan terutama bidang usaha terpadu yang saling menghidupi satu sama lain. Pokoknya sip, kerugian di satu bidang akan dibangkitkan kembali oleh keberhasilan bidang lain! Opo hora heibat!!!
“Meski demikian, kamu tahu, Lul,” kata gadis itu lagi, setelah lama tertegun, “Eyang masih manusia biasa, bukan insan kamil, bukan manusia paripurna. Dalam kamus matematika niaga Eyang, tak terdapat kata cinta, apalagi pengertian bahwa cinta bisa mengubah segalanya, bahwa cinta itu di atas segala-galanya, dan matematika memang tak pernah mampu merumuskan cinta, kecuali teori relativitas Albert Einstein barangkali.”
Zaglul tak lagi bisa memilah. Ini ungkapan perasaan sedih atau kemarahan.
“Cinta itulah yang mempertemukan Ibu dengan Bapak, gelandangan yang di mata Eyang tidak genah (karuan) asal-usulnya tetapi berusaha keras menjadi satu-satunya pahlawan bagi Ibu, satu-satunya wanita yang dicintainya. Akibatnya, Bapak suka berspekulasi dan tidak mau sama sekali bergantung pada kesuksesan mertuanya, yang dinilainya tidak akan pernah bisa menerima kehadirannya dengan tuntas,” kata dara itu makin menjadi-jadi.
Zaglul memandangnya tak berkedip. Sukar rasanya percaya bahwa yang bicara itu gadis yang baru mau mengikuti ujian akhir Sekolah Menengah Atas. Setelah menghela nafas panjang, gadis itu mengakhiri pidatonya yang panjang:
“Spekulasi itulah yang membuat Bapak pasti akan masuk penjara setelah 20 tahun selalu menang dalam berspekulasi. Bapak sebenarnya tidak sepenuhnya kalah, karena Bapak sempat mempersiapkan aku sebagai putri tunggalnya agar menjadi manekin hidup yang selalu tersenyum selagi bibirku masih berbentuk bibir.”
-.oOo.-

6. DUNIA TAK LAGI RAMAH

Vonis itu akhirnya jatuh. Tentang berapa tahun Bapak dipenjara, Ishtar tak mau mengingatnya. Ishtar masih sempat ikut petugas mengantar Bapak ke penjara dari gedung Pengadilan Negeri. Tak satu pun anggota keluarganya hadir dalam sidang itu.
“Kamu tidak kecewa, Ishtar?” kata Bapak sewaktu Ishtar pamit pulang di depan penjara.
“Kata Bapak, gagal itu wajar.”
“Tetapi, kamu juga tak boleh seperti Eyang, yang terlalu yakin akan selalu menang.”
“Ishtar tidak memburu kemenangan, tetapi bertekad tidak akan kalah! Bapak percaya, kan?”
“Baiklah, pulanglah, jaga dirimu baik-baik.”
Naik bus kota dia pulang dari penjara, seperti yang dilakukannya setiap kali dia keluar rumah untuk kepentingan apa saja. Dia sudah bertekad tidak akan memanfaatkan mobil dan supir, baik yang disediakan Bapak semasa masih jaya dulu, maupun yang disiapkan Eyang sekarang.
“Bapak senang dengan tekadmu itu. Kamu memang harus tumbuh dengan tanganmu sendiri. Tak baik memang terlalu banyak menerima budi, susah membalasnya,” begitu kata Bapak saat dia pertama kali menolak menggunakan mobil yang disediakan Bapak.
Mengunyah-ngunyah kembali ucapan Bapak itu, pikirannya terus menerawang. Bisakah dia tumbuh dengan tangannya sendiri?
Dia ingat bagaimana perlakuan bank saat dia mau mengambil tabungan pada hari kedua Bapak ditahan.
“Maaf, Dik. Untuk sementara, kami harus membekukan tabungan ini sehubungan dengan penahanan ayah Adik,” kata wanita petugas bank dengan nada yang sama sekali tidak ramah.
“Lho, ini kan tabungan atas nama saya sendiri?”
“Betul, tetapi nama ayah Adik tertera sebagai pengampu,” kilah petugas bank itu pula.
Ishtar hanya bisa memandangi petugas bank itu. Sekeras-keras dia mencoba menahan tangis kenelangsaan, sebutir air bening tetap juga mengalir di pipinya.
Sejenak kemudian, emosinya bangkit. Dia menggigit bibir, mengambil buku tabungan yang diangsurkan petugas. Tangannya dengan cepat merobek-robek buku tabungan itu dan kemudian menaburkan potongan kertas tersebut ke muka petugas bank.
Wanita itu terkesima. Matanya melotot kaget memandangi Ishtar. Isi tabungan itu hampir Rp10 juta!
“Kalau kelak saya menjadi bajingan, adalah sikap bank ini yang menjadi penyebabnya!” teriak Ishtar di sela isak. Wajah wanita itu pucat pasi. Tetapi, dia hanyalah petugas bawahan yang menjalani tugas dari atasannya. Dia hanya bisa memandangi punggung Ishtar yang meninggalkan bank itu dengan langkah gontai.
Menghitung-hitung sisa uang yang berada di sakunya, Ishtar menapaki halaman bank yang luas dan penuh mobil nasabah itu dengan penuh rasa was-was dan khawatir. Haruskah dia angkat tangan dan terpaksa menerima uluran tangan Eyangnya agar dia tinggal di rumah besar Hannuman Abdul Ghani Sentanagupita?
Ishtar mendesah panjang. Dia kian sadar bahwa kini dunia dapat dipastikan tak akan lagi seramah dulu padanya, apalagi bila dia benar-benar bertekad melepaskan diri dari perlindungan Eyang dan para pamannya.
Ketika bus yang ditumpanginya berhenti dekat sekolahnya, Sofi Marfuk, teman sekelasnya, naik dan ketika melihatnya, gadis itu menuju tempat duduk di sampingnya.
“Kamu akan tetap sekolah di sekolah kita,” tanya Sofi tanpa basa-basi.
“Ya, sepanjang Kepala Sekolah tidak memecatku,” jawabnya kalem.
“Kamu tidak malu?”
“Kenapa harus malu? Bapak dipenjara bukan karena Bapak jahat,” sahutnya tegas.
“Memang Bapakmu masuk penjara karena kegagalan bisnis, tetapi, walau bagaimanapun, status kamu sekarang adalah anak orang hukuman.”
“Yang orang hukuman itu Bapak, bukan aku!”
“Kalau aku jadi kamu, aku akan pindah sekolah.”
Ishtar tersenyum. Dalam batinnya, dia ingat sewaktu Bapak melatihnya dengan tekun agar dia dapat mewarisi seluruh jurus silat yang dikuasai Bapak. Waktu itu, Ishtar berlatih fisik bagaikan Rocky berlatih keras di Uni Sovyet sewaktu akan membantai Ivan Drago.
Dunia kini benar-benar tak lagi ramah terhadapnya. Seirama dengan guncangan bus kota yang terseok-seok ketuaan usia, Ishtar merasa bagaikan sedang berlari di atas batu karang runcing tanpa sepatu. Dia terus berlari dan berlari, meskipun karang itu tak kenal capai menusuk-nusuk telapak kakinya.
Dan Sofi Marfuk juga tergolong manusia batu karang seperti itu. Dia terus nerocos menista Ishtar.
“Seharusnya kamu pindah, rasanya seluruh sekolah tak bisa lagi menerima kehadiranmu dengan lapang dada,” katanya.
“Sudah kukatakan, aku tidak akan pindah sepanjang Kepala Sekolah tidak memecatku,” jawab Ishtar adem-adem ayem. Dia bahkan memanggil tukang permen, membeli tiga biji seratus perak. Dikupasnya sebiji dan dikulumnya dengan nikmat.
Siang itu panas sekali, tetapi Ishtar sama sekali tidak merasa gerah, meski laju bus kota itu membuat para penumpang menutup semua jendela.
Angin yang berhembus mempermainkan rambut Ishtar dan sebagian penumpang lain hanyalah angin yang masuk melalui pintu depan bus dan jendela di samping supir.
Sofi yang tidak langsung kena angin merasa gerah, apalagi hatinya gundah, tidak dapat meruntuhkan pertahanan mental Ishtar, yang teguh bagai gunung, tetap tegak berdiri di tengah topan dan badai.
Ishtar sendiri tak hanya kukuh, dia mulai meningkatkan kewaspadaannya untuk mencoba melewati hidup yang pahit itu dengan sikap “nrimå” alias “menerima kenyataan itu apa adanya”.
“Nrimå” tetapi waspada? Benar, ada akibat pasti ada sebab. Perubahan Sofi memang tidak drastis. Sejak dulu anak itu memang suka memusuhinya. Hanya saja, kadar kesengitannya menista Ishtar terasa makin menjadi-jadi, ada apa? Seraya sesekali melirik Sofi di sampingnya, Ishtar mencoba menggali khasanah ingatannya. Tetapi, akhirnya dia sadar bahwa memikirkan hal itu hanyalah membuang-buang enerjinya saja. Dia kembali mengupas permen dan mengunyahnya.
“Persetan dengan kenaikan tingkat kesinisan Sofi,” bisik hati kecilnya.
-.o0o.-

7. KERAMIK PECAH

Turun dari bus kota di depan gang rumahnya, Ishtar tak langsung memasuki lorong sempit itu, melainkan masuk gardu telefon yang sudah tak berpintu.
Rupanya kotak mata uang logam telefon umum itu sudah penuh, Ishtar dapat dengan leluasa menggunakannya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dari kantungnya yang memang sudah menipis.
Pada putaran pertama, Ishtar menghubungi dokter Mintaraga di Rumah Sakit Jiwa. Dia harus tahu perkembangan kesehatan Ibu. Agak lama perawat memintanya menunggu, baru kemudian didengarnya suara lembut dokter muda yang berwajah seram tersebut.
“Apa kabar, Ishtar?”
“Baik, Bapak sudah di dalam kerangkeng. Apa Ibu sudah bisa ditengok?”
“Kamu harus sabar, kelak bila waktunya tiba, kamu akan kujemput.”
“Begitu parahkah?”
“Kamu tahu tentang keramik pecah?”
“Kalau begitu saya tak punya harapan?”
“Tidak sepenuhnya begitu. Aku akan lumatkan keramik pecahan itu dan memprosesnya kembali menjadi baja!”
“Saya percaya dokter seambisi Anda mampu melakukan itu.”
“Tetapi, Eyang setengah-setengah.”
“Maklum, anak Eyang tak hanya Ibu.”
Mendadak telefon itu bercuit-cuit minta dimasuki mata uang lagi. Ishtar memasukkan uang logam yang diambilnya dari sakunya, yang segera keluar lagi di bagian bawah.
“Hai, kamu menelefon dari telefon umum? Saya pikir kamu ditampung Eyang…”
“Saya tak bisa tinggal di istana itu, Dok. Terlalu mewah!”
“Lho, lantas kamu tinggal di mana?”
“Gubuk Bapak.”
“Kamu berani?”
“Pokoknya Anda proses saja Ibu baik-baik, nanti rekeningnya saya kirim.”
“Kamu jumawa, Ishtar. Eyang sudah membereskannya.”
“Tetapi, bila Eyang tahu cara Anda memproses Ibu, subsidi itu bisa mendadak dicabut.”
“Kalau itu terjadi, proses akan tetap jalan.”
“Memangnya Anda akan membiayai sendiri percobaan itu?”
“Ya, bukankah ini untuk kepentingan reputasiku juga?”
“Dokter tak boleh terlalu banyak berkorban, saya masih punya dua tangan dan dua kaki.”
“Kamu sombong, Ishtar!”
“Saya harap Dokter paham, rasanya pada saat Bapak dikerangkeng seperti sekarang, hanya kesombongan-lah satu-satunya modal bagi saya untuk membangun kemandirian, Dok.”
“Selamat berjuang, Ishtar.”
“Terima kasih, Dok.”
Dia kemudian menghubungi beberapa orang lain, tetapi tak lebih dari hanya sekadar basa-basi.
Keluar dari gardu telefon itu, sebutir air mata bergulir di pipinya yang telanjang tanpa bedak. Hatinya teriris menghadapi kenyataan betapa lemahnya jiwa Ibu.
Tetapi, sebutir air mata itu sudah cukup baginya untuk menumpahkan jeritan batinnya. Ishtar yakin dokter Mintaraga mampu memperbaiki keramik yang pecah berantakan itu.
Dan kalau ia gagal, Ishtar harus tetap tegak bagaikan manekin tersenyum di butik kecil dekat perempatan selatan rumahnya.
-.o0o.-

