Cerita Pendek Remaja a la Krisna Pamungkas
(Catatan: Krisna Pamungkas adalah nama yang aku pakai khusus untuk menulis cerpen remaja. Selamat membaca, MMSM.)
KEMBALILAH, SEBELUM AKU RINDU!
Kamu pernah berwisata lokal ke Pemandian Air Panas Ciseeng di Parung, Bogor, Jawa Barat? Aku punya kenangan manis di sana. Hari itu panas terik. Berboncengan motor besar berkeringat nggak keruan tujuan bergantian bersama Andre, aku –Maria Anastasia King– blakrakan sampai di daerah tujuan wisata lokal provinsi yang telah kehilangan sebagian wilayahnya menjadi Provinsi Banten itu.
“Cari minum yuk, nDre,” ajakku.
“Okey,” sahutnya ringkas. Ia jarang ngomong. Mirip gong, ia “nggak berbunyi kalau nggak dipukul,” kata orang Jawa.
Aku pertama bertemu Andre di daerah “merah” Kebayoran Baru. Disebut “merah” karena tiap malam “pereks” –perempuan eksperimental– baik yang berusia belasan maupun tante tigapuluhan mangkal di sana, sedangkan lelaki hidung belang mencari-cari seraya makan gudeg dan minum teh poci.
Saat itu, Andre sedang membantu orang memarkir mobil. Aku agak bertanya-tanya, meskipun belel, jins dan jaket kulit yang dipakainya jelas bermerk. “Sayang, anak setampan Roger Moore yang salah satu bintang James Bond itu menjadi tukang parkir. Apakah ibunya nggak cukup memberinya uang saku?” batinku saat itu, terheran-heran.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ayah yang berada di belakang setir saat itu. Aku hanya tahu Ayah juga memerhatikannya.
Dengan suara yang jelas, ia membimbing Ayah memarkir mobil di sudut strategis yang memudahkan kami keluar dari lokasi itu nanti. Aku tak lepas-lepas memandangnya lewat kaca spion. Andre jangkung. Kulitnya putih. Rambutnya agak keriting.
Usai markir, ia kembali duduk bersama temannya yang salah satu di antaranya membawa gitar. Yang lain menenteng galon plastik air mineral dan yang lain lagi merokok kretek. Mereka pasti kelompok pengamen.
“Cukup?” tanyaku seraya mengulurkan dua lembar ribuan baru, seusai ia mencarikan jalan bagi Ayah untuk keluar dari lokasi parkir itu tiga jam kemudian. Aku tak akan pernah lupa wajahnya yang semburat merah malu saat menerima uang itu.
Malam harinya, di kamar tidurku, yang merangkap markas besar kelompok belajarku, tanpa dapat ditahan-tahan lagi aku membuat sketsa wajahnya. Meski serasa kurang lengkap, aku terdorong untuk mewarnainya.
“Ih, siapa tuh? Cakep amat!” tegur Dira di pintu kamarku itu, saat dia menjemputku berangkat sekolah esok paginya.
“Bukan siapa-siapa, hanya tukang parkir di bilangan Blok M,” jawabku seraya berpaling, menyembunyikan rasa malu dan sekaligus bangga yang terpancar di wajahku.
“Boong lu, masak tukang parkir secakep itu?”
“Emangnya tukang parkir nggak boleh tampan?”
“Boleh sih boleh, tapi dengan roman seborju itu rasanya mustahil!”
“Kapan aku pernah bohong kepadamu?”
“Kalo itu sih, gua percaye, asli, seratus persen. Tapi, soal penampilan person di sketsa ini, pasti doi pangeran yang sedang ngejawantah!”
Pernyataan Dira itu menohok ke relung pemikiranku. Pangeran yang sedang mengejawantah? Boleh juga kecurigaan mistis macam begini muncul di tengah kondisi baur yang telah tercipta sejak mahasiswa menumbangkan pemerintahan Soeharto.
Keadaan era ini memang kacau dan cara berpikir orang pun ikut-ikutan kacau bin balau. Padahal, kecenderungan kata yang terucap menjadi cermin diri kian nyata dan sangat mungkin menjadi aliran pandangan kehidupan tersendiri, meskipun belum ada yang mengujinya secara akademis.
