Puisi Martin Moentadhim Sri Marthawienata:
SAJAK-SAJAK
“RUMAH MUNGIL DI KAKI BUKIT”, III
(kepada nimas de’Exi Arshasi Sudhibyå)
17. “MENCOBA BANGKIT”
(entah telah berapa lama aku tertidur
begitu lelap
sejak kau hukum aku dengan harus membencimu
ketika bangun betapa kusut jiwaku
terlipat dalam absurditas degenerasi aku pikir[1]
mataku nanar
di mana-mana ada kau, kau, dan kau
akh, kau telah bangkit kembali, kasih!
kulihat kau berjalan debur ceria membayangimu
kupanjatkan do’a kepada Ållåh-ku
bagimu
bagi Soekarno[2]
barulah bagi diriku sendiri
yang tergeletak lelah di lapangan hijau
bagaikan bola bundar menggelepar
dan lewat ilusi indah akan “rumah mungil di kaki bukit”
: kucoba bangkit menatap gerbang almamater
aku belum terlalu tua, tokh?).
18. “AKU HARUS JADI MANUSIA APA?”
bagaikan melongok ke mulut meriam nan siap ledak
kujenguk pribadiku yang telah lama musnah
kukikis miris kukoyak mboyak kutetak muak[3]
kutanting kekuatan egoku yang telah lama pingsan
aku masih manusia!
bukan keledai pandir yang mengendap di bawah sadar
bukan kerbau goblok yang telah hilang nalar
bukan sapi perah yang cuma tahu arti pasrah
bukan muntahan meriam model Jean Paul Sartre[4]
bukan anak ayam bikinan Uncle Thomas Cabin[5]
aku manusia Indonesia!
yang terdidik gaya Jawa
yang bicara gaya Jawa
yang bernafas gaya Jawa
(tapi lucunya aku tak berblangkon
begitu bangga jika berjas-dasi
wah, soalnya sudah nggak musim sorjan, sih!)
melindungi otak dengan rambut gondrong memang tak perlu keluar uang
cuma sabar-tidak menunggu merekahnya waktu
kadang-kadang memang harus menguak sabar
dan bikin revolusi
di jalanan
di kantor
di WC
di urinoir
dan yang paling penting
bikin revolusi di otak dan semua bengkel otak[6]
huh! tidak semua manusia Indonesia calon manusia mesin
yang cuma tahu patuh dan “nyuwun dhawuh, gusti!”
ada juga calon manusia yang suka bikin konsep
ada juga calon manusia yang suka bikin perang
ada juga calon manusia yang psikopat
ada juga calon bayi abadi
ada juga calon bajingan budiman
ada juga calon pendeta
ada juga calon manusia patung
(cuma sekadar pelengkap! wah!)
dan kugaruk kepalaku yang tak gatal:
aku harus jadi manusia apa?
19. “REGENERASI”
ombak berkejaran
buihnya melepuh di tonggak sampan
gelombang air bengawan yang belakang menggantikan yang depan[7]
apa yang terpikirkan kala lipat tangan?
regenerasi?
biarkanlah terjadi dengan sendirinya
yang muda jangan mengharap kepagian
yang tua jangan mengharap kesiangan
berdamailah dengan waktu!
(tidak harus perang yang menamatkannya!)
20. “PERANG”[8]
masih ingat tentang perang?
perang tak kenal matahari terbit
dan embun menggantung di pucuk daun
perang tak kenal danau,
ranting yang menjulur ke air,
dan ikan kecil yang berlarian di selanya
perang itu peluru, kokang, tembak,
dan selongsong yang membentur batu
yang bunyinya menusuk telinga dan mengetuk kalbu
apa pun namanya: perang tetap perang
semua pihak hanya akan kalah, tak ada yang menang!
betapa bodoh ayah yang mengirimkan anaknya ke medan perang
lebih baik ia tembak mati anaknya dengan kepala dingin
nah, sematkan rasa kemanusiaan di dadamu.