8. SEMANGAT MANDIRI

Melangkah ke rumahnya sekeluar dari gardu telefon itu, Ishtar terbawa alam pikirannya. Dokter Mintaraga benar, ia jumawa dan sombong tadi. Juga perbuatannya merobek-robek buku tabungan ketika petugas bank menolak menguangkan tabungannya.
Akh, tidak! Itu hanya pengunjukan sikap tabah, yang bercampur baur dengan sikap nekad dan rasa putus asa. Dokter Aga tahu hal itu.
Terlepas dari itu, dalam lubuk hatinya, Ishtar masih tetap yakin, pertolongan senantiasa datang ketika dia sedang teraniaya. Pertolongan juga muncul seperti dikirim Tuhan dari langit saat dia gagal menguangkan tabungannya.
Di pelataran parkir bank itu, mendadak didengarnya sapaan.
“Dik, saya kagum dengan sikapmu di dalam tadi,” kata seorang wanita yang tanpa disadarinya sudah berjalan di sampingnya.
Sejenak Ishtar kaget. Dia menghentikan langkahnya. Wanita itu juga. Mereka kini berhadap-hadapan. Dilihat dari wajahnya, usia wanita itu paling hanya berbeda empat-lima tahun darinya.
“Saya pernah lihat Adik di rumah mode Sri Kencana. Saya juga tahu Adik anak siapa. Kenalan yuk, nama saya Meiske, panggil saja mBak Meiske,” kata wanita itu seraya mengulurkan tangan.
Ishtar menjabat tangan itu sambil menyebut namanya dengan nama Bapak di belakangnya.
“Dik Ish mau ke mana?” tanya mBak Meiske kemudian.
Dara itu hanya memandang bingung.
“Kalau begitu, ikut mBak. Mau?”
Beberapa saat Ishtar memandangi mBak Meiske, menimbang-nimbang tawaran wanita itu. Dia tidak melihat maksud jahat tersembunyi di wajah itu, selain rasa simpati yang tulus.
“Dik Ish tidak sungguh-sungguh dengan ucapan Adik di dalam tadi, kan?”
“Ucapan yang mana?”
“Yang terakhir, bahwa Adik akan menjadi bajingan?”
Ishtar diam, tak menjawab. Dia tersipu malu.
“Tidak, kan?” tanya mBak Meiske lagi.
“Tentu saja tidak. Tetapi, terus terang saja, saya belum tahu harus berbuat apa. Yang ada hanya tekad bahwa saya harus bisa menolong diri sendiri.”
“Masih terus menjahit?”
“Masih, meski hanya baju sendiri.”
“Mau menjahit secara profesional?”
“Saya, anak kelas tiga SMA, menjahit secara profesional?”
“Kenapa tidak? Ayah saya memulai kerajaan bisnisnya dengan menjadi kacung usaha tambal ban di tepi jalan saat tamat SMP…”
Begitulah, hari itu dia tidak pulang ke rumahnya, melainkan tidur di butik mBak Meiske setelah dia kecapaian karena begitu bersemangatnya belajar menjahit pakaian bayi dan anak-anak. Hari itu benar-benar merupakan awal hari-hari produktifnya dalam usaha konfeksi.
Dengan kegiatan itu, Ishtar tak hanya dapat uang untuk menopang hidupnya, tetapi juga kesempatan untuk sejenak melupakan nasib buruk yang menimpa Bapak dan Ibu. Selama masa persidangan Bapak yang berlarut-larut dan menyebalkan, entah telah berapa lusin pakaian bayi dan anak-anak yang dirampungkannya.
Ishtar terus melangkah menuju rumahnya. Jip butut warna hijau tentara berhenti mendadak mengejutkannya, Om Ghani melongokkan kepalanya dari ruang kemudi.
“Ishtar, sorry, aku nggak sempat menemanimu mengantar Mas Yudha.”
Yudha –lengkapnya Yudhaprawirasuta– adalah nama Bapak. Hanya Ibu dan Om Ghani yang memanggil dengan sebutan akrab itu. Ini berarti adik bungsu Ibu itu tidak pernah kehilangan rasa hormatnya kepada Bapak meski Bapak kini sudah dikerangkeng.
Ishtar hanya dapat memandang Oom Ghani dengan mata berkaca-kaca. Diam-diam dia tersekap rasa harunya sendiri.
“Sekarang, kamu naik, kamu ditunggu Eyang.”
“Buat apa?” tanya Ishtar dengan alis berkerut.
“Eyang tak mau cucunya terlantar.”
“Siapa yang bilang aku terlantar?”
“Di mata Eyang, kamu begitu, Ishtar.”
“Sebagai anak Bapak, aku berani menyatakan bahwa aku tidak terlantar. Apalagi, Bapak jatuh juga karena sikap Eyang, yang seharusnya tidak demikian terhadap Bapak.”
Om Ghani terdiam. Dipandanginya kemenakan yang sangat disayanginya itu dengan rasa kagum yang berbaur dengan kecemasan. Ishtar paham pandang mata semacam itu.
Om Ghanilah satu-satunya anak Eyang yang paling dekat dengan Bapak selain Ibu. Bahwasanya Om Ghani tidak dapat hadir di Pengadilan Negeri pada hari Bapak di-vonis, itu hanya karena ia harus mempertahankan skripsinya.
“Om Ghani lulus?”
“Lulus, dong. Omnya siapa?”
“Cumlaude atau summa cumlaude?”
“Itu tidak penting, pokoknya lulus.”
“Apa artinya pernyataan itu?”
“Yang lebih penting adalah aku sudah dapat pekerjaan dan tidak lagi menjadi benalu di rumah Eyang.”
“Sebaiknya Om jadi anak manis saja, jangan jadi pemberontak.”
“Aku juga ingin menjadi diriku sendiri. Tidak hanya kamu yang boleh ingin menjadi diri sendiri, kan? Ekh, Ishtar, sebaiknya kamu ikut Om ke rumah Eyang.”
“Boleh, tetapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Om mampir dulu, masih ada pekerjaan yang harus Ishtar bereskan.”
“Okey,” sahut Om Ghani senang, karena akhirnya Ishtar mau dibujuk untuk ikut ke rumah Eyang. Bahwasanya nanti anak perempuan tomboi itu membantah kemauan Eyang, itu soal lain.
Ishtar segera berlari kecil masuk gang. Om Ghani baru menyusul setelah memarkir mobilnya. Tetapi, sesampai di depan rumah Ishtar, ia mendapati pintunya masih digembok. Ia khawatir anak itu menghilang karena dia tidak mau ke rumah Eyang.
Agak lama Om Ghani menunggu di bangku kayu di taman sempit di depan rumah mungil itu. Dua batang 234 diisapnya habis. Persis ketika ia menyalakan batang ketiga, Ishtar muncul dari gang kecil di samping rumahnya dengan membawa segebok kain.
“Sorry, Om. Kelamaan menunggu, ya? Ngurus bisnis dulu, supaya nggak jadi benalu,” katanya seraya mengangsurkan kain itu kepada pamannya.
Dia segera membuka pintu rumahnya. Sudah lama Om Ghani tidak memasuki rumah itu, terutama sejak Bapak diciduk oleh Polisi dan Eyang membawa kembali Ibu ke istananya dan lalu menyerahkannya ke RSJ.
Kembali memasuki rumah itu, Om Ghani melihat dinamisme yang meluap-luap dari seorang Ishtar. Rumah mungil itu sudah berubah menjadi pabrik konfeksi kecil.
Hanya ada satu mesin jahit yang dulu sering dipakai Ibu di sana, tetapi puluhan baju bayi dan anak-anak –baik untuk laki-laki maupun perempuan– bergantungan di sana-sini.
“Kamu sendiri yang mengerjakan semua ini, Ishtar?”
“Tidur empat jam sehari rasanya sudah berlebihan, Om,” kata Ishtar seraya mengambil dan melipat pakaian yang sudah diseterika itu satu per satu.
“Wah, kurang satu, Om masih sabar menunggu, kan?”
Om Ghani hanya tersenyum, tak bisa menolak. Ia kemudian duduk di sofa –satu-satunya barang mewah yang masih ada di rumah itu.
Dulu, meski kecil, rumah itu penuh berisikan barang mewah hadiah pernikahan dari Eyang Kakung dan Eyang Putri, yang tiap periode tertentu diganti dengan yang baru. Kemewahan itulah yang konon membuat Bapak lebih suka mengajak Ibu tidur di hotel pada akhir pekan.
Tak terlalu lama Ishtar merampungkan sepasang pakaian anak yang sudah dijahit kendor itu. Dia kemudian menyeterikanya. Setelah menyatukannya dengan yang lain, Ishtar membungkusnya dengan koran. Om Ghani hanya dapat melihat, betapa besar semangat Ishtar untuk mandiri.
“Untung, Ibu sempat mewariskan kepandaiannya menjahit. Kalau tidak, mungkin Ishtar harus jadi pemulung untuk bertahap hidup, persis seperti Bapak ketika masih bocah ingusan,” kata Ishtar memecah keheningan.
Bapak dulunya pemulung, itu merupakan cerita klasik yang sudah lama didengar Om Ghani sebagai bahan pergunjingan keluarga. Tetapi, mendengarnya sendiri dari mulut Ishtar sekarang, rasanya ia hilang paham akan kebenaran teori kreativitas, terutama di bidang manajemen sumber daya manusia yang enam tahun belakangan ini dipelajarinya di bangku kuliah.
Ketika Ishtar sudah siap meninggalkan rumahnya, Om Ghani seakan masih terpaku pada alur pikirannya sendiri.
“Om Ghani bisa antar Ishtar ke butik dekat kampus Om, kan?”
“Kamu tidak sekalian membungkusnya dengan kotak kardus berjendela kertas kaca?”
“Maunya begitu, Om. Tetapi, modal Ishtar masih cupet.”
Di saku jas pemuda itu, ada buku cek yang belum disobek selembar pun. Ingin rasanya ia mengisinya selembar untuk menambah modal kemenakannya itu. Tetapi, merogoh sakunya pun ia tidak berani, jangankan mengisi cek itu dan menandatanganinya.
Ia hampir 100 persen yakin, Ishtar akan marah besar bila ia menawarkan bantuan modal. Ia tahu, Ishtar sudah belajar mandiri sejak dia belajar merangkak.
Semua anggota keluarganya tahu dan kagum akan hal itu, tetapi tidak menyangka kalau Ishtar akan bersikap demikian di medan perjuangan hidup yang sebenarnya.
Dan hanya Om Ghani yang kini paham bahwa Yudhaprawirasuta telah mempersiapkan masa depan putri tunggalnya bahkan sejak anak itu masih di dalam kandungan.
-.o0o.-