“E, jangan bengong! Gua bener-bener sulit percaya, Maria Anastasia King!” kata Dira menyebut nama lengkapku, ketularan kebiasaan memanggil orang di film Barat dan juga telenovela Amerika Latin.
“Bagaimana kalau sepulang sekolah kita menengoknya?”
“Emh, gua ada janji ama Nyokap untuk ngantar beli sepokat Cibaduyut. Tapi, …” Dira segera menyambar telefon di meja riasku, “… Nyak, salamolekum … Nyari sepokatnya ditunda dulu ya? Soalnya Tasya ngajak ke Blok M … Ntar kalo ngliat nyang ukuran gajah sekalian Ire beliin, Nyak!? … Makasih banget, Nyak ibu nyang paling mulie sejagat deh. … Salam.”
Itulah kelebihan dan sekaligus kenakalan Dira, begitu berpikir langsung bertindak. Meski demikian, Dira tetap menjaga primordialisme Betawi, senakal apapun, tingkah yang diperbuatnya masih sebatas koridor yang diizinkan agama.
“Gua akui, menetes air liur gua ngeliatnye. Aslinye lebih cakep dari sketsanye pan?”
“Tentu, matanya bisa kocak. Cuma sayang …”
“Kenape?”
“Sepertinya ia pendiam.”
“Emangnye itu persoalan?”
“Tidak juga! Akh, memangnya ia siapa, kenal juga belum.”
Akan tetapi, sungguh mati, menunggu satu demi satu jam pelajaran usai rasanya hari bagaikan melipat tiga lamanya. Dira juga tampak gelisah seperti itu. Begitu lonceng panjang tanda mata pelajaran terakhir usai, tanpa dikomando, aku dan Dira segera menghambur ke gerbang sekolah dan buru-buru naik ke bus kota jurusan Blok M yang keneknya sudah berkaok-kaok sejak tadi.
“Nyari siapa, Non?” tanya cowok yang sedang memetik gitar. Dira menyodorkan sketsa itu. “Oh, Andre, paling sebentar lagi dateng. Penting ya, Non? Andre nggak mbayar utang, ya?”
Aku cuma tersenyum. Dira juga. Kami segera berbaur dengan para penunggu lokasi parkiran itu. Lima belas menit kemudian, Andre datang. Tentu saja anaknya bingung tidak keruan. Ia tak ingat lagi kepadaku yang baginya hanya sekadar bayangan lewat di antara ratusan pengunjung.
“Ada tugas kelompok dari sekolah, bikin karangan tentang kehidupan anak muda di kawasan ini. Bang Andre dan kawan-kawan bisa menolong?” tanya Dira spontan, entah dapat ilham dari mana. Dira memang jagoan berimprovisasi.
Aku buru-buru mengeluarkan notes dan bolpen untuk mencatat. Dan kami pun sibuk berwawancara. Setengah jam merekam, tak terlalu banyak tentang pribadi Andre yang bisa dikorek. Mungkin itu lebih banyak karena kelemahan cara investigasi a la wartawan mading, eh, majalah dinding sekolah.
“Kalau ternyata bahannya kurang, kami boleh datang lagi?” tanyaku.
Andre mengeluarkan dompetnya, menarik dua lembar kartu nama. “Telefon aja, tapi jangan terlalu sore!”
Aku hampir tak percaya atas alamat yang kubaca di salah satu kartu nama itu. Bukankah itu adres rumah atasan Ayah yang nomor satu? Yang lain sih alamat Gelanggang Remaja tempat ia menjadi salah satu anggota klub motor besar di situ. Aku memandang Andre tak berkedip…
“Kenapa, Non? Ada yang salah dengan alamat saya?” tanyanya bingung.
“Nggak, nggak,” jawabku groggi. Aku masih sempat memandangnya dan merekam serinci mungkin gurat wajahnya untuk membuat lukisan dirinya yang lebih detil.