21. “SAYANG, AKU HANYA PUNYA IDEA”
(sayang,
aku hanya punya idea
aku miskin dan hidup dari apa yang bisa kuraih hari ini!
aku tak mampu membangun benteng
aku tak mampu membangun candi
aku cuma mampu membangun jiwaku sendiri
menaklukkan depresi dan frustrasi
menghancurkan neurosis[9]
sungguh mati aku tak mau jadi korban tragi-komedi)[10].
22. “BANGKITKAN INGIN”
jika daun jatuh menimbuni batang tumbang
jika pelahan air hujan menghumuskannya
jika angin menjatuhkan benih
jika sehabis badai batang baru bertonjolan
: kenapa tak boleh berharap cinta sesama akan tumbuh?
jika lahar memerahkan yang hijau
jika lahar menumbangkan yang tegak
tapi waktu menegakkan yang tumbang
dan hidup menghijaukan yang kuning
: kenapa tak boleh berharap cinta sesama akan membara?
jika banjir/semilir angin/sepoi basah/menerpa wajah
sereda topan/bayangan tenang/lewat bencana/melela[11]
: kenapa tak boleh yakin segalanya akan tiba?
gusurlah segala resah, bangkitkan ingin
tiupkan nyala pada hati dan senyumlah
segalanya pasti akan datang dan membelai dalam kecerahan masa depan!
mBalun-Cepu, Sanggar Jangka Langit, 6 Januari 1980.
CATATAN KAKI:
[1] Entah telah berapa puluh kali sepanjang hidup, aku mengalami kekacauan sistem di benak dan perasaan seperti ini. Belakangan aku sadar bahwa itu semua karena ego yang terlalu besar dan terlalu menyala-nyala ingin menjadi besar. Akan tetapi, tidak bolehkah manusia bercita-cita? Betapa pun, mestinya aku tetap bertumpu pada satu titik tuju, yakni pijakan “hening dan tak terburu-buru”. Namun, mau tak mau aku harus mengaku: Ini mudah dikatakan, tapi tak mudah dilakukan, oleh manusia yang sudah mencapai tataran mapan sekali pun, apalagi kondisi setelah tumbangnya Orde Baru begitu memporak-porandakan. Semua orang seakan kuda lepas kendali, tak bisa lagi membedakan mana yang hak dan mana yang kewajiban, yang ada cuma tuntutan, lupa bahwa untuk menjadi warga negara orang harus menggadaikan sebagian kebebasan.
[2] Soekarno (h. 1901–1967) itu proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Ia lahir 6 Juni dengan nama kecil Kusno dari ayah Radèn Soekèmi Sosrodihardjo dan ibu dari kasta Brahmana Bali yang menikah secara Islam. Kesenangannya nonton wayang kulit semalam suntuk menyuntikkan “morfin” hasrat merdeka, yang kian berkobar oleh gagasan tentang Ratu Adil.
Ia lulus Europese Lagere School (sekolah dasar Eropa, ELS) pada tahun 1915. Ia melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya dan mondok di rumah tokoh Syarikat Islam (SI), Oemar Said Tjokroaminoto. Ia mulai terkenal ketika masuk Jong Java yang didirikan pada tahun 1915 dengan nama Tri Kårå Darmå (Tiga Kewajiban Mulia), yang dimaksudkan sebagai sayap pemuda Boedi Oetåmå. Ia belajar kenal dengan teori marxisme dari guru bahasa Jerman HBS, C. Hartogh, yang juga anggota Indische Sociaal-Democratische Veereniging (ISDV) dan ketika ISDV kian radikal, pada tahun 1917, mendirikan Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP). Ia tersembuhkan dari kosmopolitanisme berkat sahabat dekat Tjokroaminoto, Abdul Muis, dan setelah membaca “San Min Chu-I” (Tiga Prinsip Demokrasi) karya Sun Yat Sen pada tahun 1918.
Pada tahun 1921, lewat artikel di “Utusan Hindia”, ia menyerukan, “Sosialisme, komunisme, inkarnasi Vishnu Murti, bangkitlah di mana-mana! Hapuskan kapitalisme yang didukung imperialisme yang merupakan budaknya! Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada Islam agar berhasil …” Ia masuk Technische Hoge-school (THS, Sekolah Teknik Tinggi) Bandung pada tahun akademis kedua, 1921–1922, dan lulus sebagai insinyur (dengan gambar rencana instalasi pelabuhan) pada Juni 1926 dan menyatakan diri takkan akan menjadi pegawai pemerintah kolonial.