9. KEJUTAN EYANG PUTRI

Istana keluarga orang kaya Hannuman Abdul Ghani Sentanagupita yang lebih sering dipanggil Eyang bahkan oleh mereka yang bukan keluarga dekat itu makin semarak dengan lampu kristal dan kamera CCTV (televisi sirkuit tertutup).
“Kompleks ini makin lama makin angker. Ada anjing buldog, ada hansip berotot bawa pentungan, dan kini ditambah dengan kamera CCTV. Agaknya penghuninya makin lama kian jadi pengecut dan takut mati. Seandainya bukan Om Ghani yang mengajak Ishtar ke sini, Ishtar ogah memasukinya,” kata Ishtar mengomentari kompleks yang luasnya dua kali lapangan bola itu.
Om Ghani hanya bisa tersenyum kecut mendengar kecaman pedas itu. Dari tiga pintunya yang lain, serentak masuk tiga mobil mewah terbaru dari berbagai merk.
“Hei, rupanya ada sidang lengkap, ya Om?”
“Begitulah.”
“Bicarakan Bapak?”
“Boleh jadi.”
“Ishtar jadi segen.”
“Takut?”
“No way,” sahutnya seraya turun dari mobil. Tanpa menyalami empatbelas anggota keluarga besar itu yang sudah lebih dulu hadir di ruang utama rumah itu, Ishtar langsung menuju ke kamar yang perabotannya paling sederhana di kompleks besar itu.
Eyang Putri yang sudah agak rabun dan pikun itu asyik mengunyah kacang remuk di kursi goyang antik dekat jendela. Ketika Ishtar tinggal lima langkah lagi darinya, barulah orang tua itu berpaling dari keasyikannya.
“Srie Ishtari Yudhaputri,” sapa Eyang Putri menyebut nama lengkapnya dengan suara gemetar. Gembira dan haru terpantul dalam suara itu. “Sudah hampir setahun kamu tidak ke sini.”
Mendengar suara itu, Ishtar seakan kehilangan semua sikap kerasnya. Dia merasa bersalah sekian lama tidak menghadap Eyang Putri. Dia kini seakan kembali menjadi bayi, yang dulu memang lebih banyak dirawat oleh Eyang Putri karena Ibu memang tidak pernah siap menjadi ibu.
Bagi Ishtar, pada masa bayinya, Eyang Putri adalah sebenar-benarnya ibu, yang mengganti popoknya bila dia kencing, yang menimangnya bila dia menangis, yang mendekapnya bila dia kedinginan, yang…, yang…! Pokoknya Eyang Putri adalah sebenar-benar pelindung yang sangat pengasih baginya.
Sekarang, jarak itu semakin menjauh, rentan, dan sewaktu-waktu terancam putus.
“Kamu akan diadili, Srie Isthari.”
“Ishtar tahu, Eyang tak perlu cemas, Ishtar sudah besar, tak lagi bau kencur.”
“Bapakmu memang hebat. Sayang, ia sedang sial.”
“Eyang masih menyayangi Bapak?”
“Aku yang bicara dulu ketika bapakmu kebingungan harus berkata apa sewaktu menghadap untuk melamar ibumu.”
Ishtar sudah berulang kali mendengar cerita itu. Tetapi, setiap kali mendengarnya dari bibir Eyang Putri, hatinya selalu trenyuh.
“Waktu itu, Eyang Kakung tidak setuju. Aku mendampratnya habis-habisan. Kamu tahu, Eyang Kakung selalu berpandangan cupet dan merendahkan orang lain, terutama dari sudut derajat, pangkat, dan semat. Aku sebenarnya benci sifatnya itu. Tetapi aku produk zaman kuda gigit besi, aku istrinya, belahan jiwanya.”
Ini juga cerita lama bagi Ishtar. Tetapi, mendengarnya lagi pada saat seperti sekarang ini, dia seakan mendapat dukungan semangat yang membahana.
“Bagaimana dengan usaha konfeksimu, Srie Ishtari?”
Ishtar kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka Eyang Putri akan bertanya demikian. “Eyang Putri tahu? Eyang Putri kan selalu di rumah, nggak pernah ke mana-mana…”
Eyang Putri tersenyum mafhum. “Mitra kerjamu yang punya butik dekat kampus Om Ghani itu kan pacarnya.”
“Lho, koq Om Ghani tadi menyimpan rasa heran sewaktu berada di rumah Ishtar?”
“Ghani terlalu sibuk mempersiapkan dirinya untuk menjadi pengganti Eyangmu di perusahaan utama kita. Butik itu milik pacarnya pun ia tidak tahu. Pacarnya itu sering diajaknya ke sini untuk menemani Eyang Putri sejak kamu tidak ke sini. Dia sangat menyukaimu. Dia cerita tentang kamu, memuji kerapian hasil jahitanmu.”
“Selama ini Mbak Meiske tak pernah cerita tentang Eyang dan Om Ghani.”
“Itu rahasia kami. Tetapi, hari ini kamu perlu mendengarnya, agar kamu tidak merasa sendirian, masih ada Eyang Putri dan Mbak Meiske.”
Mendengar itu, Ishtar berlutut dan menumpahkan air matanya di pangkuan Eyang Putri, kali ini tak hanya sebutir, bendungannya dadal.
“Ibumu tidak mewarisi semangatku, padahal anak perempuanku hanya dia. Aku kecewa, tetapi ternyata dia mampu menetaskan anak macam kamu, kekecewaanku tertebus.”
Ingat kepada Ibu, tangis Ishtar makin menjadi, apalagi ketika dirasanya tangan Eyang Putri dengan lembut mengelus-elus rambutnya penuh kasih.
-.o0o.-

10. BAYI MELAWAN RAKSASA

Muncul memapah Eyang Putri di kamar makan rumah besar itu, Ishtar melihat delapan pasangan, termasuk Om Ghani dan Mbak Meiske yang masuk ke ruang itu dari pintu depan bersamaan dengan masuknya Ishtar dan Eyang Putri, sudah duduk di tempatnya masing-masing sesuai dengan kedudukannya.
Sang Hannuman alias Eyang Kakung duduk dengan angkuh di kursi utama. Dua kursi di samping kiri dan kanannya masih kosong, sedangkan yang lain semuanya sudah terisi. Itu berarti Ishtar dianggap mewakili Ibu sebagai putri sulung.
“Eyang Kakung, sebelum Ishtar duduk, Ishtar ingin mengajukan pertanyaan, boleh?” katanya pelan tetapi tegas. Hampir semua yang hadir di ruangan itu kaget mendengar pertanyaan Ishtar. Mereka rata-rata mengernyitkan alis.
Wajah Sang Hannuman, yang tidak suka didului, memerah. “Apa maumu, Ishtar?” sahutnya dengan suara keras dan berat.
“Ishtar punya suara dalam rapat ini?” tanya perawan itu.
“Tentu.”
“Terima kasih. Tetapi, Ishtar hanya akan duduk di ruangan ini dan tidak ikut makan. Di penjara, Bapak entah makan apa dan di Rumah Sakit Jiwa, Ibu pasti sulit makan,” sahutnya enteng.
“Omongan macam apa itu?” bentak Sang Hannuman.
“Kalau Eyang tak setuju, Ishtar bahkan tidak berselera duduk di ruangan ini.”
Wajah Sang Hannuman merah padam, tetapi kemudian memucat saking marahnya. Dipandangnya cucunya yang bandel itu dengan mata membulat menyorot tajam. Dengan berani, Ishtar membalas tatapan itu.
“Baik, rupanya tak ada gunanya lagi Ishtar berada di rumah ini. Sebenarnya ada satu hal penting tentang mati-hidup Ibu yang ingin Ishtar bicarakan dengan Eyang. Tetapi, karena agaknya hati Eyang sudah tertutup dan tidak memahami situasi depresif yang sedang Ishtar alami, Ishtar terpaksa pulang,” kata Ishtar seraya mencium tangan Eyang Putri dan siap melangkah ke luar.
“Tunggu, Ishtar,” kata Sang Hannuman dengan suara tetap keras.
“Apakah Eyang tidak sebaiknya makan dulu dan Ishtar tunggu di ruang keluarga? Ishtar khawatir Eyang tak dapat makan dengan tenang dan nikmat di depan anak dari seorang bapak yang buruk,” kata Ishtar dengan tanpa rasa takut sedikit pun.
“Sebaiknya memang begitu, Hanu,” kata Eyang Putri menengahi.
“Ghani, bawa makananmu dan jaga dia,” kata sang Hannuman.
“Tidak perlu, Om Ghani, Ishtar bukan pengecut.”
Akhirnya Ishtar dibiarkan pergi ke ruang keluarga. Piano besar di ruangan itu masih terawat rapi. Tangan Ishtar segera menari-nari di atasnya membawakan lagu yang sepertinya belum pernah diciptakan orang sebelumnya.
Pada pengulangan pertama, tampak ada beberapa kuplet yang lebih disempurnakan, dan pada pengulangan kesepuluh, Ishtar sudah pindah ke keyboard model terbaru di samping piano itu untuk memainkan lagu tersebut secara orkestra.
Om Ghani yang pertama kali memasuki ruangan itu bersama Mbak Meiske bertepuk tangan dan bertanya, “Lagu apa itu, Ishtar?”
“War between the baby and the giant,” sahut Ishtar seraya memulai pengulangan kesebelas.
“Rasanya aku belum pernah mendengar lagu berjudul begitu,” sahut Om Ghani.
“Memang lagu itu baru diciptakan beberapa menit terakhir ini oleh bayi itu sendiri, Srie Ishtari Yudhaputri,” jawab Ishtar seperti sengaja menyindir Sang Hannuman yang memasuki ruangan itu bersama yang lain.
“Sejak kapan kamu jadi komponis, Srie Ishtari?” tanya Eyang Putri yang dipapah oleh salah satu omnya.
“Sejak Bapak memberi tahu Ishtar bahwa ada orang yang sengaja menghambat kemajuan bisnisnya.”
Mendengar jawaban seperti itu, tidak ada yang berani menyahut, kecuali…
“Siapa orang yang kamu maksud, Ishtar?” tanya Sang Hannuman pada akhirnya.
“Bapak bungkam dan Ibu juga diam, tetapi Ishtar tahu.”
“Siapa?”
“Eyang!”
Mata orang tua itu meliar. Wajahnya merah padam karena marah dan malu dipukul telak di hadapan anak dan menantunya, yang selama ini menganggapnya bagaikan malaikat.
Tetapi, hari ini perawan yang dipandangnya masih bau kencur yang bernama Ishtar itu menelanjanginya habis-habisan. Namun, Sang Hannuman mendadak menyadari sesuatu ketika dilihatnya mata istrinya berbinar-binar ceria.
“Ishtar, apa yang kamu ingin bicarakan dengan aku perihal ibumu?” tanyanya setelah menghela nafas panjang.
“Eyang masih menyayangi Ibu?” sahut anak itu dengan suara yang tidak seketus tadi.
“Dia putri tunggalku, Ishtar.”
“Pahamkah Eyang bahwa karena Eyang mengasihinya berlebihan, Eyang telah menggosok Ibu hingga sebening kaca dan bahkan akhirnya menjadi patung kaca itu sendiri?”
Sang Hannuman menghela nafas panjang.
“Ibu mencintai Bapak. Bagi Ibu, Bapak adalah segala-galanya. Bagi Ibu, Bapak adalah manusia super. Karena itu, kegagalan Bapak tidak hanya sekadar kegagalan bagi Ibu, melainkan kehancuran total, kiamat!” kata Ishtar dengan suara yang makin lama kian mengandung sendat.
“Bapak sebenarnya sudah lama menyadari bahwa Bapak, cinta Bapak yang demikian besar kepada Ibu, telah memperparah keadaan, dengan membuat bola kaca ciptaan Eyang dan Eyang Putri itu menjadi Putri Kristal. Sekarang, hari ini,” Ishtar berhenti berkata, menyeka air matanya yang menderas, “kristal itu telah pecah, hancur berkeping-keping.”
Ruangan itu hening. Hanya tangis Ishtar yang menghiasinya. Mendadak Ishtar mendekati Eyangnya, berlutut di depannya.
“Sekarang, Ishtar akan memohon tiga hal kepada Eyang.”
“Katakan apa itu, Ishtar,” kata Sang Hannuman dengan membelai rambut cucu sulungnya yang diam-diam sangat disayanginya itu, betapapun bencinya ia terhadap Bapak.
“Satu, Eyang harap bebaskan Ishtar memperjuangkan hidup Ishtar sendiri.”
“Kamu masih sekolah, mestinya kamu belajar saja baik-baik agar prestasi sekolahmu baik.”
“Itu konvensional, Eyang. Kini sudah zaman modern, wanita bisa menjadi apa saja yang diingininya. Ishtar ingin sekaligus matang di bangku sekolah dan juga di kancah kehidupan.”
Meski terasa berat, setelah agak lama berpikir-pikir, orang tua itu akhirnya menjawab, “Baik, yang kedua?”
“Ishtar mohon Eyang percaya dokter Mintaraga akan berhasil mengubah patung kristal kita menjadi manusia baja.”
Lama Sang Hannuman tepekur memandangi cucunya. Bayangannya menjalar ke laboratorium terapi kejiwaan yang dikembangkan dokter Mintaraga. Banyak barang baru yang musykil-musykil di sana. Ada yang didatangkan dari Uni Sovyet. Ada pula yang datang dari Amerika Serikat. Bagi manusia biasa, alat itu menakutkan, terutama yang mengandung terapi kejutan listrik.
Sang Hannuman tidak dapat segera menemukan argumentasi yang membuatnya menyetujui permohonan Ishtar itu.
Eyang Putri juga tampak berpikir keras. Om Ghani, Om Musthafa, Om Farkhan, Om Saleh, Om Daud, Om Sulaiman, dan Om Pangat, serta semua perempuan mereka, termasuk Mbak Meiske, juga tampak berpikir keras.
“Daud, kau yang belajar kedokteran bisa menyumbangkan saran?” kata Sang Hannuman pada anaknya yang nomor empat itu.
“Saya masih terpaku pada ilmu kedokteran konvensional, Ayah, tetapi perkembangan ilmu kedokteran jiwa akhir-akhir ini telah melampaui batas negara dan Mintaraga termasuk calon anggota kelompok eksklusif dokter ahli jiwa yang bertekad menemukan terobosan dalam perawatan kejiwaan, termasuk kemungkinan mengilmukan apa yang selama ini kita kenal sebagai ‘ngelmu’, Ayah.”
Sang Hannuman mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, pada akhirnya jawaban yang keluar dari mulutnya tetap, “Sulit, Ishtar, sulit, kita semua takut kehilangan ibumu selama-lamanya.”
Ishtar berdiri, bertentang mata dengan Sang Hannuman. “Kenapa sulit? Kalau dokter Mintaraga gagal, paling-paling pecahan kristal itu menjadi lebih kecil. Apa bedanya lebih kecil dengan kecil, sama-sama pecahnya, bukan? Lebih baik kita percaya saja dokter Mintaraga dan membantunya dengan do’a.”
Sang Hannuman terbelalak. Apa bedanya lebih kecil dengan kecil? Ishtar benar, sangat benar, hakikatnya putri tunggalnya itu telah mati, satu-satunya harapan hanyalah menunggu keajaiban dan siapa tahu dari tangan Mintaraga keajaiban itu lahir.
“Aku akan mencoba menerimanya, Ishtar,” kata Sang Hannuman setelah memahami hakikat pertanyaan Ishtar itu.
“Ishtar yakin, kelak Eyang akan tahu siapa sebenarnya dokter Aga.”
“Baik, yang ketiga?”
“Tak perlu dibicarakan lagi. Eyang boleh tarik subsidi biaya perawatan Ibu.”
Sang Hannuman terhenyak.
Ishtar mendekati Eyang Putri, mencium pipinya, dan kemudian pelan-pelan meninggalkan ruangan yang senyap itu dengan melambaikan tangannya kepada semua orang. Dia tak perlu dan tidak ingin menunggu komentar Eyang atas permohonannya yang ketiga itu. Boleh jadi Sang Hannuman akan tersinggung dan marah besar, dan tidak mustahil ia akan menciptakan kendala bagi Ishtar, cucunya yang sebenarnya sangat disayanginya itu, dan juga kendala bagi dokter Mintaraga.
Ishtar tak peduli. Yang penting baginya adalah menggembalikan kebanggaan Bapak sebagai manusia, bukan orang hukuman!
-.o0o.-