Malamnya, seraya melukis, aku telefon Andre ke rumahnya, hampir sejam. Sebel campur seneng. Betapa tidak, bisa bercakap-cakap sejam dengannya jelas menyenangkan. Tapi, jawabannya cuma: ya, tidak, atau mungkin. Sungguh, irit kata seperti itu sangat menyebalkan. Kalau berhadapan sih, aku bisa menikmati wajahnya yang … Tapi, ini lewat telefon, yang kuharapkan tentu saja ceritanya yang –pinjam istilah orang Jawa– gayeng, bukan sepatah dua patah kata begitu.
Aku dan Dira pun serius mau memprofilkannya untuk mading sekolah. Perburuan pendapat teman dekatnya pun dilakukan satu demi satu. Hampir semuanya menyebalkan. “Andre? Si tampan bego itu… bisanya cuma ngiter pakai motor. Suaranya fales. Nggak apal lagu. Tapi, ngolokin orang salah nyanyi paling sering,” kata Lisbeth, yang rajin jaga ruang karaoke kelab motor besar tempat Andre bergabung.
“Kamu tertarik ama dia ya? Huh, nyium aja belepotan. Anak segede itu masih juga tolol, nggak tahu bagaimana harus bersikap elegan sama perempuan. Kalau lagi naik angkot bareng, bukannya ngasih tempat duduk ke cewek, melainkan buruan nyari tempat duduk yang paling nyaman. Cowok macam apaan tuh?” kata Markonah, yang katanya sempat pacaran tiga minggu dengannya.
Haruskah aku mundur mengejar cowok kaku, egois, dan terkesan masih kanak-kanak macam begitu? Ataukah aku harus yakin bisa mengubahnya? Tapi, bagaimana kalau sesudah pinter nanti doi lari ke pelukan cewek lain yang lebih segalanya dari aku?
Dari hari ke hari aku makin pusing memikirkan Andre. Untung, mata pelajaranku tidak merosot. Bagiku, ngejar cowok okey, belajar juga harus tetap yahud. Tapi, malam itu Ayah memanggilku ke kamar tengah. “Kamu pacaran dengan tukang parkir itu ya, Tasya?” tanya Ayah menginterogasi.
“Belum sih, baru ngejar…”
“Ayah nggak suka, Tasya.”
“Kenapa?”
“Nggak suka aja!”
“Nggak bisa begitu dong, Yah. Kalau nggak suka, harus ada alasannya. Jangan-jangan Ayah akan ngekep Tasya sampai Ayah dapat calon favorit Ayah sendiri? Ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya…”
“Nggak juga begitu, Sya.” Wajah Ayah merah padam. Aku paham, itu karena Ayah terlalu sayang kepadaku. Ayah bukan sebangsa diktator. Tapi, buruknya Ayah, kalau kesan pertama sudah jelek, kayak besi beton, susah dibengkokin.
“Ayah dulu juga merhatiin dia, kan? Ayah merasa pernah ketemu dia?”
“Kayaknya begitu. Cuma Ayah lupa itu di mana…”
“Ayah percaya Tasya bisa jaga diri?”
“Ayah cuma takut kamu terlalu kesengsem…”
“Bukan karena statusnya yang tukang parkir di red area?”
“Udah,” Wajah Ayah lagi-lagi merah padam, “Bobok sana gi…”
Aku cium pipi Ayah dan naik ke kamarku. Dari percakapan itu, aku hanya mau menarik kesimpulan bahwa Ayah tak ingin aku terjerumus. Itu saja. Sesampai di kamar, aku tak tahan untuk tidak menelefonnya. “Ndre, besuk luang?” tanyaku.
“Ya.”
“Bisa antar aku ke Perpustakaan Nasional?”
“Ya.”
“Seharian?”
“Ya.”
“Ketemu di mana?”
“Sekolah.”
“Aku pulang pukul 10.30.”
“Ya.” Dan, tanpa basa-basi, dia tutup telefon, tak peduli apakah aku masih ingin bicara soal lain atau tidak. Sungguh menyebalkan! Tapi, kian begitu makin membayang-bayang saja wajahnya di pelupuk mataku. Cinta tidak mengenal cermin?