Pada tanggal 4 Juli 1927, ia mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang kemudian menjadi partai. Ia bekerja cepat dan pada tanggal 17 Desember 1927, partai tersebut tergabung dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang mencakup tujuh partai.
Pada 18 Agustus 1930, ia diadili bersama tiga tokoh lain di Bandung dengan tuduhan PNI memberontak. Ia dinyatakan bersalah Desember tahun itu dan dijatuhi hukuman penjara empat tahun, tetapi ia bebas 31 Desember 1931. Begitu bebas ia memperkenalkan apa yang disebutnya kaum marhaèn –orang kecil yang sebelumnya disebut kråmå– yang berkembang menjadi marhaèinisme, yang asasnya sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.
Setahun kemudian ia dipenjara lagi dan baru dibebaskan setelah “tobat” yang menggemparkan dan membuatnya kehilangan simpati kaumnya. Walaupun demikian, pada 17 Februari 1934, ia dibuang ke Flores, sedangkan pada 26 Februari 1934, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dibuang pula ke Boven Digul, Nieuw Guinea. Di Ende, ia bersurat-menyurat dengan A. Hasan, ketua Persatuan Islam (Persis) di Bandung. Pergaulannya dengan misionaris Kristen di sana juga kian memperkuat konsepnya tentang Tuhan. Pada Februari 1938, ia dipindahkan ke Bengkulu dan menjadi anggota Muhammadiyah yang didirikan pada 1912 oleh Kiai A. Dahlan yang bersimpati pada pada reformisme Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Abduh.
Pada tahun 1942, ia dipindahkan ke Padang, ketika Jepang sudah masuk Sumatera. Pada 17 Maret tahun itu di Bukittinggi, tempat asal Hatta dan Sjahrir, ia bertemu Kolonel Fujiyama untuk mencapai kesepakatan mencapai Indonesia melalui kerja sama dengan Dai Nippon. Tetapi, baru 9 Juli 1942, ia tiba kembali di Jawa melalui Bengkulu dan Palembang.
Pada 9 Maret 1943, ia membentuk gerakan baru bermakna ganda, Pusat Tenaga Rakyat, yang berarti mobilisasi bagi Jepang tetapi bermakna Putera bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan pada 7 Agustus 1945, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan pada 17 Agustus 1945, bersama Hatta, ia memproklamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selengkapnya baca Bernhard Dahm, “Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan”, Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Jakarta, cetakan pertama, 1987. Buku ini diterjemahkan oleh Hasan Basari dari Bernhard Dahm: “Sukarnos Kampf um Indonesiens Unabhangigkeit-Werdegang und Indeeneines asiatischen Nationalisten” – Frankfurt 1966, dalam “der Schriften des Instituts fur Asienkunde”, Volume XVIII, Hamburg.
[3] Sewaktu baris ini ditulis pada awal 1980-an, saya menggunakan istilah lokal “giris”, tetapi kemudian saya memutuskan menggantinya dengan “miris” setelah (Presiden kedua RI) Soeharto menggunakannya dan cukup berterima di kalangan masyarakat, sedangkan yang saya maksud dengan kata “mboyak” –ini juga istilah Jawa lokal Blora-Bojonegoro dan sekitarnya– ialah “acuh tak acuh” alias “cuek bebek” dalam bahasa prokem anak muda era 1990-an.
[4] Jean Paul Sartre (1905-1980) lahir di Paris. Ayahnya meninggal selagi ia kecil. Ia diasuh kakeknya, Charles Schweitzer, paman dokter Albert Schweitzer yang masyhur itu. Ia belajar di Ecole Normale Superieure, lalu mengajar di Perancis, belajar lagi di Jerman, serta menjadi tentara dan tawanan perang.