11. MEMBUNUH KEPEDIHAN

Membuka matanya pagi itu, Ishtar sangat terperanjat. Jam butut di dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Meski butut, jam itu tak pernah salah menunjuk waktu. Pegasnya dibuat dari baja lentur mutu tinggi.
Jadi, selama Ishtar tak pernah lupa memutarnya pada waktunya, jam itu akan tetap setia menunjuk waktu. Dengarlah dentangnya, masih jernih, lantang, dan enak didengar.
Bel pintu berbunyi. Zaglul, yang sering menjadi teman sebangkunya, tersenyum menyeringai di depan pintu sewaktu Ishtar membukanya.
“Ishtar, numpang sarapan pagi, aku lapar banget,” pintanya memelas.
“Ada nasi sisa kemarin, bikin nasi goreng sendiri, mau? Aku baru bangun tidur, rasanya tak sempat lagi ngurusin makanan.”
“Beres, Ishtar, mandilah, entar habis mandi dan bersolek, sarapan sudah tersedia,” sahut Zaglul seraya melempar tas sekolahnya ke meja. Ia langsung melangkah menuju dapur.
Ishtar tidak langsung mandi. Dia menyelesaikan pekerjaan konfeksi yang dilemburnya malam sebelumnya. Dia tidak hanya butuh uang yang sangat banyak untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, tetapi dia juga membutuhkan kesibukan itu sendiri untuk membunuh kepedihan yang dideritanya.
Memikirkan nasib Zaglul yang sedang sibuk menggilas bumbu dan cabai, Ishtar merasa jauh lebih beruntung. Anak itu hanya bisa menjadi tukang parkir atau penjaja koran untuk mempertahankan hidup setelah bapaknya mati bunuh diri.
“Lul, apa rencanamu selepas SMA?” tanyanya iseng, seraya masuk kamar mandi.
“Kuliah, tetapi mungkin terpaksa di sekolah yang paling tidak bermutu. Aku kan nggak punya modal ke perguruan tinggi favorit.”
“Kamu kan juara kelas, dapat beasiswa, kan?” kata Ishtar setengah berteriak dari kamar mandi.
Zaglul tak menyahut karena didengarnya Ishtar sudah mulai mengguyuri tubuhnya. Zaglul sebenarnya malu setiap kali ia harus mengganggu Ishtar dengan mengurangi jatah makannya. Tetapi, ia tidak bisa mikir dalam keadaan lapar dan Ishtar boleh dikata merupakan satu-satunya teman sekolahnya yang mau mengerti penderitaan orang lain.
“Ishtar, ajarin aku cara cari duwit yang lebih bagus…”
“Kau mau belajar menjahit pakaian bayi?”
“Kalau hanya sekadar menyambung-nyambung sih rasanya aku bisa, tetapi untuk merancang dan memotongnya, aku nggak mampu.”
“Kalau begitu, selepas sekolah nanti, kamu bantuin aku menjahit. Kayaknya dengan cara itu, kita dapat mengumpulkan uang lebih banyak untuk masa depan.”
“Kamu serius dengan tawaranmu, Ishtar?”
“Kalau kau masih lebih suka jadi tukang parkir atau menjajakan koran, ya terserah.”
“Jumlah tukang parkir dan tukang koran makin banyak, Ishtar, persaingan makin ketat dan aku lebih sering makan angin akhir-akhir ini. Telah lama terpikir olehku untuk pindah bidang usaha,” jawab Zaglul berlagak seperti usahawan besar.
Ishtar hanya tersenyum melewati Zaglul dengan handuk besar terlilit di tubuhnya. Zaglul membaui harum aroma sabun dan tubuh perawan itu, yang membuatnya serasa melayang. Tetapi, sebagai anak bapaknya yang lepasan pesantren, tak terpikir olehnya untuk menarik lepas handuk itu. Ia sangat menghormati Ishtar.
Pikiran Zaglul menimbang-nimbang. Ada sesuatu yang telah beberapa lama ini menganggu pikirannya, tentang Argha Dian Angkasa. Ia membulatkan tekad untuk memberi tahu Ishtar. Tetapi, ketika Ishtar keluar dari kamarnya dengan memakai seragam sekolah, Zaglul menelan kembali tekad itu. Ia tidak tega. Di matanya, Ishtar masih tampak berkabung.
-.oOo.-

12. TETAP CUEK

Berdua Zaglul, Ishtar naik bus kota ke sekolah. Penumpang ber-jubel, tetapi dalam perlindungan Zaglul, Ishtar dapat menikmati perjalanan dengan santai dan nyaman.
Seperti biasa, pada etape terakhir perjalanan, mereka satu bus dengan Sofi Marfuk. Beo satu ini langsung saja nerocos. “Kamu ternyata gigih juga, Ishtar,” sapanya sinis.
Zaglul siap menyemprotnya, tetapi Ishtar menggamit lengannya.
“Hai, semalam aku bicara dengan Ayah. Kata Ayah, Bapakmu tidak mungkin dikurung bila hanya pailit.”
“Memang,” sahut Ishtar kalem.
“Jadi, Bapak kamu melakukan manipulasi, kan?”
Ishtar hanya tersenyum, tetap cuek, mengunyah-ngunyah permen. Tetapi…
“Sofi, ada kalanya orang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya,” bentak Zaglul hilang sabar.
Lagi-lagi, Ishtar tetap tenang-tenang saja mengunyah permen.
“Begitu?” kata Sofi mencibir.
“Sekali lagi kamu mengolok-olok Ishtar di depan hidungku, dengan terpaksa aku beri kamu pelajaran!”
“Kamu berani?” kata Sofi semakin mencibir.
“Aku pegang rahasia ayahmu. Bapakku mati bunuh diri karena ulah ayahmu. Kamu tahu itu, kan? Kamu pikir, aku akan selamanya berdiam diri? Seandainya bapakku tidak pesan wanti-wanti, aku pasti sudah hajar ayahmu sampai mampus. Tak selamanya uang berkuasa, Sofi,” sembur Zaglul bagai mitraliyur.
Sofi Marfuk mendadak terdiam. Wajahnya pucat pasi. Dia tiba-tiba merasa ngeri, ingat waktu barisan tukang parkir dan penjaja koran menyerbu rumahnya setelah bapak Zaglul bunuh diri. Dia lihat ayahnya ketakutan setengah mati. Justru Zaglul-lah yang muncul membubarkan barisan orang yang kalap itu.
Ishtar tersenyum, “Tak baik mengancam orang begitu rupa, Zaglul.”
“Habis, dia kelewatan!”
Bus kota yang sudah sarat penumpang itu berhenti. Dua penumpang turun, tetapi yang naik tujuh. Ishtar merasa dadanya sesak, tak bisa mengambil nafas dengan leluasa.
Sofi Marfuk bergegas turun begitu bus kota sampai di depan pintu gerbang sekolah. Ishtar dan Zaglul berjalan santai di belakangnya.
“Ishtar, kamu tahu apa yang membuat Sofi begitu sinis?” tanya Zaglul setelah Sofi memisahkan diri menuju kantin.
Ishtar hanya tersenyum.
“Jawab, dong,” teriak Zaglul.
“Memangnya perlu?” sahut Ishtar.
“Kamu tahu atau tidak?”
“Tahu!”
Tak berkedip Zaglul memandangi Ishtar. Kali ini ia benar-benar merasa tidak mengenal Ishtar, meski selama ini ia tahu hampir semua pori-pori wajah Ishtar yang mana yang pernah ditumbuhi jerawat dan mana yang belum pernah sama sekali.
“Sungguh?” tanyanya lagi menegaskan.
“Sure la yaouwwww!”
“Kamu benar-benar tahu?”
Dengan sabar Ishtar mengangguk. Dalam batinnya terbayang, beberapa hari yang lalu di pasar swalayan, dia diam-diam memergoki Sofi dan Argha asyik saling menyuapkan es krim.
“… Bahwa ini soal cowok?” tanya Zaglul lagi.
Lagi-lagi Ishtar mengangguk.
“… Bahwa ini soal Argha Dian Angkasa?”
Kali ini Ishtar menghentikan langkah Zaglul, mengajaknya berdiri berhadap-hadapan, memegangi jari-jemarinya, memandanginya dengan mata menyorot tajam, baru kemudian berkata…
“Raden Mas Zaglul ibnu Karim, tatkala pokok tumbang, seakan batang mawar tak lagi berbunga, melainkan membanyak durinya, kumbang pun segan dan pindah ke bunga lain!”
Zaghlul memandangi Ishtar.
“Kamu bukan mawar, kamu tak punya duri!”
Ishtar tertawa terbahak, tawa yang penuh kegetiran, baru kemudian menyahut, “Memang, tetapi bapakku orang hukuman dan ibuku penghuni Rumah Sakit Jiwa. Jadi, di mata banyak orang, aku adalah wabah yang menakutkan. Begitu!”