Esoknya, keluar dari ruang kelas, mataku tertumbuk pada Andre yang tiduran membaca novel di motor besarnya yang diparkir di bawah pohon di seberang jalan depan sekolah. Aku buruan mendekatinya. Melihat dia sepuas-puasnya hampir lima menit, Andre nggak sadar-sadar juga aku sudah ada di dekatnya.
“Novelnya asyik ya?”
“Ya,” jawabnya gelagapan. Dimasukkan buku mungil itu ke kantung jaketnya, tanpa mempertimbangkan kemungkinan aku ingin melihat dan membacanya. Dia bahkan langsung menyetarter motor dan lurus menghadap ke depan menungguku naik ke boncengan. Begitu pantatku menyentuh jok, dia langsung tancap.
Aku cuma bisa berpegangan ke tubuhnya.
Di tempat yang dituju, dia kayak kacung membuntutiku ke mana pun aku pergi. Juga waktu nyari buku, dia seperti helper boy saja. “Ndre, cerita dong…”
“Apa?”
“Apa aja…”
Dia cuma angkat bahu.
Itulah kondisi Andre yang dari hari ke hari kian menjadi klasik. Pendiamnya minta ampun. Sampai pada suatu hari, wajahnya ikut terpampang di koran nasional karena baku hantam antargeng motor besar. Menurut berita koran itu, mereka ditahan semalaman dan baru dilepas setelah di-briefing.
Ayah langsung keluar tanduk. “Kamu sudah baca berita koran pagi ini, Sya?” tanyanya ketika kami bertemu di ruang makan. Alisnya seakan bertemu. Ibu cuma tersenyum-senyum. Demikian juga ketiga kakakku.
“Sudah.”
“Mau nekad?”
“Lihat dulu duduk perkaranya…”
“Apalagi?” Wajah Ayah kelihatan begitu garang.
“Ayah percaya Tasya bisa jaga diri?”
Perlahan-lahan kegarangan itu memudar, tetapi tetap juga tersisa kecemasan. Makan pagi itu sungguh tidak nyaman. Cuma karena perutku terlalu lapar, aku makan sepiring setengah.
Entah ada bisikan setan dari mana, setelah ditegur Ayah itu, aku malahan mbolos sekolah. Aku nyamperin Andre yang memang lagi suntuk. Tentang penangkapan itu, doi cuma bilang terperangkap dan nggak sempat menghindar. Setelah capek muter-muter kota Jakarta, akhirnya kami berdua nyasar ke Ciseeng.
“Kamu nggak takut dicari Ayah?” tanya Andre setelah menyedot minuman ringan kesayangannya.
Aku kaget betul. Kupandangi Andre dengan mata tak berkedip. Seakan aku tak percaya kalimat sempurna itu bisa keluar dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, HP-ku berdering…
“Pasti Ayah tuh…” kata Andre lagi.
“Siang, Ayah. … Tasya di Ciseeng sama Andre. Ayah keberatan? … Tidak, sama sekali tidak? … Kenapa? … Ayah sudah tahu siapa Andre? … Wah, Ayah payah, setelah tahu Andre anak atasan Ayah, restu Ayang langsung turun, empat ratus persen lagi. Bagaimana kalau sekarang Tasya yang buang patung gagu ini ke jurang? … Ya, dia memang manekin bisu! … Daag, cup sayang, Ayah!”
“Jangan bikin cemas orang tua, pulang yuk,” kata Andre pula.
“Kamu bisa juga bicara panjang?”
“Hanya kepada orang yang tepat saja.” Ada sinar menyejukkan menyorot dari matanya. Aku seakan merasa aman di dalam tatapan mata yang lembut tak menghunjam itu. Aku tak peduli apa latar Andre jadi pendiam. Aku yakin pada saatnya yang tepat nanti ia pasti akan cerita sendiri.
“Ndre, lihat tuh,” kataku setelah menghabiskan sisa minuman di botol dan beranjak keluar warung. Seraya mengeluarkan uang dan menyodorkannya ke mbak tukang warung, Andre melangkah pula untuk melihat apa yang kutunjukkan.
Di tembok luar warung itu, tertulis pesan simpatik, “Kembalilah, sebelum aku rindu!”
Teluk Bukit Merah Permai, 10 November 2003.11.30 WIB.