Setelah Perang Dunia II, ia menjadi sangat populer di Eropa. Eksistensialisme-nya menjadi gaya hidup. Ia bersimpati pada ajaran Karl Marx, tetapi mengecam praktiknya di negara komunis. Ia melawan politik Amerika Serikat di Vietnam. Ia tidak pernah menikah resmi. Simone de Beauvoir dianggap istrinya. Ia bersama Simone dan Maurice Merleau-Ponty menerbitkan majalah corong eksistensialisme, “Les Temps Modernes”.
Karyanya yang teoretis di antaranya “L’Etre et le Neant, essai d’Ontologie Phenomenologique” (Keberadaan dan ketiadaan, esei mengenai ontologi fenomenologis, 1943), “L’Existentialisme est un humanism” (Eksistensialisme itu humanisme, 1946), dan “Critique de la raison dialectique” (Kritik atas cara berpikir dialektis, 1960). Pada 1963, ia menolak Hadiah Nobel yang diberikan kepadanya berkat otobiografinya, “Le Mots” (Kata-kata, 1963). Pada akhir hidupnya, pengaruhnya merosot. Ia jadi paham eksistensialisme hanya kantung di dalam marxisme. Lihat Dr. Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Filsafat (LPPF) Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1983, halaman 107–110.
[5] Judul novel karangan Harriet Baker Stowe yang berarti Pondok Paman Thomas.
[6] Saya tidak akan pernah bosan mengimbau pemerintah Indonesia mana pun agar segera memperbaiki sistem pendidikan nasional, terutama memilih kurikulum: mana yang harus dibakukan dan mana yang harus diperbaharui setiap saat, khususnya membuang kebijakan Orde Baru lewat Pusat Perbukuan yang menjadikan bidang pendidikan sebagai ajang ekonomi, dengan cara mengganti buku pelajaran setiap kali kesempatan memungkinkannya. Betapa pun, mata pelajaran ilmu pengetahuan dasar (basic knwoledge) tidak pernah berubah. Bagi saya, yang lebih penting ialah meletakkan dasar berpikir kreatif dan tampaknya sebagian besar manusia Indonesia sependapat: ilmu hitung (aritmatika) lebih baik ketimbang matematika.
[7] Ini sebenarnya berasal dari ujar-ujar Cinå yang saya baca lewat cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang berarti “Gelombang air Sungai Tiangkang yang belakang menggantikan yang depan.”
[8] Bait ini telah saya tulis –setelah menonton sekian banyak film tragis akibat Perang Vietnam– jauh sebelum saya memilih bentuk rangkaian puisi sebagai catatan harian dan kumpulan inti pemikiran tentang apa pun dari waktu ke waktu.
[9] Dalam ilmu kedokteran, “neurosis” didefinisikan sebagai “gangguan emosi disebabkan oleh konflik dalam jiwa seseorang”. Lihat Clifford R. Anderson, M.D., Petunjuk Modern Kepada Kesehatan, Indonesia Publishing House (IPH), Bandung, cetakan kelima, 1975, halaman 419. Buku ini diterjemahkan oleh William Walean dari judul asli Modern Ways to Health, Southern Publishing Association, Amerika Serikat.
[10] Istilah “tragi-komedi” ini saya buat sendiri dari realitas bahwa sering peristiwa tragis bukannya membuat orang sedih dan bersimpati, melainkan menjadikan orang merasa geli, tertawa, dan kemudian malahan mencibir. Pada suatu masa dulu, saya bahkan memusatkan perhatian untuk menulis hal-hal seperti ini, terutama dalam bentuk puisi. Lihat bagian “Latar” dalam antologi ini (stt, bila kelak dapat terbit).
[11] Istilah “melela” ini jarang digunakan orang. Ada tiga makna mencakupinya: 1. tingkah laku atau gerak-gerik yang elok (indah, menyenangkan, …), 2. merajalela, 3. meriam kecil. Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua”, Perum Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, Jakarta, cetakan kedelapan, 1996, halaman 578.
Saya menggunakannya dalam bait ini untuk ketiga-tiga pengertian tersebut. Efektif atau tidak, saya tidak tahu. Itulah sebabnya saya bubuhkan catatan kaki ini.