Teluk Bukit Merah Permai, 10 Juli 1994.
-.o0o.-
(MMSM).-

Read Full Post »

Cerita Pendek Martin Moentadhim S.M.:

TAKDA AMPUN BAGI SANG KARIB

Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Besar (Purn.) Soeharto telah tumbang. St, pakai kata dasar “tumbang” saja biar netral! Akh, itu sebenarnya tidak penting benar bagi Paimin, karena ia cuma penarik becak.
Yang pasti, dengan tumbangnya Orde Baru setelah berkuasa empat windu, ia tidak perlu lagi main kucing-kucingan dengan petugas bila ia harus mengantar pelanggannya yang istimewa ke kawasan Ibu Kota.
Pelanggan istimewa? Yya! Menurut Anda, dia itu harus bagaimana? Cewek? Boleh saja dia perempuan! Cantik? Ini mah relatif. Jadi, terserah Anda sajalah!
Bagi Paimin, yang bernama lengkap Paijo Minir, karena memang selalu bernasib minir, yang paling asyik darinya ialah parfumnya. Minyak kostum ini memang perpaduan antara wangi bunga melati, ditambah sedikit mawar dan sedikit cempaka, dengan “madu”.
Madu? Ini yang agak merepotkan untuk dijelaskan. Sampai kisah ini ditulis, wanita itu tidak pernah bercerita bagaimana cara membuat cem-ceman[1] yang satu ini.
Yang pasti, bila membau parfum itu, Paimin selalu ingat minyak wangi berbau gula yang dikeluarkan di Paris pada awal 1970-an yang didapatnya dari temannya yang pelaut. Akh, entah di mana sekarang pelaut yang lebih berbakat menjadi peragawan itu?
“Mas, bisa antar saya, nggak?”
Paimin terbangun dari lamunan. Terus terang saja, telah satu jam ia menunggu dan sudah sembilan penumpang ia tolak, hanya karena ia ingin menunggu Si Dia, bagaimana mungkin ia bisa menjawab tidak?
Akan tetapi, sebagai jawabnya ia hanya tersenyum tersipu seraya bangkit dari duduk dan serta-merta sedikit mengangkat roda belakang becaknya untuk memudahkan Si Dia menaikinya, setelah menaruh segala sayur-mayur belanjaannya.
Ada lagi yang istimewa dari Si Dia bila naik becaknya. Dia selalu minta agar kapnya dibuka saja. Wah, buka kap kan biasa saja, apanya yang spesial?
Ini memang bukan soal kap. Si Dia selalu membelah rambutnya yang panjang untuk menjepit lehernya dan membiarkannya tergerai tepat di atas masing-masing payudaranya yang terbungkus kebaya tipis setelah BH.
Payudaranya itu yang istimewa? Akh, Anda salah besar! Paimin kan menarik becak di belakang, bagaimana mungkin yang di bagian depan menjadi penting baginya? Yya, memang tidak demikian. Yang istimewa bagi Paijo Minir untuk ini adalah tengkuknya, yang membuktikan adanya kesamaan antara dia dengan Paimin. Lho, koq?
Setiap kali melihat tengkuk itu, Paimin otomatis mengeluarkan kekuatan batiniahnya untuk membuat perempuan itu berpaling agar ia bisa melihat wanita tersebut dalam posisi yang memungkinkannya mengukir siluet Si Dia pada kulit kerbau dan menjadikannya wayang Srikandi, perempuan perkasa istri Arjuna yang berhasil mengantar Bisma ke gerbang kematian pada awal Baratayudha, perang sesama keturunan Barata.
Entah telah berapa banyak wayang kulit berdasarkan siluet Si Dia yang sudah dibuatnya selama sepuluh tahun terakhir ini dan entah telah berapa banyak peminat seni pewayangan Jawa serta sahabatnya yang telah mengoleksinya, yang membuat Paimin juga dikenal sebagai seniman sungging[2].
Akan tetapi, lagi-lagi bukan itu yang membuat keistimewaan. Lantas, apa pula itu??!!!
Bila dipandangi demikian oleh Paijo Minir, perempuan itu pasti protes dengan kalimatnya yang khas. “Mas, mbokyao jangan melihat dengan cara begitu. Kalau ingin aku berpaling, bilang saja, berapa ratus kali pun aku mau koq!”
Lagi-lagi, Paijo hanya bisa tersenyum tersipu. Tengkuk itu memang indah, mungkin sama dengan tengkuk Yenny Rahman yang membuat sutradara Sjuman Djaya kemecer[3] dan terpaksa menghentikan syuting untuk… bila melihat tengkuk Yenny, apalagi bila Yenny habis keramas.
Lebih dari itu, wanita tersebut telah bercerita bahwa dia pernah kesengsem[4] pada Pak Lurah di kampung asalnya. Bila lagi kumat isengnya, kepala desa tersebut suka menghibur rakyatnya dengan manggung sendiri sebagai tukang hipnotis dan perempuan tersebut, yang waktu itu masih lebih kinyis-kinyis[5], sering dijadikan sarana peraga.
Itu yang membuatnya menjadi primadona kampung. Itu pula yang menjadikannya jatuh cinta kepada si kepala desa —sttt, selain karena memang Pak Lurah itu nggantheng[6] dan berkumis lebat a la Rusman (almarhum) Si Gatutkaca Wayang Orang (WO) Sriwedari Surakarta.
Jauh lebih dari itu, si dia —Waginah namanya!— sewaktu masih di Sala memang pernah juga mocok[7] di Sriwedari, main jadi apa saja: Srikandi, Sembadra, Arjuna, Rama Wijaya, Laksmana, atau sekadar jadi emban atawa nyai.
Sangat jauh lebih dari itu, di WO Sriwedari lah, Paimin dan Waginah bertemu. Ketika itu, Paimin —yang sedang ngulandara[8] mengadu nasib di Surakarta Hadiningrat— memberanikan diri menggantikan Rusman, yang sedang pergi entah ke mana, menjadi Gatutkaca, sedangkan Waginah di-dapuk menjadi Pergiwa.
Ada yang jauh lebih jauh lagi dari nostalgia temu muka pertama Paimin-Waginah?
O, so pasti begitu! Anda tahu siapa yang menonton mereka manggung malam itu? Sang Pelaut yang lebih pantas jadi peragawan itu sedang mengajak serombongan pejabat pusat —semuanya tentu saja orang Jawa— yang ditugasi oleh Presiden untuk memesan payung dari kayu cendana —ongkos bikinnya saja Rp300.000 per payung— kepada Mitro Handoyo, satu dari sedikit sisa perajin payung kertas dari Juwiring, Kabupaten Klaten. Di dalam rombongan itu, ada dua petinggi yang teman se-SR Paijo Minir. Stt, sekolah boleh sama, tapi nasib…
Tanpa terasa Paijo Minir telah membelokkan becaknya untuk menyusuri jalan tepat di perbatasan Jakarta-Bekasi. Mendadak sontak muncul sekonvoi mobil patroli. Setelah cukup mengamati Paimin dan Waginah, rombongan itu berhenti dalam posisi “mengepung” Paimin, yang serta-merta menginjak dalam-dalam rem becaknya, sampai-sampai Waginah hampir terjerambab bila tidak buru-buru mencengkeram besi hiasan tepi sang becak.
“Maaf, Bapak dan Ibu harus ikut kami,” kata sersan satu yang mendekati Paimin setelah menghormat kepadanya.
“Ada apa, Pak? Apa salah saya? Setelah reformasi, becak boleh masuk pinggiran Jakarta, kan?” tanya Paijo Minir.
“Ini foto Bapak dan Ibu, kan?” jawabnya seraya menyodorkan selebaran yang sejak tadi dipeganginya. Di selebaran itu, ada tulisan besar, “DICARI INTERPOL!” Hanya saja, di bawahnya, ada sekalimat tulisan kecil yang bagi Paimin pasti itu fitnah, “Telah membobol Bank Sentral Jepang melalui hubungan komputer dari satu hotel kecil di kota judi Makao.”
Bagaimana mungkin penarik becak yang lebih sering numpang tidur di emperan Pasar Kranji, Bekasi Barat, bisa pergi ke Makao dan membobol Bank Sentral Jepang? Sungguh itu hil yang mustahal!
Paimin dan Waginah lantas diborgol dan dimasukkan ke salah satu mobil di rombongan patroli itu. Wajah keduanya pucat pasi. Mayoritas sinar pada wajah itu menunjukkan ketakutan, sedangkan sisanya yang sedikit adalah tanda tanya. Pada akhirnya, dalam batin, keduanya cuma sebisa-bisanya membaca do’a, membaca nama Tuhan yang memang senantiasa diingatnya baik dalam kepapaan maupun saat sedikit rejeki mampir di saku mereka.
Di satu kantor, mereka diserahterimakan kepada serombongan petugas yang lebih tinggi. Berbusa-busa keduanya berusaha memberikan penjelasan, tapi itu semua tampaknya sudah tidak ada gunanya lagi. Terakhir, ketika semua protesnya tidak didengar, Paijo kalap dan memaki kalang-kabut mengeluarkan segala isi kebun binatang dan bahkan yang ada di luarnya. Terakhir sekali, dia keluarkan makian gaya Surabaya, “Juancuk!!!”[9].
Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi? Mulut Paijo dan Waginah disumpal, matanya pun ditutup dengan kain hitam, serta kemudian diseret pergi dan dinaikkan mobil entah ke mana dan entah berapa lama perjalanan itu. Keduanya tak bisa lagi merasakan karena telah pingsan kelelahan. Ketika sadar, telinga mereka mendengar suara gamelan ditabuh.
Gamelan? Di kantor apa di Jakarta, ada gamelan? Rasanya tidak mungkin ada yang demikian. Lantas, kalau begitu, kini mereka ada di mana? Ketika mata mereka —yang tak lagi dibalut kain hitam— dibuka, yang ada cuma kegelapan. Tangan mereka pun tak lagi diborgol.
“Gin, kita ada di mana?”
“Rasanya kita tidak di kamar tahanan. Hawanya tidak pengab dan sepertinya ada sistem hawa sejuk,” begitu dari dulu cara Waginah menggambarkan adanya AC di ruangan itu. Dia memang pernah menjadi TKW[10] di Malaysia dan pulang kembali ke Pondok Kelapa, Jakarta Timur, setelah tak betah makan nasi minyak a la Bombay yang sering disediakan tuan rumahnya.
Mendadak hidung Paijo mengendus-endus. Makin dibaui kian terasa jelas mereka berada di mana. Suara gamelan itu pun kian menggencar. “Gin, rasanya ruangan ini tak asing,” katanya.
“Sepertinya kamar rias Bharata,” jawab Waginah.
Persis saat itulah lampu di kamar itu menyala. Sang Pelaut, bersama dua temannya se-SR serta beberapa lagi orang yang dulu menonton mereka manggung di Sriwedari, duduk “mengepung” Paijo dan Waginah yang digeletakkan di tengah.
“Kami ingin menonton kalian lagi seperti di Sala dulu,” kata Sang Pelaut itu seraya menyodorkan tangan mengajak Paijo Minir berjabatan tangan.
“Boleh,” jawab Paimin, juga dengan menyodorkan tangan, sepertinya mau membalas uluran jabat tangan itu. Akan tetapi, pada detik terakhir sebelum menyentuh telapak tangan Sang Pelaut, gerakan itu berubah menjadi pukulan hentak yang mendarat di rahang dan membuat pria tua kekar itu terjengkang di lantai.
“Gurauan apa pun kalian boleh lakukan. Tapi, menangkap kami dengan konvoi patroli berdasarkan tuduhan membobol Bank Sentral Jepang sungguh tak masuk di akal bagi tukang becak dan tukang sayur macam kami. Bagaimana kalau kami mati kaku karena takut?”
“Nyatanya tidak, kan? Kami tahu siapa kamu dan Ginah!” jawab sang teman sambil mengelus-ngelus rahangnya yang ngilu. “Buktinya, kamu masih mampu menumbangkan aku dengan sekali pukul.”
Wassalam! Hidup memang penuh permainan, walau kadang permainan itu mematikan!

Teluk Angsan Permai, 20 Juli 1999.19:00.

Catatan kaki:
[1] Ini bukan cem-ceman dalam arti miring, melainkan benar-benar minyak rambut wangi yang dibuat dari minyak kelapa buatan sendiri yang disimpan untuk beberapa waktu dengan ramuan melati, mawar, akar cendana, dan entah apa lagi yang wanita Jawa zaman kuda gigit besi suka meramu dan menggunakannya.
[2] Tukang menatah atau mengukir wayang pada kulit atau kayu pipih, baik yang dicat warna-warni maupun hanya diplitur.
[3] Ingin yang satu ini memang lebih dekat dengan ngeres, ingin buru-buru…, sering sampai menelan atau meneteskan air ludah.
[4] Jatuh cinta yang satu ini sepertinya lebih nges begitu!
[5] Keayuan yang satu ini relatif. Anda boleh membayangkan Sundari Sukoco, Kris Dayanti, atau Waljinah (tapi dalam porsinya yang kurus dulu), atau Tuti Tri Sedya atau mungkin Ninik L. Karim. Up to you, especially to your criterias.
[6] Tampan yang satu ini dalam arti yang sebenarnya, bukan yang di-kerata basa menjadi igane nggambang, wetenge methentheng (tulang iganya kelihatan nyata, perutnya buncit, karena memang HO —honger oedim— alias busung lapar.
[7] Tidak main terus-menerus, hanya pada waktu-waktu tertentu, tapi bukan sambilan, melainkan lebih didasarkan pada kesenangan.
[8] Anda masih ingat perjalanan ke Barat pendeta Buddha guru monyet sakti Sun Go Kong? Inilah yang disebut ngulandara itu dalam arti yang lebih filsafati.
[9] Nuwun sewu, maaf beribu maaf, kalau nggak pakai ini rasanya nggak afdlol!
[10] TKW ataukah WTK? Dari segi kodrati mestinya wanita tenaga kerja, bukan tukang ng(k)erjai wanita. Akh, ini kan cuma motif kepentingan saja.

Read Full Post »

Puisi Martin Moentadhim Sri Marthawienata:

  

BALADA “MANUSIA KECIL”

 

berlari lintang pukang

terkentut-kentut dikejar-kejar butuh

   : manusia kecil!

 

tersandung-sandung

kaki-kaki kasar berlelehan luka di jeriji

   : manusia kecil!

 

dibentak

disanjung

dibanting

dipuja

dimaki-maki

dininabobok

   : manusia kecil!

 

di muka meminta

di belakang terpaksa memberi lipat ganda

   : manusia kecil!

 

ini jangan, itu tak boleh, mau tak mau harus mau

   : manusia kecil!

 

aduh,

tidak!! tidak!

eng,

ya! ya!!

maaf, tuan

sungguh mati tak tahu-menahu, tuan

   : manusia kecil!

 

angkat senjata, berjuang,

tertembak mati, pahlawan tak dikenal

   : manusia kecil!

 

angkat senjata, berkhianat,

tertembak mati, pengkhianat paling laknat

   : manusia kecil!

 

meradang mereka

meminta belas kasihan buat perbaikan nasib

namun apa dikata

sekali manusia kecil tetap manusia kecil

bisa apa? dapat apa?

 

membangun mereka

bekerja bergembira bersama-sama tanpa iri

namun apa dikata

sekali manusia kecil tetap manusia kecil

dapat berapa? hasil berapa?

 

nasi sepiring

air semangkuk sambal secobek berlauk lidah

namun apa dikata

sekali manusia kecil tetap manusia kecil

sedih apa? susah apa?

 

mengangkat cangkul mengolah tanah

menabur biji merawat batang termakan hama

   : l u d e s !

cuma teriak :

TUHAN!

perbaiki nasib kami hari nanti

 

merawat lembu memelihara kambing

beternak ayam berkolam ikan termakan wabah

   : l u d e s !

cuma teriak :

TUHAN!

lapangkanlah rizqi kami esok pagi

 

jaga hutan rawat kayu

tebang kayu angkat balok tertimbun balok

   : m a t i !

cuma diiring :

TUHAN!

inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

 

meradang mereka

meminta belas kasihan buat perbaikan nasib

namun apa dikata

sekali manusia kecil tetap manusia kecil

bisa apa? dapat apa?

 

beduk isyak bertalu sudah tadi

mata ini terlelap belum lagi

namun apa dikata

sekali manusia kecil tetap manusia kecil

bisa apa? dapat apa?

belum lagi yang lain

belum lagi yang lain lagi

eh,

manusia-manusia kecil :

   s e l a m a t     m a l a m !.

 

              Blora — Sanggar Jangka Langit, 1974.

Read Full Post »

DALAM RAPAT pengurus pusat Forum Bahasa Media Massa (FBMM) pada hari Selasa 14 Februari 2006, lagi-lagi terjadi perdebatan yang cukup sengit. Harap maklum, begitulah senantiasa terjadi bila para redaktur dan “pemerhati” bahasa berkumpul.

Diskusi menjelang pembahasan agenda resmi ini, yang antara lain membahas program kerja tahun 2006, dimulai dengan pertanyaan: apakah kaidah “huruf awal k, p, t, dan s pada kata dasar akan luluh saat kata dasar tersebut mendapatkan awalan me” berlaku mutlak?

Terus terang, saya menjawab dengan bersikukuh bahwa semestinya kaidah, apa pun itu, berlaku mutlak dan pengecualian hanya boleh ada dalam keadaan yang sangat khusus. Kalau tidak demikian, tata bahasa Indonesia tidak akan pernah berwibawa.

Pertanyaan pun berlanjut dengan contoh praktis: apakah kata jadian “memperhatikan” itu harus luluh menjadi “memerhatikan”? Lagi-lagi saya bersikeras bahwa tidak bisa begitu karena kata dasarnya “hati”.

Salah satu teman pun dengan sigap membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (KBBI-3) dan membacakan lema tersebut per sub-entry, lalu ia berteriak lantang bahwa “memperhatikan” bisa luluh menjadi “memerhatikan” karena kata dasarnya “perhati”.

Saya terhenyak, tapi penasaran: Benarkah ada kata dasar “perhati”? Kalau benar ada, kenapa kata itu tidak “bunyi” baik dalam perasaan maupun benak saya? (Dan: saya yakin demikian pula halnya dengan Anda!)

Sesampai di rumah pada malam harinya, saya membuka KBBI-2 (cetakan kedelapan 1996). Kata dasar “hati” ada pada halaman 344 KBBI-2 senarai huruf “h” dalam dua lema: “hati” dan sublema “berhati” dan “sehati”, serta kata ulangnya “hati-hati”dengan sublema “berhati-hati”. Lho, kata jadian yang lain dari kata dasar “hati” pada ke mana?

Aneh bin ajaib, saya baru mendapatinya pada halaman 754 KBBI-2 deretan huruf “p” pada lema “perhati” yang langsung disambung koma dan kata jadian “memperhatikan”, baru diikuti sublema “perhatian” dan “pemerhati”.

Apa artinya lema “perhati, memperhatikan” dalam KBBI-2? Bagi saya, ini berarti kata dasar “perhati” itu “lema semu”, karena harus diikuti kata jadian “memperhatikan” supaya dia “bunyi” atawa bermakna. Dengan kata lain, tidak ada kata dasar “perhati”.

Kalau sudah begini, saya pun terpaksa membuka kembali Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Bagian Pertama, W.J.S. Poerwadarminta (tjetakan ke-empat, 1966). Lema “hati” ada pada halaman 338-340, dengan urutan sublema: “berhati”, “(ber)hati-hati”, “memperhatikan”, “perhatian”, dan “perhatian! perhatian!”.

Dan: pada KUBI, Bagian Kedua, sama sekali tidak ada lema “perhati”. Dengan kata lain, tidak ada kata dasar “perhati” dalam bahasa Indonesia.

{Martin Moentadhim S.M., martin_apu@yahoo.com.sg, pensiunan wartawan (1981-1998) dan karyawan (1998-2003) kantor berita Antara, ko-pendiri Forum Bahasa Media Massa = FBMM, dan kini pembantu umum “pengurus pusat” FBMM}

Read Full Post »

SEWAKTU KITA memutuskan mengambil kata dasar “canggih” dari bahasa Palembang canggeh dan kita padankan dengan kata Inggris sophisticated, secara tidak langsung kita sebenarnya telah melakukan “pengkhianatan” (bahasa-halusnya: pengayaan, pembelokan, pembengkokan) makna asli dari kata yang kita pinjam dari salah satu bahasa daerah kita sendiri itu.

Betapa tidak, secara harfiah canggeh itu “cerewet, bawel” yang –bila dipaksakan– lebih mendekati kata Inggris delicate (harfiah: lembut, sulit, cepat tersinggung), sedangkan sophisticated itu berarti: “yang berpengalaman dalam hal duniawi, pintar dan jlimet, mengelabui.”

Dan: setelah berterima, kata “canggih” itu pun memiliki maknanya sendiri: “bergaya intelektual” dan untuk dunia elektronika: “sudah kehilangan kesederhanaan yang asli (sangat rumit, ruwet, atau terkembang).”

Akh, sudahlah! Itulah hasil kampanye, ekh, rekayasa sosial (Inggris: social engineering) a la Orde Baru. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tokh masih mengakui makna-aslinya di antara keenam arti yang diberikannya.

Masalahnya: kebiasaan membengkokkan arti saat kita meminjam istilah dari bahasa daerah itu kian menjadi-jadi, bahkan sering diikuti dengan penjungkirbalikan makna, terutama yang diambil dari bahasa Jawa.

Ketika musim tanah longsor di seantero wilayah Nusantara dan sepotong jalan tol Jakarta-Bandung “melesak” beberapa meter, media massa kita, terutama televisi, pun ramai-ramai menggunakan kata “amblas”, alih-alih dari makna sebenarnya, sesuai dengan KBBI, “ambles” dan tak ada sama sekali yang menggunakan kata asli bahasa Indonesia “melesak.”

Sungguh, dalam bahasa Jawa, “amblas” dan “ambles” itu berbeda jauh. “Amblas” itu bermakna “hilang, musnah,” termasuk untuk kantung yang isinya dikuras habis oleh copet. Ini semua diabadikan dalam KBBI.

Kalau Anda tidak percaya, sesekali bukalah buku tebal itu, yang meski tak sempurna benar, masih bisa dipedomani. KBBI bahkan menyediakan kata Jawa yang lebih tepat dan bagus (dalam arti sinistik), yakni “amblek”, apalagi kalau tanah yang “melesak” itu lebar dan panjang.

Sebagai pendengar yang baik, saya masih ingat benar, dalam beberapa kali perdebatan Forum Bahasa Antar-Media (FBAM) yang kemudian disahkan menjadi Forum Bahasa Media Massa (FBMM, www.fbmm.or.id), terjadi beda pandang yang cukup sengit antara pihak yang menghendaki secara mutlak vokal “e” pepet harus dijadikan “a” bila masuk khazanah bahasa Indonesia dan pihak yang berpendapat “e” pepet itu harus tetap dipertahankan. Dalam diskusi ini, terus terang, saya abstain.

Sebagai orang Jawa, saya paling segan dan enggan ikut berdiskusi bila menyangkut peminjaman istilah Jawa, terutama sekali karena bahasa Jawa itu rumit, diskriminatif, feodalistik, dan berkasta-kasta. Soalnya: saya lahir di daerah Saminisme, yang lebih biasa ngoko (berbahasa kasar), meski tahu dan bisa krama (bahasa halus), krama inggil (bahasa tinggi), dan bahkan bagongan (ngoko a la keraton).

Namun, justru karena sifat dan cakupannya yang kompleks itu, setiap kata dalam bahasa Jawa memiliki maknanya masing-masing yang harus digunakan secara tepat, sesuai dengan empan papan: kapan, di mana, dan bagaimana keadaannya. Kata “Jawa” itu sendiri misalnya secara harfiah bermakna: “mengerti, paham”. Masalahnya: kian hari makin banyak saja wong Jawa sing wis ora njawa, yang bisa juga berarti: Orang Jawa yang sudah tidak lagi memahami kejawaannya.

Dengan kata lain, pengubahan dari “e” pepet menjadi “a” pada kata Jawa yang dibahasa-Indonesiakan hanya boleh dilakukan bila hal itu tidak mengubah makna dan sama sekali tidak dapat dipraktikkan jika hal itu mengganti arti.

{Martin Moentadhim S.M., martin_apu@yahoo.com.sg, pensiunan wartawan (1981-1998) dan karyawan (1998-2003) kantor berita Antara, ko-pendiri Forum Bahasa Media Massa = FBMM, dan kini pembantu umum “pengurus pusat” FBMM}

Read Full Post »

SAAT ANDA memberikan imbuhan “ke” dan “an” pada kata dasar “ada”, akan Anda dapatkan kata jadian “keadaan”. Akan tetapi, bila ini Anda lakukan, misalnya dalam hubungan dengan menerjemahkan kata dari bahasa Inggris “exist”, ditambah dengan imbuhan “ence”, maka akan terjadi –pinjam istilah ilmu fisika, khususnya ihwal cahaya– aberasi alias penyesatan.

Ini karena kita dalam berbahasa tidak hanya menggunakan logika (manthiq, nalar), melainkan juga intuisi (feelings, rasa), tanpa harus merusak kaidah tata bahasa. Jadi, meski kata dasar “exist” sama dengan “ada”, tidak sertamerta “existence” itu semakna dengan “keadaan”, yang sudah dipakai oleh bahasa kita untuk menggambarkan “condition”. Karena itu, ada kamus Inggris-Indonesia yang memaknai “existence” itu “adanya” atau “kehidupan, keadaan hidup”.Penyesatan ini sama sekali tidak terjadi saat Anda mengubah kata dasar “maju” dalam konteks “memajukan” (to advance) menjadi “kemajuan” (advancement, the progress). Aberasi akan kembali terjadi ketika Anda mengubah kata dasar “capai” (to reach) –dalam konteks “mencapai sesuatu”– menjadi “kecapaian”. Padahal, hasil akhir yang Anda maksudkan dari usaha ini adalah “keberhasilan”, karena secara umum kita lebih akrab memaknai “kecapaian” itu “kecapèkan”.Tetangga kita serumpun, Malaysia, pernah terjebak menggunakan kata “kecapaian” dalam motto perayaan hari ulang tahun kemerdekaannya pada tahun 1996. (Mohon maaf beribu maaf, saya tak mampu mengingat kembali kalimat lengkap tema hari nasional Malaysia saat itu.)Saat itu, sebagai “lampiran” perutusan “resmi” Indonesia dalam East Asia Film, Television, Advertising and Broadscasting Supermart (EAFTAB = Pasar-Raya Film, Telivisi, Periklanan, dan Penyiaran, saya secara bergurau mempertanyakan hal itu kepada Menteri Penerangan Malaysia Dato’ Mohamed Rahmat.“Ah, sudahlah,” jawab Dato’ Rahmat, yang pernah belajar dan menjadi duta besar cukup lama di Indonesia, dengan wajah sedikit me-merah padma. Stt, “merah padma”, bukan “merah padam”! Dialog kecil ini terjadi dalam jamuan malam di “kedai makan” berputar di Menara Kuala Lumpur (420 meter), lambang KL modern, sekaligus menara telekomunikasi tertinggi di dunia saat itu.Konon, Menara KL –yang merupakan bangunan milik partai yang berkuasa di Malaysia, Pergerakan Kebangsaan Melayu Bersatu (United Malay National Organization = UMNO)– sama-sama dirancang oleh “anak-anak” Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mendesain Stasiun Kereta Api Gambir sekarang yang “bewarna” (bukan “berwarna”!) hijau pupus.Dato’ Rahmat pun minta insinyur Jerman yang melaksanakan pembangunan menara di atas bukti yang menghijau itu menjelaskan “suka-duka” membuat pencakar langit itu. Lagi-lagi, kami menghadapi masalah bahasa, khususnya istilah teknis arsitektur.Bule itu berkata, dalam membangun Menara KL, ia menghadapi persoalan yang sama dengan yang ditemui Bung Karno (Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno) sewaktu mendirikan Gedung Sarinah di Jalan Muhammad Husni (M.H.) Thamrin.“Ada batang air di dalam tanah,” katanya. Batang air itu sungai. Sungai di dalam tanah, apa itu? Untung, ada jasa baik anggota perutusan Indonesia yang lain, Pingkan Warouw, produser program di An-Teve (gabungan dari PT Cakrawala Andalas Televisi dan PT Cakrawala Bumi Sriwijaya), yang bahasa Inggrisnya selancar “air mengalir”.Ketika kami sesederhana mengunakan cara harfiah (letterlijk) dari “air tanah” menjadi “ground water”, pembicaraan kami pun lantas mengalir lancar, meskipun secara teknis, jelas ada perbedaan antara “ground water” (air tanah, air permukaan) dan “sungai di dalam tanah”.“Hai, kenapa Anda bertanya begitu melit,” tanya Dato’ Rahmat kepada saya dalam bahasa Inggris. Dengan tersipu saya pun menjelaskan bahwa Kelompok 21 (21 Group) dari bisnis film, berencana membangun Menara Jakarta. “Kalian ini aneh. Kami bangun Menara KL karena mengagumi rancangan Stasiun Gambir. Anda mengaji Menara KL untuk membuat Menara Jakarta,” kata Menteri Penerangan Malaysia itu, yang lalu tertawa renyah.Entah apa pula komentar Dato’ Mohamed Rahmat bila beliau tahu orang Indonesia pernah berusaha keras merancang jaringan komunikasi teknologi tinggi Nusantara 21 (N21) untuk meniru Malaysian Super-Corridor (MSC).Sebagai tamu, meskipun paginya saya naik taksi ber-macet-macet ria di KL bersama Ir. Alex Kumara, wakil direktur dan direktur operasional PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) saat itu, saya pun menyatakan kekaguman saya melihat KL dari udara sebelum pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Subang.Bandar udara yang orang sekarang lebih fasih menyebutnya “bandara” itu? Ya, memang itulah! Repotnya, aberasi semu (maaf, saya “nekat” memakai istilah ini) akan mungkin terjadi juga ketika Anda melakukan akronimisasi. Dalam iklan radio Gudeg Bu Tjitro, misalnya, mBak Pur, penyair Radio P2SC (Puspa Dwi Swara Cipta), menggunakan kata “bandara udara”, bukan “bandar udara”.Perkara kecil tetapi menggelikan yang lazim disebut salah kaprah ini serupa dengan penggunaan kata: “umat muslim” dan “bank BRI”, karena dalam kata “muslim” sudah terkandung makna “umat” dan dalam “BRI” ada kata “bank”. Mestinya, orang becermin pada kata “Rumah Sakit Cipto” yang tidak pernah diucapkan secara sesat menjadi “rumah sakit RSCM”.Aberasi jenis lain, yakni peminjaman istilah asing dengan cara menyempitkan arti atau sebaliknya, lebih susah dijejaki. Misalnya: penggunaan kata “urbanisasi” dalam arti “pindah ke kota” (urban ward-migration). Padahal, dalam ilmu perkotaan, “urbanisasi” itu “proses perubahan desa menjadi kota”. Dalam konteks Jakarta, ibukota RI ini kini telah berubah dari “kampung besar” (the big village) menjadi “kota metropolitan” dan akhirnya naik kelas ke “kota megapolitan”, yang secara sempit mengandung makna “kota megaloman” (stt, “kota sombong” yang siap melahap apa saja yang datang!).Cobalah Anda merenung dari sudut pandang etimologis: “urbanisasi” itu terdiri atas kata “urban” (kota) yang mendapatkan akhiran “isasi” yang setara dengan paduan imbuhan berupa awalan “pe” dan akhiran “an”. Dengan kata lain, secara harfiah “urbanisasi” itu sama dan sebangun dengan kata “pengotaan”.Aberasi menjadi lebih parah lagi, ketika dari kata jadian dengan akhiran “isasi” ini, dibentuk lagi menjadi kata jadian dengan menggunakan imbuhan lain yang “asli” Indonesia. Misalnya kata “realisasi” (pewujudan) menjadi “merealisasikan” (me+pewujudan+kan?) atau “direalisasikan” (di+pewujudan+kan?), dan yang terparah: “perealisasian” (pe+pewujudan+an?).Banyak lagi contoh lain: (1) “pedestrian” dalam arti “lokasi khusus tempat orang berjalan kaki” –pengembangan dari pedestrian cross walk (tempat menyeberang)?– padahal “pedestrian” itu justru “pejalan kaki”, (2) “busway” dalam arti “bus”, alih-alih dari “lajur bus”, dan … entah apa lagi yang aeng-aeng (Jawa: aneh, Inggris: weird).Kenapa dalam berbahasa, kita tidak menggunakan metode dan logika yang lebih sederhana, misalnya: dari kata serapan “realisasi”, dapat dimunculkan kata dasar semu “real” yang berarti “wujud”, sehingga akan lebih baik bila kita gunakan kata “pewujudan” alih-alih dari kata “realisasi”. Apalagi, dalam akhiran “isasi” secara rasa (feelings) sudah terkandung pengertian “kan”. Jadi, “direalisasikan” itu “diwujudkankan” dan “merealisasikan” itu “mewujudkankan”.Akhir kata: bahasanya rancu, jangan-jangan pikirannya kacau. Malu tersesat, bertanya dong di jalan (yang benar)!{Martin Moentadhim S.M., martin_apu@yahoo.com.sg, pensiunan wartawan (1981-1998) dan karyawan (1998-2003) di kantor berita Antara, ko-pendiri Forum Bahasa Media Massa = FBMM, dan kini pembantu umum “pengurus pusat” FBMM}

Read Full Post »

  MESKI TIDAK kuno benar, istilah Islam abangan dan putihan paling tidak sudah muncul dalam buku R. Atmodarminto, Babad Demak, yang rampung ditulis pada tahun 1954 dan terbit di Yogyåkartå warsa berikutnya. Konon, abangan berasal dari kosa kata Arab aba’ah, sedangkan putihan dari futi’ah, terlepas dari sekarang abangan “diterjemahkan” menjadi “Islam KTP”, sementara putihan tetap bermakna “Islam jalan lurus”.Padahal, kedua istilah ini muncul dari perbedaan metode dakwah di antara Wali Sångå, khususnya antara Sunan Giri yang didukung oleh Sunan Ampèl (1401-1478) dan Sunan Drajat di satu sisi dan Sunan Kalijågå yang dipayungi oleh Sunan Gunungjati, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang, serta dibantu oleh Sunan Muriå di sisi lain. Karena itu, Atmodarminto (1894-1978) menyebut wali putihan (garis keras) itu beraliran Giri, sedangkan wali abangan (moderat) itu beraliran Tuban, tempat lahir Radèn Sahid.Aliran Sunan Kalijågå kian berjaya setelah Sunan Ampèl wafat pada tahun 1478 M, saat Måjåpahit Radèn Wijåyå runtuh, yang ditandai cåndrå-sang-kålå (harfiah: wajah sang waktu): sirnå ilang kertaning bumi {harfiah: hilang musnah kemakmuran Tanah (Jåwå)}, yang menunjukkan tahun Çåkå 1400. Sunan Giri pun menggantikan Sunan Ampèl sebagai mufti (ketua) Wali Sångå, dengan gelar Prabu Satmåtå, sekaligus sebagai “raja transisi” dari kerajaan Måjåpahit ke kesultanan Demak. Kata satmåtå ini masih dari bahasa Sanskerta: sat = benar, mata = terlihat; Jadi: satmata = pandangan kebenaran.Abad ke-15 ini bukanlah saat awal masuknya kosa kata Arab ke dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pengaruh ini mungkin sudah dimulai pada zaman khalifah Abbasiyah, Harun al-Råsyid (k. 786-809), ketika peniaga bahari (maritim) dari Jåwå tengah dan timur sudah sampai di Baghdad. Bahkan, sangat boleh jadi pengaruh ini telah dimulai pada abad keempat, ketika orang Jåwå sudah berlayar sampai di Arab dan Sophala di pantai timur Afrika untuk mencari besi dan watu lintang (batu meteorit) sebagai bahan bilah dan pamor keris.Yang pasti, selain pada prasasti Panumbangan, kosa kata Arab sudah banyak bertebaran dalam karya sastra pada zaman Prabu Jåyåbåyå (k. 1135-1157) dari Mamenang di Dåhå, Kediri, dan penerusnya, antara lain Bharata Yudha Kakawin (1157) karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh serta Gatotkaca Çraya Kakawin (1188) karya Mpu Panuluh.Melihat Radèn Patah sebagai sultan pertama (k. 1478-1518) kerajaan Islam Demak Bintårå suka pertunjukan wayang bèbèr (harfiah: bentang), Sunan Kalijågå mengusulkan penggunaan pertunjukan wayang purwå (harfiah: awal), yang dibuat dari kulit kambing yang disungging (harfiah: ditatah), dengan diiringi lantunan gamelan, sebagai sarana dakwah Islamiyah.Bersama Sunan Giri dan Sunan Drajat, Sunan Kalijågå pun menciptakan pånåkawan (pånå = cerdik, jelas, terang, cermat dalam pengamatan, dan kawan = teman) bagi kesatria Pandåwå: Semar, Garèng, Pétruk, dan Bagong. Stt, ada sumber yang menyatakan Bagong itu ciptaan K.G.P.A.A. (Kanjeng Gusti Pangéran Aryå Adipati) Mangku Nagårå IV.Bagaimanapun sejarahnya, makna yang tersirat dari keempat nama pånåkawan ini ialah: ·        Semar dari simar (paku) dalam kalimat simaruddunya (paku bumi), yang bermakna: kebenaran Islam di bumi sekokoh paku yang sudah tertancap.·        Garèng dari nala qariin (mendapatkan banyak kawan), yang bermakna: tujuan dakwah Islam itu untuk memperoleh banyak sahabat.·        Pétruk dari fatruk (tinggalkan) dari kalimat fatruk kullu man siwållåhi, yang berarti “tinggalkanlah segala apa yang selain Ållåh” sebagai sesembahan.·        Bagong dari baghå (lacut, berontak), yakni berontak terhadap segala sesuatu yang telah lazim. Wayang kulit “gunungan” yang sarat lambang falsafah hidup disebut juga “kayon”, yang asalnya dari kata hayy (harfiah: hidup) dari sajaratil-hayy (pohon kehidupan), sedangkan kata “dalang” sebagai pelaksana pertunjukan ringgit wacucal purwå (harfiah: wayang kulit awal) berasal dari kata Arab dalla yang bermakna “menunjukkan ke arah jalan yang benar”.Kata dalla ini berasal dari Hadits sahih Bukhari: “Mandalla ‘alal khari kafa’ilihi” yang berarti “Siapapun yang bersedia menunjukkan ke arah jalan yang benar atau ke arah kebajikan, pahalanya seperti orang yang berbuat kebajikan itu sendiri tanpa dikurangi sedikitpun.”Itulah sebabnya para ahli bahasa dan wayang/pedalangan serta orientalis sukar menjejaki asal kata dalang, serta asal kata nama para pånåkawan, meski nama Semar sudah ada dalam naskah tentang ruwat (yakni: pembebasan jiwa dari kondisi papa) Sudåmålå yang kisahnya sudah menjadi relief Candi Tégåwangi di Kediri yang dibuat kira-kira tahun 1371 pada masa pemerintahan Hayamwuruk (k. 1350-1389).Gelar Kalijågå sendiri konon berasal dari kata Arab qådli zaka, yang terdiri atas kata qådli: pelaksana, penghulu, dan zaka: membersihkan. Jadi, qådli zaka yang diucapkan lidah Jawa menjadi kali jågå itu bermakna: pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kesucian dan kebenaran agama Islam.{Maaf, saya masih menggunakan ejaan transliterasi Arab-Latin versi Arifin Temyang dari Departemen Agama era dasawarsa 1950-an yang tetap populer hingga kini dan menuliskan dalam aksara Latin huruf hijaiyah ke-15 menjadi dl, alih-alih dari “d bertitik bawah” versi ISO (International Standard Organization) yang dianut oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional! Ini semata demi peta lafal di lidah kita dan demi kebenaran riwayat etimologis nama Kalijågå!}Terlepas dari itu, wali yang konon juga bernama kecil Radèn Secå ini memang kreatif. Ritual Grebek Mulud, misalnya, merupakan prakarsanya, yang berupa tabligh akbar (harfiah: tabligh = penyiaran, akbar = besar, raksasa) untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad shållållåhu alayhi wassalam (harfiah: semoga Ållåh memberkahinya dan menganugerahkan kedamaian kepadanya = Saw.).Selain ceramah agama, di halaman Masjid Agung Demak yang dihiasi dengan dekorasi yang indah dan menarik, diadakan pertunjukan gamelan dan pengalunan tembang. Orang yang menonton harus lewat gapura atau pintu gerbang. Kata “gapura” ini konon berasal dari bahasa Arab ghåfurå, yang berarti “mohon ampun”.Nah, pada saatnya nanti, mari kita sampaikan: selamat ‘Id al-Fithr (Hari Raya Buka Puasa) alias ber-Lebaran. Minal ‘aidinal faizinal ‘aminin. Mohon maaf lahir dan batin, semoga Ållåh mengabulkan. P.S.: Oh ya, ‘Id al-Fithr itu disebut juga ‘id al-shåghir (hari raya kecil), karena ‘id al-kabir (hari raya besar) ialah ‘Id al-Adha (Hari Raya Penyembelihan Qurban).{Martin Moentadhim S.M., martin_apu@yahoo.com.sg, pensiunan wartawan (1981-1998) dan karyawan (1998-2003) di kantor berita Antara, ko-pendiri Forum Bahasa Media Massa = FBMM, dan kini pembantu umum “pengurus pusat” FBMM}

Read Full Post »

ANGGANG-ANGGANG, LAYAR, DAN PEDATI

SEORANG ANAK yang gemar membaca bertanya tak bertanya kepada ayahnya, “Dad, apa itu anggang-anggang?” Sang Ayah pun menghardik, “Baca saja sendiri!” Sikap ini sama sekali bukan bermaksud tidak bertanggung jawab mendidik, sebagaimana layaknya bapak kepada anak. Ini dilakukan karena Sang Ayah tahu persis, di tangan anak itu, ada jilid pertama buku Disney’s Ensiklopediku Yang Pertama (Disnet’s My First Encyclopedia, Grolier Enterprises, Inc., diedarkan khusus oleh PT Widyadara, Jakarta, 1983). Jarinya pun menjepit halaman 46 pada lema (entry) “Anggang-anggang”.

Si Kecil yang rasa ingin tahunya besar itu pun masih bertanya, yang jujur saja bikin pusing Si Bapak yang cuma berpendidikan Sekolah Menengah Atas: “Apa gunanya anggang-anggang diciptakan? Kenapa harus ada di dalam kamus Disney’s?” Begitulah, punya anak cerdas bingung, punya anak terbelakang lebih bingung lagi. Dari kecil, Sang Bapak tahu ada serangga yang oleh orang Jawa disebut anggang-anggang, tetapi lebih jauh apa itu anggang-anggang, di otak kelabunya, tidak ada catatan sama sekali. Padahal, mustahil Tuhan menciptakan sesuatu tanpa maksud.Sang Ayah pun naik ke kamar kerjanya di lantai dua rumahnya. Ia mencoba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua (KBBI-2) dan kemudian dua kamus lain: Prof. Drs. S. Wojowasito, Drs. Tito Wasito W., dan W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia 316 hal. Indonesia-Inggeris 332 hal., dengan Ejaan Yang Disempurnakan, Penerbit Hasta, Bandung, cetakan ke-10, 1999 dan W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, P.N. Balai Pustaka, Jakarta, cetakan keempat, 1966, ia tidak menemukan lema itu. Ia baru menemukannya pada kamus Wojowasito yang lain, Kamus Kawi-Indonesia, Penerbit C.V. Pengarang, Bandung, 1977, cetakan ketiga. Ini pun dalam bentuk kata kerja yang berarti “bergerak kian kemari, mengapung”, bukan kata benda yang menunjuk pada binatang dengan sifat seperti yang ditunjukkan kata kerjanya.Disney’s Ensiklopediku Yang Pertama memerikan kata “anggang-anggang” sebagai “serangga kecil yang dapat berjalan, berlari, atau meluncur di permukaan air. Binatang ini melakukan semuanya itu dengan gerakan cepat yang tersentak-sentak. Dua pasang kakinya yang belakang sangat panjang dan ramping serta terbuka lebar-lebar. Kaki ini punya berkas bulu yang tidak dapat basah, yang memungkinkan anggang-anggang tetap berada di permukaan air. Kakinya yang depan pendek, digunakan untuk menangkap serangga pakannya. Jenis anggang-anggang kebanyakan hidup di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik; sering kali terdapat ratusan kilometer dari darat.”Kamus untuk anak-anak ini juga merujuk lema “kumbang air”. Sayang, entry ini tidak memperjelas definisi anggang-anggang. Dengan kata lain, ke mana ia harus mencari? Dapatkah KBBI edisi yang akan datang menolongnya?Padahal, anak yang masih duduk di kelas tiga SD itu suka nrithik, kalau buku bacaannya habis atau sudah dibaca semua dan ayahnya belum mampu membelikannya yang baru, ia buka-buka komputer Sang Bapak dan kalau bertemu naskah yang aneh, menghujanlah pertanyaannya.

 *** 

PADA suatu hari, sewaktu ia masih kelas satu, ia membawa pulang gambar kapal layar empat tiang (full-rigged ship). Ia bertanya satu per satu nama layar yang ada di kapal jangkung (tall ship) itu. “Katanya Daddy pernah berlayar dengan Kapal Dewaruci, Daddy pasti tahu, dong!” katanya tak peduli bahwa itu pengetahuan khusus, yang orang TNI-AL pun belum pasti bisa menjawabnya.Bila kita menengok KBBI-2, halaman 572, ada banyak jenis layar. Kita ambil contoh saja, layar jib atau layar haluan, KBBI memerikannya sebagai “layar segitiga yang dipasang pada ujung haluan kapal pada tiang terdepan”. Padahal, paling tidak ada empat jenis layar jib. Kata “jib” masih bahasa Inggris, bahasa Indonesianya “layar topang”, paling tidak itulah yang dikenal oleh pelaut Buton yang bertemu dengan Sang Ayah di KRI Dewaruci.Sebelum kita merinci nama ke-32 layar pada kapal empat tiang itu, kita harus tahu lebih dulu bahwa batang melintang untuk memasang layar persegi pada tiang disebut “peruan” yang dipasang pada tiang utama depan, tiang utama, dan tiang utama belakang, masing-masing enam.Ada empat layar jib, (baca: Richard Bowood, Kisah Kapal, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, cetakan pertama, 1985), yakni: 1.      layar topang gantung ialah layar segitiga yang diikat masing-masing pada cocor atau batang di ujung depan kapal, pada tiang utama depan di bawah peruan paling atas, dan pada pangkal tiang utama depan.2.      layar topang luar3.      layar topang dalam4.      layar penunjang tiang utama depan. Masih ada empat layar segitiga yang lain, yakni: 1.      penunjang layar raja, yang masing-masing ada pada tiang utama dan tiang utama belakang2.      penunjang layar bentara, yang masing-masing ada pada tiang utama, tiang utama belakang, dan tiang buritan3.      penunjang layar tiang utama, juga ada di tiga tiang tersebut4.      layar pemutar, yang hanya ada pada tiang buritan. Di tiang buritan, masih ada satu layar, yang tentu saja disebut layar buritan.Ada enam layar yang dipasang pada peruan dan digantung pada masing-masing tiang utama, yakni (berurutan dari atas ke bawah): 1.      layar raja2.      layar bentara atas3.      layar bentara bawah4.      layar utama atas5.      layar utama bawah6.      (berurutan dari yang ada di tiang utama depan, tiang utama, baru tiang utama belakang): a. layar depan, b. layar pokok, dan c. layar perahu silang. Itu baru nama layar, belum jenis perahu layar. KRI Dewaruci, misalnya, dari jenis barkentine, yang sepanjang sejarah hanya dibuat dua. Yang satu sudah rusak. Barkentine memiliki tiga tiang, lima peruan depan, lima layar persegi, satu layar lebar, tiga layar lancip, dan tiga layar jib.

 ***

PADA hari yang lain, anak itu membuka catatan ayahnya tentang pujangga Kraton Surakarta Raden Ngabehi (R.Ng.) Ranggawarsita. Komentarnya langsung keluar, “Begini banyak, Dad, jenis pedati!…” Pedati, menurut KBBI-2 halaman 740, ialah “gerobak yang dihela kuda, lembu, atau kerbau. Menurut Ranggawarsita, ada 17 jenis pedati. Stt, Ranggawarsita menyebutnya bedati, (baca: R.Ng. Ranggawarsita, Kamus Kawi Djarwa, Penerbit Sadu Budi, Solo, 1956), yakni: 1.      bedati, ditarik sapi betina2.      senang, ditarik sapi jantan3.      manggra, ditarik banteng4.      salamuka, ditarik kerbau jantan betina5.      hastapada, ditarik kerbau jantan6.      sambira, ditarik banteng munja (?)7.      westi, ditarik jajawi (?)8.      camakantu, ditarik manusia pria wanita9.      dadula, ditarik kuda betina10.  sesikunwaninda, ditarik dua kuda11.  sesiratancakanda, ditarik empat kuda12.  gotaka, ditarik gajah, panjang seperti gua, tertutup13.  gabrata, ditarik harimau14.  gegendik, ditarik kambing besar15.  sekutuk, ditarik anjing besar16.  calita, ditarik kijang ngujung (?)17.  saligna, ditarik jaran (kuda) tutul. Itulah, betapa rinci, terserah kepada penyusun KBBI yang akan datang untuk memilah, mana yang harus masuk dan mana yang tidak perlu masuk kamus. Yang pasti, para sarjana sejarah, yang harus menulis juga masa lalu Indonesia, lengkap dengan kekayaan budayanya, dapat diyakini akan menghendaki pencatatan selengkap mungkin, sehingga fungsi kamus menjembatani semua ilmu yang berkembang di republik ini dapat tercakup. Yang pasti, masih banyak hal lain yang bisa disodorkan oleh orang lain, yang juga perlu. ] 

(MMSM)

Read Full Post »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.